Peristiwa ini tercatat dalam buku 100 Tahun PT Semen Padang sebagai bagian penting sejarah industri dan perang di Sumatera Barat.
Pada Maret 1942, tentara Jepang bergerak dari Aceh dan Medan melalui jalur darat hingga Bukittinggi.
Dari wilayah tersebut, pemerintahan militer Jepang atau Gunseibu mengambil alih kendali atas Sumatera Barat.
Awal April 1942, Kolonel Fujiyama dikirim ke Padang untuk melakukan serah terima kekuasaan dari Residen Belanda.
Setelah itu, pasukan Jepang bergerak menuju Indarung, lokasi pabrik semen NV Nederlandsch-Indische Portland Cement Maatschappij yang menjadi cikal bakal PT Semen Padang.
Pengambilalihan Pabrik dan Awal Masa Pendudukan
Saat tiba di Indarung, Jepang mendapati pabrik dalam kondisi sunyi. Aktivitas produksi telah berhenti total dan para buruh tidak lagi berada di lokasi.
Sebelumnya, kawasan Indarung dan Pelabuhan Teluk Bayur kerap menjadi sasaran pemboman. Kondisi tersebut membuat karyawan ketakutan dan pengapalan semen terhenti selama berbulan-bulan.
Kedatangan Jepang menandai dimulainya periode kelam. Staf kulit putih beserta keluarga mereka dikumpulkan, dipindahkan, dan diinternir oleh pemerintahan militer Jepang.
Di sekitar Indarung, serdadu KNIL Belanda bahkan dieksekusi di kawasan Gadut. Situasi ini memperlihatkan perubahan drastis kekuasaan dan keamanan di wilayah tersebut.
Dengan bantuan karyawan Indonesia, terutama Doesoen Malin Kayo yang memegang kunci pabrik, Jepang menghidupkan kembali fasilitas produksi. Pada Agustus 1942, pabrik kembali beroperasi.
Asano Cement dan Dampak Perang
Nama pabrik diubah menjadi Asano Cement, kemudian dikenal sebagai Pabrik Semen Indarung. Seluruh simbol dan penggunaan bahasa Belanda dihapuskan.
Produksi semen difokuskan untuk kepentingan ekonomi perang Jepang. Semen Indarung digunakan untuk membangun benteng, jembatan, dan infrastruktur militer di Indonesia serta Asia Tenggara.
Pada 24 Agustus 1944, Indarung kembali menjadi target serangan. Sekitar 40 pesawat pembom Sekutu menyerang secara besar-besaran dan menjatuhkan ratusan ton bom.
Akibat serangan tersebut, pabrik mengalami kerusakan berat. Sedikitnya 19 buruh tewas di sebuah lubang perlindungan, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Setelah serangan itu, Jepang memaksa buruh membangun lebih banyak lubang perlindungan dan benteng pertahanan. Meriam penangkis serangan udara ditempatkan di sekitar kawasan pabrik dan Gadut.
Meriam dan Upaya Pelestarian Sejarah
Dalam konteks pertahanan inilah, dua meriam yang kini berdiri di Lapangan Golf PT Semen Padang diyakini ditempatkan.
Meriam tersebut menjadi bagian dari sistem pertahanan kawasan industri strategis Indarung.
Tokoh masyarakat Indarung, Dharmansyah Siroen, menyebut dudukan beton meriam dibuat melalui kerja paksa masyarakat pribumi.
Ia menyatakan posisi meriam tidak pernah dipindahkan sejak kawasan tersebut ditambang hingga menjadi lapangan golf.
PT Semen Padang memilih merawat peninggalan tersebut. Kepala Unit Komunikasi dan Kesekretariatan PT Semen Padang, Idris, menyatakan meriam dipandang sebagai bagian dari nilai sejarah yang patut dijaga.
Kini, Lapangan Golf PT Semen Padang menjadi ruang olahraga dan rekreasi sekaligus lanskap yang menyimpan ingatan pendudukan Jepang, kerja paksa, dan perjalanan panjang industri semen di Indarung.(*)
Editor : Hendra Efison