Kondisi Sumatera Barat yang masih dalam pemulihan pascabencana memengaruhi pilihan aktivitas selama masa libur.
Sebagian mahasiswa memilih mengurangi aktivitas wisata dan lebih fokus pada kegiatan sederhana seperti pulang kampung, bekerja paruh waktu, hingga berdiskusi bersama rekan.
Muhammad Vito Rizkilah Aliva (22), mahasiswa Teknik Elektro asal Duri, Riau, mengatakan biasanya ia memanfaatkan libur Nataru untuk bepergian bersama teman ke Bukittinggi atau Solok.
Namun tahun ini, ia memilih langsung pulang kampung. “Melihat kondisi Sumbar yang masih pasca-bencana, saya lebih memilih balik kampung dan kumpul dengan keluarga,” ujarnya.
Pilihan serupa namun dengan alasan berbeda disampaikan Muhammad Duta Ramadhan (24), mahasiswa Sastra Inggris Unand.
Ia memutuskan tetap tinggal di Padang dan bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi di lingkungan kampus.
Menurutnya, keterbatasan akses jalan menuju kampung halamannya di Kabupaten Agam serta potensi kepadatan lalu lintas selama libur Nataru menjadi pertimbangan utama.
“Awalnya ingin pulang kampung, tapi karena akses jalan masih buka-tutup dan ramai, saya memilih tetap di Padang sambil bekerja,” kata Duta.
Sementara itu, Urfi Fadlul Khair (19), mahasiswa Ilmu Komunikasi asal Kabupaten Sijunjung, mengisi liburan Nataru dengan kegiatan diskusi bersama teman-temannya di lingkungan kampus.
Ia menyebut diskusi seputar logika, dialektika, dan filsafat menjadi cara produktif untuk memanfaatkan waktu luang selama libur panjang.
“Liburan justru memberi waktu lebih intens untuk diskusi. Kami manfaatkan untuk menambah wawasan,” ujarnya.
Urfi menilai kegiatan tersebut memberikan kepuasan tersendiri dibandingkan aktivitas hiburan semata. Ia juga berencana pulang kampung untuk menikmati liburan dengan aktivitas sederhana seperti berkebun.
Pilihan beragam mahasiswa Unand tersebut menunjukkan perubahan pola liburan Nataru, seiring kondisi pascabencana dan pertimbangan akses serta keselamatan.(CR4)
Editor : Hendra Efison