Mengutip data dari laman Radana pada Kamis (8/1/2026), malam pergantian tahun yang dikenal dengan istilah Chúxī merupakan momen sakral bagi masyarakat Tionghoa untuk merefleksikan diri.
Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek bukan sekadar pesta meriah, melainkan momen bersyukur atas keberhasilan yang telah dicapai sepanjang tahun lalu. Sekaligus, perayaan ini menjadi waktu yang dianggap paling tepat untuk memohon keberuntungan dan harapan baru di masa depan.
Di Indonesia, tradisi Imlek terus dijaga secara turun-temurun sebagai kewajiban moral untuk menjaga kelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.
Berikut adalah 10 tradisi Tahun Baru Imlek di Indonesia yang sarat akan makna dan filosofi:
- Ritual Bersih-Bersih Rumah
Sebelum puncak perayaan, masyarakat akan membersihkan rumah secara menyeluruh. Hal ini dilakukan untuk membuang segala keburukan yang dianggap menghalangi jalan masuknya keberuntungan.
Uniknya, saat perayaan berlangsung, debu atau kotoran dilarang dibuang ke luar rumah karena dipercaya dapat mengurangi kemakmuran penghuninya.
- Dominasi Dekorasi Warna Merah
Warna merah identik dengan identitas Imlek, mulai dari pakaian hingga ornamen rumah. Secara filosofis, merah melambangkan kesejahteraan, keberuntungan, dan kekuatan.
Selain itu, warna ini dipercaya mampu mengusir makhluk buas sejenis Nian yang kerap muncul pada musim semi atau menjelang Tahun Baru Imlek.
- Jamuan Hidangan Khas
Setiap wilayah memiliki variasi kuliner, namun umumnya tersedia 12 jenis makanan yang merepresentasikan 12 shio. Menu wajib seperti kue lapis melambangkan rezeki berlapis, sementara mie panjang menjadi simbol panjang umur.
Ada pula kue keranjang dan permen sebagai simbol kehidupan yang manis. Namun, terdapat pantangan keras untuk mengonsumsi bubur karena dianggap melambangkan kemiskinan.
- Pantangan Membalik Ikan
Saat menyantap ikan, terdapat aturan tidak tertulis untuk tidak membalik tubuh ikan. Masyarakat hanya memakan satu sisi dan menyisakan bagian lainnya untuk keesokan hari. Kebiasaan ini dipercayai sebagai metode tradisional untuk mendatangkan rezeki yang berkelanjutan.
- Tradisi Mengunjungi Keluarga
Silaturahmi menjadi inti dari perayaan ini. Berkumpul dan mengunjungi kerabat dekat bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan serta menikmati momen kedekatan bersama keluarga besar.
- Pembagian Angpao
Tradisi yang paling dinantikan kaum muda ini memiliki aturan khusus: hanya diberikan oleh mereka yang sudah menikah kepada keluarga atau kerabat yang masih lajang. Angpao merupakan simbol pemberian rezeki, di mana nominalnya disarankan mengandung angka delapan guna mengundang keberuntungan lebih besar.
- Ritual Sembahyang
Bagi masyarakat Tionghoa beragama Buddha dan Khonghucu, sembahyang di klenteng atau di depan altar rumah adalah hal wajib. Prosesi ini ditujukan untuk mendoakan leluhur dengan menyajikan berbagai persembahan seperti buah-buahan, kue, hingga daging.
- Doa untuk Turunnya Hujan
Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, hujan saat Imlek adalah pertanda baik. Turunnya air dari langit dianggap sebagai pembawa rezeki dan kemakmuran yang akan melimpah di tahun yang baru.
- Atraksi Barongsai
Seni akrobatik barongsai bukan sekadar hiburan. Berdasarkan sejarahnya, singa ini digunakan untuk menakuti monster di dataran China. Hingga kini, barongsai tetap menjadi simbol kebahagiaan, pengusir roh jahat, dan pembawa keberuntungan.
- Petasan dan Kembang Api
Suara gaduh dari petasan gulungan kertas merah dan kembang api dipercaya efektif untuk menakuti roh jahat serta mengusir nasib buruk dari tahun sebelumnya, sekaligus menandai semaraknya tahun yang baru. (CC1)
Editor : Adetio Purtama