Pada kesempatan itu, menu MBG yang disajikan untuk siswa adalah nasi dengan rendang ayam, ayam goreng, ayam bumbu, tempe, sayur berkuah, dan jeruk.
Kunjungan ini diawali dengan peninjauan ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Surau Gadang yang menjadi pusat pengolahan makanan untuk program MBG di wilayah tersebut.
Baca Juga: Gempa 7,6 SR di Filipina Tewaskan Satu Warga, Peringatan Tsunami Dicabut
Andre Rosiade menyebut, program MBG memberikan manfaat bagi tiga juta orang per hari di seluruh Indonesia. “Kita terus evaluasi agar program bagus ini tidak dihentikan,” kata Andre.
Ia menambahkan, negara lain butuh waktu hingga 10 tahun untuk merealisasikan program serupa, sedangkan Indonesia mampu menjalankannya hanya dalam satu tahun.
Menanggapi permintaan masyarakat agar satu sekolah memiliki satu dapur SPPG, Andre menyebut hal itu menjadi kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kalau ada aspirasi satu dapur untuk satu sekolah, sah-sah saja. Ini bisa jadi bahan evaluasi BGN,” ujarnya.
Andre juga menegaskan, dapur MBG yang terbukti menyebabkan keracunan akan dihentikan operasionalnya. Ia mengapresiasi fasilitas dapur MBG Nanggalo yang dinilai sudah memenuhi standar BGN.
“Kami berterima kasih kepada Pemko Padang di bawah arahan Pak Wali Kota yang aktif mengawasi SPPG. Padang kini punya 17 unit dan akan bertambah jadi 26 unit bulan ini,” ucap Andre.
Sementara itu, Fadly Amran menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga mutu dan keamanan pangan.
Baca Juga: Pasutri Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Penginapan Alahanpanjang, Sang Istri Meninggal Dunia
“Kami rutin meninjau dapur dan meminta Satgas MBG melakukan pengecekan acak agar mutu dan gizinya terjamin,” ujar Fadly.
Ia menambahkan, program MBG berdampak positif tidak hanya pada kesehatan masyarakat, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja baru.(edg)
Editor : Hendra Efison