Pantauan di lokasi menunjukkan masjid yang berada di pusat kota tersebut ramai dikunjungi jamaah, khususnya pada waktu siang hari.
Selain menjalankan ibadah salat, sejumlah pengunjung terlihat memanfaatkan suasana masjid untuk menenangkan diri di tengah cuaca terik.
Masjid Raya Sumbar dikenal memiliki desain arsitektur atap bagonjong khas Minangkabau dengan ruang utama yang luas dan sirkulasi udara terbuka.
Kondisi tersebut membuat suhu di dalam masjid tetap terasa sejuk meski cuaca panas.
Salah seorang jamaah, Har (51), pegawai kantor di sekitar kawasan masjid, mengaku rutin melaksanakan salat zuhur di Masjid Raya karena jaraknya dekat dari tempat ia bekerja.
“Saya sering salat zuhur di sini karena kantor tidak jauh dari Masjid Raya. Atmosfernya terasa berbeda,” kata Har saat ditemui, Selasa (3/2/2026).
Menurut Har, desain ruang tanpa banyak sekat serta aliran udara yang baik membuat suasana di dalam masjid nyaman untuk beribadah maupun beristirahat sejenak.
Ia mengatakan, waktu sekitar 15 hingga 30 menit berada di masjid sudah cukup untuk membantu memulihkan energi sebelum kembali bekerja.
“Suasananya sejuk dan nyaman. Cocok untuk beribadah sekaligus melepas penat dari pekerjaan,” ujarnya.
Selain beribadah, Har juga memanfaatkan area teras masjid untuk bersilaturahmi dengan rekan kerja.
Area luar masjid yang teduh menjadi tempat singgah sementara bagi jamaah sebelum kembali beraktivitas.
“Kadang juga duduk sebentar berbincang dengan teman-teman di sini,” ucapnya.
Keberadaan fasilitas yang terjaga kebersihannya serta lokasi yang strategis di kawasan perkantoran menjadikan Masjid Raya Sumbar mudah diakses oleh masyarakat.
Hingga siang hari, arus jamaah terpantau berjalan tertib. Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang singgah sementara bagi warga yang beraktivitas di pusat Kota Padang. (cr3)
Editor : Hendra Efison