Pantauan Padang Ekspres, Minggu (7/12), sejumlah kapal nelayan tidak berani berlayar terlalu jauh. Gelombang tinggi, angin kencang, dan sisa material banjir berupa kayu yang hanyut hingga ke tengah laut menjadi faktor pembatas aktivitas mereka.
Imam, 53, nelayan Pantai Purus sekaligus ketua kelompok nelayan, menyebut penurunan tangkapan sudah terjadi hampir dua minggu. Cuaca hujan yang terus-menerus membuat kondisi laut tidak stabil.
Ia mengatakan, banyaknya kayu sisa banjir yang terbawa arus hingga ke tengah laut semakin memperbesar risiko. Jika dipaksakan, kayu-kayu itu dapat tersangkut baling-baling kapal dan merusak mesin.
Menurutnya, meski ikan banyak berada di area laut yang lebih jauh, risiko kerusakan mesin membuat nelayan memilih bertahan di area aman. Dampaknya, hasil tangkapan jauh menurun.
Pendapatan nelayan pun ikut terdampak. Jika biasanya seorang nelayan bisa membawa pulang hingga Rp500.000 per hari, kini hasilnya hanya separuh atau bahkan lebih rendah.
Amin, 63, nelayan lainnya, mengungkap faktor cuaca yang berubah-ubah di tengah laut menjadi persoalan paling berbahaya. Menurutnya, gelombang bisa tiba-tiba membesar sehingga membahayakan keselamatan.
Ia menambahkan risiko kerusakan mesin kapal menjadi beban tersendiri. Biaya perbaikan mesin yang tinggi membuat mereka enggan mengambil langkah berisiko.
Selain kondisi laut, penjualan ikan juga terpengaruh. Karena cuaca hujan, pedagang ikan tidak berani mengambil stok banyak. Penjualan harian biasanya menurun drastis saat cuaca buruk.
Jika nelayan membawa pulang hasil tangkap yang besar, pedagang belum tentu mampu menyerapnya. Kondisi ini membuat nelayan semakin berhati-hati dalam menentukan jumlah tangkapan.
Dalam kondisi serba tidak pasti, beberapa nelayan memilih mengisi waktu dengan memperbaiki peralatan melaut, jaring, ataupun kapal mereka. Aktivitas ini dilakukan sambil menunggu cuaca membaik.
Irul, 48, salah seorang nelayan, mengatakan ia kini memilih melaut lebih cepat dan tidak berlama-lama di tengah laut. Asal tangkapan dinilai cukup dan kondisi laut mulai kurang stabil, ia segera kembali ke darat.
Menurutnya, langkah itu lebih aman daripada memaksakan diri mengejar tangkapan yang lebih besar namun berpotensi menimbulkan kerugian.
Secara umum, faktor cuaca ekstrem yang belum stabil dan banyaknya material sisa banjir membuat nelayan Pantai Purus sepakat mengurangi jam melaut. Mereka memilih tidak ambil risiko demi menjaga keselamatan maupun kondisi kapal. (cr7)
Editor : Adetio Purtama