PADEK.JAWAPOS.COM-Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Bonjol memasuki tahap penting, yakni parklane atau tahap awal pengeboran.
Dalam sosialisasi persiapan Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) oleh PT Medco Geothermal Sumatera (MGSu), Bupati Pasaman Welly Suhery menegaskan pentingnya mengelola dinamika sosial dan hukum dengan bijak.
“Permasalahan yang muncul harus diklasifikasikan dan diselesaikan satu per satu. Jangan digeneralisasi. Prinsipnya, perusahaan tetap beroperasi, masyarakat jangan sampai dirugikan, dan semua harus sesuai hukum,” tegas Welly dalam arahannya di Aula Kantor Camat Bonjol, Rabu (11/6).
Ia menyoroti pentingnya investasi sebagai penopang pembangunan daerah, di tengah menurunnya Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat akibat efisiensi APBN.
“Pasaman butuh investasi untuk pembangunan yang berkelanjutan. Tapi stabilitas daerah juga harus dijaga. Mari kita cari solusi bersama. Investor diuntungkan, masyarakat pun mendapat manfaat,” ujar Welly.
Atas nama pemerintah daerah, ia menyampaikan terima kasih kepada PT Medco Geothermal Sumatera yang telah berinvestasi di Pasaman. Ia juga meminta perusahaan agar memprioritaskan tenaga kerja lokal, khususnya dari Bonjol.
“Saya sudah bicara langsung dengan Direktur PT Medco, agar tenaga kerja lokal Pasaman, terutama Bonjol, diprioritaskan dalam pelaksanaan proyek,” tegasnya.
Site Manager PT MGSu, Sigit Widiatmoko, mengungkap bahwa proyek ini sebenarnya direncanakan mulai beroperasi sejak 2019. Namun akibat pandemi Covid-19, aktivitas baru dapat dimulai pada November 2023.
“Dimulai dengan pengambilan data lapangan, dilanjutkan sosialisasi pembebasan lahan pada Maret 2024, dan pembangunan akses jalan menuju lokasi pengeboran pada Desember 2024,” jelas Sigit.
Kini, proyek memasuki tahap parklane, yaitu titik awal pengeboran pertama untuk mengetahui tekanan uap dan potensi suhu panas bumi.
Energi panas bumi Bonjol diproyeksikan memiliki suhu maksimal 150 derajat Celcius, dikategorikan sebagai medium-low enthalpy, dan berpotensi menghasilkan listrik hingga 35 kV (35.000 Volt).
“Energi uap ini akan digunakan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Namun prosesnya panjang, diperkirakan selesai pada 2032,” tambahnya.
Dua titik pengeboran direncanakan: Bonjol 1 (Kampung Tampang) dan Bonjol 3 (Sungai Limau). Pembangunan tapak sumur dimulai sejak Maret lalu, termasuk pembangunan kolam pengolahan limbah lumpur hasil pengeboran.
Kedalaman pengeboran tahap awal mencapai 1 km ke dalam perut bumi. Sosialisasi yang digelar Rabu siang itu juga diisi dengan forum diskusi antara masyarakat dan pihak PT MGSu, dimediasi oleh Pemkab Pasaman.
Forum ini menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi, menyelesaikan persoalan yang belum tuntas, serta menyampaikan transparansi progres proyek kepada masyarakat.
Diskusi yang berlangsung cukup alot ini turut dihadiri langsung oleh Bupati Pasaman, Kepala OPD teknis, LKAAM Kabupaten Pasaman, Camat dan unsur Forkopimca, para Wali Nagari se-Kecamatan Bonjol, Ketua KAN, Ketua Bamus, Ninik Mamak, tokoh masyarakat, serta unsur pemuda Nagari Ganggo Mudiak. (wni)
Editor : Novitri Selvia