Dalam forum tersebut, Prof. Didik menyoroti terjadinya distorsi fungsi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), khususnya PTN Berbadan Hukum (PTNBH), yang dinilai semakin menjauh dari peran sebagai pusat riset dunia.
Ia menyebut PTNBH saat ini lebih menyerupai industri kursus kuliah massal akibat dorongan untuk mencari pendapatan sendiri guna menutup biaya operasional.
Ledakan Mahasiswa Baru dan Pergeseran Orientasi PTN
Prof. Didik memaparkan data penerimaan mahasiswa baru di sejumlah PTN yang dinilainya sudah melampaui batas rasional pengelolaan mutu akademik.
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tercatat menerima hingga 26 ribu mahasiswa dalam satu tahun, sementara Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada masing-masing berada di kisaran 18 ribu mahasiswa.
“PTN dengan model PTNBH mengalami transformasi menyimpang dari orientasi kualitas menuju ranking global menjadi industri kursus kuliah massal,” tegasnya di hadapan anggota Komisi X DPR RI.
Menurut Prof. Didik, kondisi tersebut membuat PTN lebih berfungsi sebagai penyerap lulusan SMA dalam jumlah besar, bukan sebagai produsen ilmu pengetahuan yang berbasis riset dan inovasi.
Ia menilai sangat sulit mendorong keunggulan riset nasional jika universitas hanya berperan sebagai teaching university yang mengandalkan pemasukan dari jumlah mahasiswa.
Daya Saing Global Rendah dan Ketimpangan PTN-PTS
Dampak kebijakan tersebut, lanjut Prof. Didik, tercermin pada rendahnya daya saing global perguruan tinggi Indonesia yang hingga kini belum menembus peringkat 100 besar dunia.
Sebagai perbandingan, National University of Singapore berada di peringkat 8 dunia dan Nanyang Technological University di peringkat 12, dengan jumlah mahasiswa yang lebih terkendali untuk menjaga mutu.
Ia juga menyoroti ketimpangan tidak sehat antara PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), di mana 125 PTN menampung sekitar 3,9 juta mahasiswa, sementara peran kampus masyarakat sipil semakin terpinggirkan.
Dalam RDPU tersebut, Prof. Didik mengusulkan pembatasan terencana jumlah mahasiswa S1 melalui penetapan student cap nasional, penguatan peran riset PTN, serta insentif sistemik bagi PTS agar keseimbangan ekosistem pendidikan tinggi dapat terjaga.(*)
Editor : Hendra Efison