Maka perlu dicatat, penanganan stunting bukan hanya menjadi urusan atau tanggung jawab Dinas Kesehatan saja. Pernyataan tersebut disampaikan Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta, ketika membuka rembuk stunting dan rapat koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat Kota Sawahlunto, Selasa (20/9).
Turut dihadiri sejumlah kepala OPD terkait, camat, dan tenaga kesehatan puskesmas. Lebih lanjut dikatakannya, TPPS untuk Kota Sawahlunto telah dibentuk secara berjenjang sampai ke tingkat kecamatan. Tujuannya supaya langkah-langkah yang dilakukan menjadi lebih optimal.
“Kalau sudah sampai ke tingkat kecamatan, artinya sistem penanganan sudah berhadapan langsung dengan masyarakat,” tukasnya.
Deri Asta juga menjelaskan beberapa strategi yang dilaksanakan Pemko Sawahlunto dalam menurunkan stunting. Di antaranya lewat upaya peningkatan kualitas persiapan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, perbaikan pola asuh, peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dan peningkatan akses air minum serta sanitasi.
“Strategi terebut akan bisa berjalan maksimal jika ada sinergi yang baik antar lembaga/instansi, dan masyarakat. Berikut dukungan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta organisasi sosial masyarakat lainnya,” jelasnya.
Tak kalah pentingnya lagi, penanganan stunting merupakan bagian dari salah-satu misi Pemko Sawahlunto tentang peningkatan pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam arti kata masuk dalam program prioritas pemerintah daerah pada umumnya.
Guna mengentaskan kasus stunting pihaknya mengimbau semua pihak untuk ikut bekerjasama dengan pemerintah daerah. Lewat mendukung berbagai program yang digulirkan hingga ke tingkat kecamatan.
Warga terkena stunting sangat berisiko terkena berbagai penyakit, bahkan pada sebagian kasus dapat berlanjut secara turut-temurun. Untuk pemulihannya cenderung butuh waktu lana, bertahun-tahun.
Deri Asta juga berpesan kepada jajaran pemerintahan desa dan kelurahan agar dapat mendukung percepatan penurunan stunting dengan memaksimalkan pos-pos gizi.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk-KB) Sawahlunto Yasril menyebut, angka stunting Kota Sawahlunto pada 2021 yakni 21,1 persen. Sementara tahun 2019 mencapai 23 persen. “Artinya selama dua tahun terakhir ada penurunan, yakni dari 23 menjadi 21,1 persen,” kata Yasril.
Ke depan, pihaknya akan terus berupaya melakukan terobosan-teribosan ke tingkat bawah, selain bersifat sosialisasi atau imbauan. Diantaranya dengan memberdayakan Tim Pendamping Keluarga (TPK). TPK terdiri dari unsur PKK, kader KB dan tenaga kesehatan.
Mereka bertugas mendampingi para keluarga yang didalamnya terdapat ibu hamil, serta anak usia dibawah lima tahun (balita). Bahkan TPK juga disetting menjadi ujung tombak penyembuhan stunting. (atn) Editor : Novitri Selvia