Tidak hanya karena lokasi tersebut beberapa meter dari rumah kediamannya, tapi kejadian memalukan itu sangat melukai hati seluruh rakyat Kabupaten Solok, yang senantiasa melakukan syiar Islam dalam kehidupan masyarakat. Namun ada segelintir orang yang merusak suasana agamis tersebut.
”Tiap hari kita dengarkan ayat-ayat Al Quran dari masjid dan mushala. Kita senantiasa bergerak untuk keagamaan. Kita didik anak-anak kita agar menjadi generasi yang beriman. Kita isi dada mereka dengan pengetahuan agama. Tapi ada segelintir orang yang merusak suasana kebatinan kita,” ungkap Epyardi di Singkarak, Selasa (13/6/2023).
Epyardi menduga hal itu akibat semakin kurangnya kepedulian terhadap kondisi lingkungan. Sehingga, hal tersebut bisa terjadi. Epyardi juga memperingatkan camat dan wali nagari atas peristiwa ini.
”Camat dan wali nagari saya perintahkan untuk beri laporan secepatnya. Kenapa tidak beri laporan kepada saya. Wali nagari juga harus beri laporan kepada saya tentang apa yang terjadi di nagari,” tegasnya.
Epyardi meminta seluruh aparat kecamatan, aparat nagari dan masyarakat untuk senantiasa waspada. Agar kejadian memalukan seperti itu tidak terulang kembali. Ia juga memerintahkan aparaturnya untuk segera membersihkan sarang-sarang maksiat yang ada di seluruh Kabupaten Solok.
”Saya tak ingin kejadian seperti ini terulang kembali. Bersihkan seluruh tempat dari sarang-sarang maksiat. Siapapun orangnya, siapapun bekingannya. Sebagai kepala daerah, saya sangat konsen dengan hal-hal seperti ini,” tutupnya.
Sebelumnya pada Jumat 9 Juni lalu, Tim Jatanras Satuan Reserse Kriminal Polres Solok Kota mengungkap praktik prostitusi di Jorong Kubang Gajah, Nagari Singkarak, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, sekitar pukul 15.30 WIB.
Sat Reskrim Polres Solok Kota menangkap seorang Ibu Rumah Tangga berinisial M,40, yang diduga sebagai mucikari.(frk) Editor : Admin Padek