Usaha ini berkembang dari aktivitas rumahan menjadi sumber pendapatan tambahan berbasis pesanan.
Yasmin mulai belajar merajut pada 2022. Ia mempelajari teknik dasar seperti cara memegang jarum dan pengenalan pola rajut.
Proses tersebut sempat terhenti. “Akhirnya saya menyerah setelah 1–2 bulan karena merasa sulit,” ujar Yasmin, Sabtu (22/11/2025).
Pada 2024, Yasmin kembali mempelajari keterampilan merajut setelah terpapar konten produk rajutan di media sosial, khususnya TikTok. Ia kemudian menguasai teknik Single Crochet (SC), Double Crochet (DC), dan Treble Crochet (TC).
Berbekal penguasaan teknik tersebut, Yasmin memproduksi beragam produk seperti amigurumi, tas rajut, dan kardigan.
Dari unggahan karyanya di media sosial, permintaan mulai datang dari lingkaran terdekat.
Usaha Nesa Store kemudian dibentuk dan dijalankan secara mandiri, mulai dari desain hingga produksi.
Dalam beberapa bulan, usaha ini mencatatkan keuntungan lebih dari Rp1 juta sebagai penghasilan tambahan.
Strategi pemasaran utama dilakukan melalui Instagram Stories untuk menampilkan produk dan menjangkau calon pembeli.
Yasmin juga menerapkan sistem custom order. Konsumen dapat menentukan warna, bahan, ukuran, dan bentuk produk melalui komunikasi langsung. “Pelanggan bisa custom dan konsultasi,” kata Yasmin.
Selain aspek bisnis, Yasmin menyebut aktivitas merajut membantu meningkatkan fokus dan mengurangi penggunaan ponsel. “Merajut membantu saya lebih tenang dan fokus,” ujarnya.
Usaha Nesa Store menunjukkan pemanfaatan keterampilan kriya sebagai peluang usaha rumahan oleh generasi muda berbasis media sosial. (CR3)
Editor : Hendra Efison