Kangkung hasil budidaya tersebut dikemas dalam plastik berlabel dengan berat 350 gram per bungkus dan dijual seharga Rp5.000 per paket. Karena ditanam tanpa menggunakan pestisida kimia, produk ini dinilai lebih aman dan sehat untuk dikonsumsi sehari-hari.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Solok, Ade Kurniati menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari percontohan pemanfaatan lahan pekarangan kantor guna mendukung ketahanan pangan keluarga pegawai.
“Program ini kami harapkan bisa menjadi contoh, baik bagi masyarakat maupun OPD lainnya. Dengan memanfaatkan lahan terbatas, kita tetap bisa menghasilkan sumber pangan dan gizi yang bermanfaat,” ujarnya.
Dorong Diversifikasi dan Pola Konsumsi Sehat
Selain kangkung, instansi tersebut juga membudidayakan berbagai komoditas lain seperti cabai, tomat, terung, dan bayam menggunakan sistem polybag maupun hidroponik.
Teknik hidroponik yang diterapkan merupakan metode bercocok tanam tanpa tanah dengan memanfaatkan air yang telah dicampur larutan nutrisi sebagai media tanam. Sistem ini dinilai lebih efisien dalam penggunaan air, ramah lingkungan, serta cocok diterapkan di area dengan keterbatasan lahan.
Kepala Bidang Pangan, Hernenti Saher mengungkapkan bahwa antusiasme ASN dan masyarakat terhadap sayuran hidroponik cukup tinggi. Pihaknya berencana meningkatkan volume produksi guna memenuhi permintaan yang terus bertambah.
“Inisiatif ini diharapkan mampu mendorong peningkatan konsumsi sayuran di masyarakat sekaligus mendukung penerapan pola konsumsi Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA),” katanya.
Melalui program ini, Pemerintah Kota Solok juga menargetkan peningkatan skor Pola Pangan Harapan (PPH) sebagai indikator kualitas konsumsi pangan masyarakat. Upaya ini menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan berbasis pekarangan dan lingkungan perkantoran. (cr8)
Editor : Adetio Purtama