SEJAK tahun 2017 hingga 2021, produksi jagung di Sumbar sangat fluktuatif. Berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Sumbar, produksi terbesar pada tahun 2018.
Yakni 993.161 ton. Sedangkan yang terendah setahun setelahnya. Yakni 920.130 ton. Sementara untuk tahun lalu baru mencapai 948.063 ton. Angka-angka yang fluktuatif itu juga terkait dengan luas tanam.
Terbanyak pada tahun 2017 dengan 156.369 hektare (ha) lalu merosot hingga paling rendah pada tahun 2019 sebesar 130.372 ha. Namun meningkat kembali hingga tahun lalu menjadi 141.411 ha (selengkapnya lihat grafis).
Fluktuasi pertanian jagung di Sumbar tersebut karena beragam persoalan. Jadi, tidak soal luas tanam saja. Namun juga karena luas panen tak sepadan dengan luas tanaman. Hal itu lantaran jagung yang ditanam petani diserang hama.
Contohnya di Kabupaten Padangpariaman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, untuk tahun 2019 dan 2021, luas tanam jagung yaitu 7.339,60 ha dan 7.852,90 ha. Namun luas panen 2019 lebih tinggi. Yakni 7.505,10 ha dengan hasil 53.467,04 ton. Sedangkan pada 2021 luas panen 7.474,90 ha dengan hasil 53.462 ton.
Namun jika dibandingkan dengan tahun 2020, luas pertanian jagung di Padangpariaman di tahun 2021 justru meningkat. Penyebabnya bukan soal harga, tetapi pertanian jagung memang menjadi pelarian petani yang sawahnya kesulitan air. Misalnya yang dilakukan Siman, seorang petani jagung di Kecamatan Sintuak Toboh Gadang.
”Buat sawah di sini tidak bisa, karena irigasi mengalami kekeringan sejak beberapa tahun belakang. Makanya kami beralih bertanam jagung, daripada lahan terlantar,” ujarnya.
Soal harga jagung, sambungnya, sekarang malah mengalami penurunan. ”Harga jagung sekarang Rp 4.000 per kg. Sebelumnya, harga jual jagung sempat Rp 5.000 per kg. Tapi itu tidak lama,” ucapnya.
Hal serupa disampaikan Azhari Kurnia Prama, 32, seorang petani jagung di Korong Jambak, Nagari Balahhilia, Kecamatan Lubukalung. ”Ya, sempat Rp 5.000 sekitar dua bulan lalu. Kalau sekarang harga jual jagung Rp 4.000 per kg. Bahkan ada yang Rp 3.900 per kg,” jelasnya, ketika diwawancarai di kediamannya di Nagari Pauhkamba, Rabu (17/8).
Menurutnya, harga jagung yang terus ditekan, tentunya membuat petani dilema. Sebab, di sisi lain pupuk bersubsidi langka. Begitupun benih unggulan (Pioneer Cap Singa 32). Tidak saja langka tetapi juga mahal.
”Benih jagung varietas unggulan itu antara Rp 650 ribu hingga Rp 700 ribu per 5 kg. Pupuk subsidi pun, kalau sudah langka, harganya juga naik dari biasanya Rp 150 ribu per 50 kg, menjadi Rp 180 ribu per 50 kg,” ungkap Azhari.
Jadi, lanjutnya, hal itu otomatis menambah biaya petani jagung. Dampaknya, produktivitas pertanian jagung mengalami penurunan. Sebab, petani terbatas dalam pembelian benih ataupun pupuk. ”Belum lagi masalah hama, semakin menekan produktivitas tanaman jagung kami,” katanya.
Azhari mencontohkan, lahan jagungnya seluas 1,5 ha. Untuk sekali tanam, membutuhakn benih sebanyak 18 kg. Sedangkan pupuk yang dibutuhkan 1 ton. Lalu, kebutuhan obat pembasmi hama menelan biaya sekitar Rp 1 juta hingga panen.
