Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kekeringan, Petani Beralih Tanam Jagung

Syamsu Ridwan • Senin, 13 Juli 2026 | 08:15 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM -- Krisis pasokan air yang melanda lahan pertanian di Kecamatan Lampasi Tigo Nagari (Latina), Kota Payakumbuh, dalam beberapa bulan terakhir memaksa para petani mengubah pola tanam.

Demi menjaga lahan te­tap produktif, sebagian pe­tani di Kelurahan Sungai Du­rian dan Parik Muko Aia memilih mengganti tanaman padi dengan jagung.

Perubahan komoditas ter­sebut dilakukan sebagai langkah bertahan di tengah keterbatasan air yang dinilai tidak lagi mencukupi kebutuhan budidaya padi.

Namun, harapan untuk memperoleh hasil yang le­bih baik belum sepenuhnya terwujud karena harga jual jagung di tingkat petani justru mengalami penurunan.

Dalam dua pekan terakhir, harga jagung tercatat berada di kisaran Rp 6.000 per kilogram, turun dari harga normal yang biasanya ber­kisar antara Rp 6.500 hingga Rp 7.000 per kilogram.

Salah seorang petani di Kecamatan Latina, Amri, me­ngatakan peralihan ke tanaman jagung dilakukan karena pasokan air untuk sawah semakin terbatas. “Kami terpaksa beralih menanam jagung sejak bebe­rapa bulan lalu karena pasokan air untuk lahan pertanian sa­ngat terbatas,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Masril, petani asal Kelurahan Sungai Durian. Menurutnya, harga jagung saat ini belum mampu memberikan keuntungan yang sepadan dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan petani.

Ia menjelaskan, hasil pa­nen jagung selama ini menjadi salah satu sumber pasokan utama bahan baku pakan ternak ayam di wilayah sekitar. Karena itu, petani berharap harga kembali membaik agar usaha pertanian tetap memberikan keuntungan. “Ideal­nya, kami berharap harga jual jagung bisa kem­bali naik minimal di angka Rp 7.000 per kilogram agar keuntungan petani bisa lebih terasa,” kata Masril.

Di tengah penurunan har­ga hasil panen, petani menga­ku masih mendapat sedikit ke­ringanan dari kebijakan peme­rintah terkait penuru­nan harga pupuk bersubsidi yang mulai diberlakukan sejak ak­hir tahun lalu.

Menurut Amri, kebijakan tersebut membantu mengura­ngi biaya produksi sehi­ngga beban petani tidak semakin berat di tengah kondisi kekeringan. “Kami sangat terbantu dengan turunnya harga pupuk bersubsidi ini. Setidaknya bisa memangkas biaya modal di tengah situasi sulit air,” ujarnya.

Meski demikian, para pe­tani berharap pemerintah daerah dapat melakukan eva­luasi terhadap mekanisme penyaluran pupuk bersubsidi. Mereka menilai akses memperoleh pupuk bersubsidi masih perlu diperluas agar tidak hanya dinikmati oleh petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Keltan).

Masril berharap petani ya­ng belum menjadi anggota ke­lompok tani juga memperoleh kemudahan dalam mengakses pupuk bersubsidi, sehingga seluruh petani memiliki kesempatan yang sama untuk menekan biaya produksi.

“Kami berharap ke depan pembeliannya bisa lebih mu­dah. Petani yang belum atau tidak ikut bergabung dalam kelompok tani juga seharusnya bisa dibantu untuk men­dapatkan pupuk bersubsidi dengan gampang,” tuturnya.

Para petani berharap kon­­disi pasokan air dapat segera membaik sehingga mereka dapat kembali menanam pa­di. Di sisi lain, stabilitas harga hasil panen dan kemudahan memperoleh sarana produksi dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha pertanian di Kecamatan Lampasi Tigo Nagari. (rid)

Editor : Adriyanto Syafril
#sawah kekeringan #musim kemarau #kebun jagung