Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

"Dit is Een Hemel" Lembah Harau Disebut Surga

Jufri Jao • Sabtu, 20 Juni 2026 | 10:40 WIB
Pesona Air terjun di Lembah Harau (instagram.com/revalynarevaa dan instagram.com/ghaardi)
Pesona Air terjun di Lembah Harau (instagram.com/revalynarevaa dan instagram.com/ghaardi)

Gemuruh air memecah sunyi di kaki Sarasah Bunta. Percikannya berhamburan di antara dinding-dinding batu yang menjulang tinggi, seolah menjadi tirai alam yang tak pernah usai dipentaskan. Hampir seabad lalu, di tempat yang sama, seorang pejabat Belanda berdiri terpaku memandangi bentang alam yang tersaji di hadapannya. J.H.G. Boissevain, namanya.

Laporan : Jufri Jao

Konon, ketika pandangan­nya menyusuri tebing-tebing raksasa yang mengurung lembah hijau itu, ia berucap pelan, “Dit is een hemel (ini adalah surga) , “ ujarnya sambil bertolak pinggang dan barangkali cerutu yang masih terselip di sudut bibirnya.

Entah benar atau tidak kalimat itu pernah terucap, sebab kisah tersebut lebih banyak hidup dalam tradisi lisan masyarakat daripada catatan resmi kolonial. Namun cerita itu terus diwariskan dari gene­rasi ke generasi. Dari sanalah muncul sebutan Hemel Arau atau Surga Harau, sebuah ungkapan yang mencoba menerjemahkan kekaguman manusia di hadapan karya Sang Kuasa yang luar biasa.

Kekaguman itu pula yang di­ya­­kini melahirkan sebuah penanda sejarah. Pada 14 Agustus 1926, sebuah prasasti didirikan di kaki Sarasah Bunta. Batu bertulis itu masih berdiri hingga hari ini, menjadi saksi bisu ketika Lembah Harau mulai diperkenalkan sebagai destinasi wisata alam pada masa Hindia Belanda. Artinya Jauh sebelum nama Lembah Harau menghiasi brosur-brosur wisata dan media sosial, J.H.G. Boissevain telah lebih dahulu membawa kisah tentang lembah batu yang memukau itu ke tanah Belanda. Dari mulut ke mulut, dari catatan ke catatan, bukan mustahil pesona Harau juga menyeberangi lautan dan dikenal hingga ke daratan Eropa.

Prasasti tersebut bukan sekadar peninggalan kolonial. Ia ada­lah penanda sebuah zaman ketika keindahan alam Nusantara mulai dipromosikan sebagai rua­ng rekreasi. Namun Harau tak membutuhkan prasasti untuk membuktikan pesonanya.

Lembah yang berada di Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota itu telah lebih dahulu menulis kisahnya sendiri melalui tebing-tebing granit yang menjulang antara 100 hingga 500 meter. Dari dasar lembah, dinding batu itu tampak seperti benteng raksasa yang mengawal hamparan sawah hijau dan aliran sungai yang tena­ng. Warna batuannya yang bera­gam, dari keabu-abuan hingga kemerahan, menciptakan panorama yang berbeda setiap kali matahari bergeser.

Di sela-sela tebing itulah air turun dari ketinggian. Sarasah Bunta menjadi yang paling dikenal. Air terjun setinggi sekitar 180 meter itu mengalir tanpa henti dari dataran tinggi, memecah batu-batu tua yang telah berjuta tahun berdiri. Ketika cahaya matahari menyentuh butiran airnya, pelangi tipis kerap muncul sejenak sebelum kembali menghilang bersama embun.

Selain Sarasah Bunta, ter­da­pat­ pula Sarasah Murai yang dikenal karena kicauan burung murai yang dahulu sering terdengar di sekitarnya. Ada Sarasah Akar Berayun yang mudah dijangkau wisatawan, hingga Sarasah Aie Luluih yang tersembunyi di balik rimbun pepohonan. Setiap air terjun memiliki cerita dan karakter­nya masing-masing, namun semuanya bermuara pada satu kesan yang sama menakjubkan.

Harau juga menjadi surga bagi para petualang. Tebing-tebing curamnya yang nyaris tegak lurus telah lama menarik perhatian para pemanjat dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Ratusan jalur panjat tersebar di kawasan ini, menjadikan Harau salah satu arena panjat tebing alam terbaik di Indonesia. Tak sedikit yang kemudian menjulukinya sebagai Yosemite-nya Indonesia.

Meski demikian, Harau bukan hanya milik para pencari adrenalin. Mereka yang datang untuk sekadar berjalan kaki menyusuri pematang sawah, menikmati uda­ra pegunungan, atau duduk diam memandangi kabut pagi yang menari di sela tebing, akan menemukan alasan mereka sendiri untuk jatuh cinta.

Meskipun begitu, kita masih bisa menemukan masyarakat yang bersahaja.  Duduk di kedai kopi sambil maota lamak sebelum pergi beraktifitas. Rasakan suasana pedesaan dengan penduduknya yang ramah. Dan tak jarang kita menemukan pendu­duknya berjalan usai shalat Subuh­ menyusuri jalan di sepanjang kawasan Lembah Harau.  “Mangopi dulu wak, duduak siko dulu,” ujar salah seorang warga ter­sen­yum tulus sedang minum kopi di sebuah kedai tepi jalan.

Di sepanjang jalan menuju Harau, mata dimanjakan bentangan sawah yang menghijau, sementara tebing-tebing batu perlahan muncul di kejauhan, seolah menyambut setiap pengunjung yang datang. Bagi pengunjung  ya­ng­ ingin bermalam, di sepanjang jalan menuju Lembah Harau banyak ditemukan penginapan dengan harga yang bervariasi mulai dari 150 ribu sampai dengan 2 juta per malam. Dan jangan takut juga soal makan, pengunjung akan menemukan cafe dan resto di sepanjang jalan.

Luas Lembah Harau mencapai sekitar 270,5 hektare. Lokasi­nya hanya sekitar 15 kilometer dari Kota Paya­kumbuh dan dapat­ ditempuh dengan mudah dari Bukittinggi maupun Padang. Namun jarak bukanlah hal yang paling­ diingat dari Harau. Yang tinggal dalam ingatan adalah rasa kecil yang muncul ketika berdiri di bawah tebing-tebing raksasa itu, mendengar suara air yang jatuh dari langit, lalu menyadari bahwa alam CiptaanNya me­nam­­pilkan  keindahan yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.   Manuasia tidak ada apa-apanya,  hanya Allah yang maha kuasa.

Mungkin itulah yang dirasakan Boissevain hampir seabad silam. Atau mungkin, siapa pun yang berdiri di hadapan Harau akan mengucapkan kalimat yang sama.

Dit is een hemel.

Ini adalah surga.

Lalu, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustai. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#wisata Sumatera Barat #Lembah Harau