Laporan Reza Bayu, Padang—
Sejak awal berdiri, bengkel Mukiman memang ditujukan untuk melayani kebutuhan kendaraan mahasiswa. Ia sepenuhnya menyadari bahwa roda usahanya bergantung pada aktivitas kampus.
Ketika perkuliahan berjalan normal dan mahasiswa ramai, aktivitas bengkel pun ikut stabil. “Kalau kampus beraktivitas, mahasiswa ramai, bengkel kita stabil,” ujar Mukiman sambil tersenyum kepada Padang Ekspres, Selasa (9/12).
Namun, kondisi tersebut berubah drastis saat masa libur panjang atau cuti semester. Saat mahasiswa pulang ke kampung halaman, kawasan sekitar bengkel menjadi sepi dari lalu lalang kendaraan mahasiswa. “Tapi, ketika mahasiswa libur, bengkelnya sepi,” tambahnya.
Lebih dari sekadar tempat servis kendaraan, bengkel Mukiman dikenal memiliki sisi humanis yang kuat. Interaksinya yang intens dengan mahasiswa selama bertahun-tahun membuat hubungan antara pemilik bengkel dan pelanggan tidak sekadar transaksional, tetapi juga emosional.
Mukiman mengenang salah satu peristiwa yang membekas dalam ingatannya. Saat itu, seorang mahasiswa datang dengan kondisi motor yang membutuhkan penggantian suku cadang, namun terkendala biaya.
“Ada pernah mahasiswa yang mempunyai keluhan dengan motornya yang dia bawa ke bengkel ini, sparepart-nya mau diganti, namun duitnya kurang,” kenangnya.
Tanpa berpikir panjang, Mukiman memutuskan untuk meringankan beban mahasiswa tersebut dengan memperbolehkan pembayaran sebisanya. “Ya sudah kita setengah-setengah saja bayarnya barangnya,” ujarnya sambil tersenyum mengingat kejadian tersebut.
Ketangguhan bengkel Mukiman juga terlihat saat terjadi bencana alam di kawasan tersebut. Ketika Sungai Gunung Nago meluap dan membawa material berat yang merusak lingkungan sekitar, bengkel ini menjadi salah satu tempat tumpuan bagi warga yang kendaraannya terdampak banjir.
“Bengkelnya menerima empat kendaraan yang butuh diservis,” ungkap Mukiman. Kondisi kendaraan tersebut dipenuhi lumpur yang bahkan sudah mengenai rangka mesin, sehingga membutuhkan servis menyeluruh dengan penanganan ekstra hati-hati.
Bagi Mukiman, usahanya bukan semata tentang omzet dan suku cadang. Bengkel kecil di gerbang Unand itu ia jalankan dengan nilai empati, kepedulian, dan kesediaan untuk menolong sesama.
Selama bertahun-tahun, bengkel tersebut telah tumbuh berdampingan dengan komunitas kampus dan masyarakat sekitar, menjadi tempat bergantung bagi roda-roda yang bermasalah, baik karena perjalanan jauh maupun keterbatasan biaya. (*)
Editor : Adetio Purtama