Dalam keterangan resmi di RS Bhayangkara TK III Padang, Jumat (5/12/2025), Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya menyampaikan bahwa jumlah korban meninggal dunia mencapai 210 orang.
Dari jumlah tersebut, 184 korban telah berhasil diidentifikasi, sedangkan 26 jenazah masih belum dapat dikenali karena kondisi tubuh yang rusak. Selain itu, terdapat 214 orang dilaporkan hilang dan 22 orang masih menjalani perawatan.
Susmelawati menjelaskan proses identifikasi dilakukan oleh Tim DVI Polda Sumbar bersama tim forensik RS Bhayangkara.
Ia mengatakan identifikasi visual dan sidik jari tidak dapat dilakukan karena sebagian besar jenazah mengalami kerusakan akibat lama terendam air dan tertimbun material.
Kabid Dokkes Polda Sumbar AKBP Faisal menyampaikan bahwa dari 26 jenazah yang belum teridentifikasi, 14 berjenis kelamin laki-laki, delapan perempuan, dan empat lainnya berupa potongan tubuh.
Semua sampel tetap diambil DNA untuk dicocokkan dengan data keluarga.
Sebanyak 26 sampel DNA jenazah dan 21 sampel DNA keluarga telah dikirim ke Mabes Polri pada hari yang sama.
Pemeriksaan DNA diperkirakan membutuhkan waktu maksimal satu minggu. “DNA menjadi metode paling akurat ketika kondisi tubuh tidak memungkinkan lagi dikenali,” ujar Faisal.
Ia menambahkan jenazah biasanya mengalami perubahan signifikan dalam 48 jam, seperti pembengkakan dan perubahan warna, sehingga menyulitkan identifikasi visual.
Faisal juga mengungkapkan kendala penyimpanan jenazah. Empat unit pendingin di RS Bhayangkara telah terisi penuh, ditambah satu kontainer pendingin yang digunakan karena jenazah terus berdatangan memasuki hari kedelapan pascabencana.
Polda Sumbar menyebut pencarian korban masih difokuskan di wilayah terdampak paling parah seperti Agam, Malalak, dan sepanjang aliran sungai jalur galodo.
Tim pencarian terdiri dari personel Polda Sumbar, dukungan Polda Riau dan Polda Kepri, TNI, BPBD, serta relawan. Jumlah pengungsi tercatat lebih dari 900 orang.
Karumkit RS Bhayangkara Padang, Harry Amdromeda, mengimbau keluarga membawa foto korban yang menampilkan struktur gigi dan identitas seperti KTP.
Ia menegaskan bahwa keluarga inti wajib hadir sebagai pembanding DNA agar proses verifikasi lebih cepat.
Ia menyebut beberapa keluarga harus menunggu karena data pendukung belum lengkap, sehingga pemeriksaan tidak dapat segera dilakukan.
Rumah sakit memastikan proses identifikasi terus berlanjut hingga seluruh korban terdata dan keluarga mendapatkan kepastian.(CR1)
Editor : Hendra Efison