Air niro disadap dari pohon enau pada pagi hari sebelum matahari terik. Cairan bening tersebut disaring lalu didinginkan dengan es batu, menghasilkan rasa manis alami yang menyegarkan tanpa tambahan bahan buatan.
“Air niro ini kami dapatkan dari Payakumbuh. Rasanya manis alami, dan saat ditambah es, jadi lebih segar diminum siang hari,” ujar Tia (20), pedagang es air niro di kawasan Masjid Raya Sumbar, Rabu (29/10/2025).
Tia menyebutkan, permintaan meningkat pada bulan Ramadan atau setelah aktivitas luar ruangan. Dalam sehari, ia bisa menjual puluhan gelas dengan harga Rp7.000 per porsi.
“Pembeli kebanyakan orang dewasa, tapi kadang remaja juga ada yang membeli,” tambahnya.
Salah satu pembeli, Amel (21), mengaku rutin menikmati es air niro karena rasanya segar dan harganya terjangkau. “Saya suka es air niro, selain menyegarkan juga ramah di kantong,” ujarnya.
Selain nikmat diminum, air niro dipercaya memiliki manfaat kesehatan seperti menurunkan panas dalam, menjaga stamina, dan menyeimbangkan cairan tubuh.
Tak heran, minuman ini sering disajikan pada berbagai acara adat dan keluarga di Minangkabau.
Meski tren minuman kekinian semakin berkembang, es air niro tetap bertahan sebagai simbol kesegaran alami dan warisan kuliner Minangkabau.
Kesederhanaannya menjadi daya tarik utama, mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga keaslian dan kearifan lokal dalam setiap tetes kesejukan dari alam. (M. Fikri Alfateh/cr5)
Editor : Hendra Efison