Warga memanfaatkan kawasan sungai itu untuk menambang pasir, batu, dan kerikil secara tradisional.
Kegiatan ini juga sejalan dengan anjuran pihak terkait karena berfungsi membantu mencegah pendangkalan sungai, terutama pada musim kemarau.
Kawasan tersebut merupakan area penting yang berdekatan dengan bendungan, sehingga menjaga kedalaman sungai menjadi hal krusial.
Salah seorang penambang, Jeri (30), telah menggantungkan hidupnya dari aktivitas penambangan sejak usia 15 tahun. Ia bekerja setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 bersama sejumlah rekan.
“Kami kerja tiap hari, hasilnya untuk keluarga. Kendala kami itu di alat. Kalau arus besar, kami tidak bisa kerja maksimal,” ujarnya, Rabu (29/10/2025).
Hasil tambang dijual dengan harga sekitar Rp120 ribu per mobil pick-up dan dibagi rata di antara pekerja.
Jeri menuturkan, pekerjaan ini kerap terkendala arus deras dan keterbatasan alat pengeruk, sehingga seluruh proses masih dilakukan secara manual.
Para penambang masih memanfaatkan ban dalam mobil sebagai alat bantu mengangkut pasir dan kerikil dari tengah sungai ke daratan. Kondisi ini membuat pekerjaan memakan waktu dan tenaga ekstra.
“Kami berharap ada bantuan alat pengeruk kecil dari pemerintah supaya kerja lebih cepat dan hasilnya lebih banyak. Sungai juga tetap terjaga,” tambahnya.
Masyarakat berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap aktivitas penambangan tradisional ini. Bantuan peralatan dinilai dapat meningkatkan efisiensi kerja sekaligus menjaga keberlanjutan fungsi sungai dan bendungan di kawasan Gunung Nago. (Mengki Kurniawan/CR3)
Editor : Hendra Efison