Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Deteksi Boraks pada Bakso dengan Kit Kertas Kunyit

Adetio Purtama • Jumat, 24 Oktober 2025 | 18:50 WIB

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Program Studi Ilmu Biomedis Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) melaksanakan kegiatan edukasi.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Program Studi Ilmu Biomedis Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) melaksanakan kegiatan edukasi.
PADEK.JAWAPOS.COM—Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Program Studi Ilmu Biomedis Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) melaksanakan kegiatan edukasi bertajuk “Edukasi Bahaya Boraks terhadap Kesehatan pada Masyarakat di Kecamatan Nanggalo Padang dan Cara Mengidentifikasinya di dalam Bakso dengan Kit Kertas Kunyit”.

Kegiatan digelar di Kelurahan Suraugadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, dan dihadiri oleh puluhan ibu-ibu kader serta bundo kanduang.

Wilayah tersebut dipilih karena berdasarkan hasil penelitian mahasiswa Fakultas Kedokteran Unand, Kecamatan Nanggalo termasuk salah satu kawasan dengan kasus penggunaan boraks tertinggi dalam pembuatan bakso.

Pengabdian masyarakat ini dihadiri oleh Lurah Suraugadang, Indriyani, S.SiT, Ketua Babinsa Dahrul, serta Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Nanggalo, Afriwaldi. Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Pengmas Dra. Elmatris Sy, MS, dengan Wakil Ketua Dr. Almurdi, M.Kes.

Narasumber utama, dr. Rauza Sukma Rita, PhD, memberikan materi mengenai bahaya boraks terhadap kesehatan, sementara Dra. Elmatris Sy, MS menjelaskan pembuatan kit kertas kunyit dan cara sederhana mendeteksi kandungan boraks pada makanan seperti bakso.

Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Program Studi Ilmu Biomedis, Dr. Dessy Arisanty, M.Sc, bersama sejumlah dosen Fakultas Kedokteran Unand, di antaranya Prof. Dr. Eti Yerizel, MS, Prof. Dr. Elly Usman, Apt, MSi, Dr. Hasmiwati, M.Kes, Dr. Adrial, M.Kes, Dra. Dian Pertiwi, MS, dr. Mohamad Reza, PhD, serta Nia Ayuni Putri, S.Si, M.Biomed. Kegiatan turut didukung oleh tenaga laboran, staf administrasi, dan mahasiswa Program Studi Ilmu Biomedis.

Dalam pemaparannya, dr. Rauza menjelaskan bahwa penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) seperti boraks harus diwaspadai karena dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Meski boraks dapat membuat makanan tampak lebih menarik dan tahan lama, zat ini tergolong toksik dan berbahaya jika dikonsumsi.

“Boraks sebenarnya digunakan dalam industri non-pangan seperti pembersih, fungisida, herbisida, dan insektisida. Jika dikonsumsi melalui makanan seperti bakso, tahu, atau mie basah, boraks bisa menyebabkan keracunan, gangguan hati, ginjal, otak, dan bahkan menghambat perkembangan kecerdasan anak,” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu ciri bakso yang mengandung boraks adalah teksturnya yang kenyal berlebihan dan tidak mudah hancur. Untuk mendeteksi kandungan boraks dengan mudah di rumah, masyarakat dapat menggunakan kit kertas kunyit yang dibuat dari bahan alami.

Dalam demonstrasi yang dipandu oleh Dra. Elmatris Sy, MS, peserta diajarkan cara membuat kit kertas kunyit, mulai dari menyiapkan kunyit segar, mengekstrak cairannya, hingga mencelupkan kertas saring ke dalam larutan kunyit tersebut. Setelah dikeringkan, kertas tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi adanya boraks.

“Jika setelah ditotolkan bahan makanan warna kertas berubah menjadi kuning kecoklatan, maka makanan tersebut positif mengandung boraks. Namun, jika warnanya tetap kuning, berarti makanan itu aman,” jelas Elmatris.

Dari hasil survei sebelum pelaksanaan kegiatan, diketahui bahwa hanya 6,25 persen (4 orang) dari peserta yang pernah mendengar tentang bahaya boraks, dan 92,2 persen (59 orang) tidak mengetahui cara mendeteksinya. Setelah kegiatan selesai, seluruh peserta—100 persen dari 64 orang yang hadir—telah memahami bahaya boraks dan mampu mendeteksi kandungannya di makanan dengan metode kit kunyit.

Ketua Program Studi Ilmu Biomedis, Dr. Dessy Arisanty, M.Sc, mengapresiasi antusiasme para ibu-ibu kader dan bundo kanduang dalam mengikuti kegiatan ini. Ia berharap peserta dapat meneruskan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.

“Kami berharap edukasi ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bersama agar masyarakat lebih selektif dalam memilih makanan. Ibu-ibu kader dan bundo kanduang memiliki peran penting dalam meneruskan pengetahuan ini kepada keluarga dan anak-anak di sekitar mereka,” ujarnya.

Kegiatan pengabdian ini terbukti memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya bahan tambahan pangan berbahaya seperti boraks. Tim Pengmas Fakultas Kedokteran Unand berencana melanjutkan program serupa di wilayah lain yang memiliki potensi tinggi penggunaan boraks pada makanan olahan. (*)

Editor : Adetio Purtama
#boraks #kunyit #bakso #deteksi