Seorang nelayan, Delisman, 50 kepada Padang Ekspres, Kamis (17/10) mengungkapkan, sudah seminggu ini tidak bisa melaut karena angin kencang. “Sekarang perahu sudah dinaikkan ke daratan karena takut terbawa arus pasang,” ujarnya.
Akibatnya pendapatan nelayan menurun drastis. Biasanya, saat cuaca baik, penghasilan mereka antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per hari. Namun, kondisi saat ini, pendapatan mereka hampir tidak ada dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dampak gelombang pasang juga dirasakan oleh masyarakat sekitar, yakni Ema, 43. Ia menuturkan, sangat khawatir apabila kondisi semakin memburuk dan memberikan dampak ke kediamannya.
“Untuk sekarang belum ada kerugian material, tapi saat gelombang pasang, air bisa masuk ke dalam rumah. Kekhawatiran akan kerugian lebih lanjut membuat masyarakat semakin cemas, terutama saat musim hujan,” ucapnya.
Gelombang pasang yang sudah berlangsung hampir seminggu ini juga membawa sampah ke permukiman warga dan banyak berserakan di tepian pantai.
Warga berharap pemerintah lebih memperhatikan keadaan mereka, mengingat kondisi ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. “Kami berharap agar pemerintah turun ke lapangan untuk melihat dan memantau langsung bagaimana keadaan kami. Pemasukan nelayan saat ini bisa dikatakan tidak ada, jadi kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah,” tutupnya.
Terpisah, Koordinator Analisa dan Prakiraan BMKG Teluk Bayur Budi Iman Samiaji meminta masyarakat untuk tetap waspada dan menjauh dari bibir pantai.
“Kondisi cuaca yang ekstrem dapat menyebabkan abrasi, untuk itu kepada masyarakat di sekitar pantai agar lebih waspada,” katanya.
BMKG mengingatkan bahwa pada Oktober didominasi hujan, dan potensi hujan akan meningkat pada akhir pekan. Mereka akan terus memantau ketinggian gelombang dan memastikan situasi kembali normal dalam beberapa hari ke depan. (mg1, mg2, yud)
Editor : Adetio Purtama