”Jadi, modal yang harus saya miliki dari proses bertanam hingga panen di lahan 1,5 ha itu, minimal Rp 15 juta. Sedangkan hasil panen rata-rata sekarang pada kisaran 6–6,5 ton. Kalau normalnya lahan seluas itu kan bisa panen 8 ton,” paparnya.
Untuk penjualan hasil panen, dia masih berurusan dengan tauke. Sebab, kelompok tani tidak bisa langsung menjual ke perusahaan. Sebab, syarat menjual ke perusahaan itu harus ada badan hukum, seperti Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag). Itupun BUMNag-nya harus punya delivery order (DO) ke pabrik.
”Kalau tidak salah, di Padangpariaman ini baru satu BUMNag yang punya DO ke pabrik. Makanya, petani sangat membutuhkan solusi soal ketersediaan dan harga pupuk serta benih, termasuk penanganan hama dan kestabilan harga jual jagung. Sebab, kalau pertanian jagung pun sudah sulit, ke mana lagi petani akan beralih?” terangnya.
Bicara soal hama, tanaman jagung juga memiliki hamanya sendiri. Jika tanaman jagung berada di pinggir hutan, hama babi menjadi musuh utama. Sebab babi sangat suka dengan jagung muda.
”Selain itu, juga hama ulat yang biasanya menyerang batang saat kecil dan memakan daun saat jagung dewasa,” sebut Sofiati, petani jagung di Limapuluh Kota.
Yoci, petani lainnya di Limapuluh Kota berharap ada pengawasan terhadap ketersedian pupuk bersubsidi. Sebab dinilai kualitasnya masih diragukan. ”Kami tidak memakai pupuk bersubsidi. Tapi menggunakan pupuk nonsubsidi untuk kebun jagung. Sebab hasilnya jauh lebih baik dan pertumbuhannya terlihat nyata,” terangnya.
Menurut Yoci, jika tidak menggunakan pupuk pabrik atau nonorganik, sebenarnya jagung juga bisa tumbuh dengan subur menggunakan pupuk organik. Hanya saja butuh waktu untuk mencarinya. Terutama untuk penggunaan kotoran sapi dan ayam.
”Menggunakan kotoran ayam atau sapi, penggunaanya cukup banyak dan membutuhkan waktu yang panjang untuk pemupukan. Sehingga masih banyak petani yang cenderung menggunakan pupuk pabrikan yang bisa didapatkan dengan dibeli di kios pupuk dan langsung disebar di kebun,” terang Yoci.
Soal pemasaran, jagung untuk hitungan luas lahan kurang dari 1 hektare tidak akan sulit. Sebab banyak peternak ayam di Limapuluh Kota yang akan membelinya. ”Harga jagung pipil kering memang kadang tinggi, kadang murah. Namun tetap berkisar antara Rp 3.000 sampai Rp 6.000 per kilogram. Sebulan yang lalu saya menjual jagung kering Rp 4.800 per kilogram,” tambah Yoci.
Sebagai sentra peternakan unggas, mulai dari puyuh, itik, ayam pedaging dan ayam petelur, Kabupaten Limapuluh Kota membutuhkan banyak jagung untuk kebutuhan pakan ayam.
Bahkan dari total produksi per tahun saat ini di Limapuluh Kota, produksi jagung hanya mampu memenuhi seperempat dari kebutuhan. Sehingga Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota saat ini memprioritaskan pertanian untuk produksi jagung.
Saat ini berdasarkan catatan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan setempat, kebutuhan jagung pakan di Limapuluh Kota sekitar 600 ton per hari, atau 18.000 ton per bulan. Artinya sekitar 216.000 ton tahun. Sedangkan kemampuan panen petani hanya 45.000 ton per tahun.
Stok Kosong di Kios
Di Kabupaten Solok Selatan para petani juga mengeluhkan harga jagung kering yang fluaktif. Dua minggu lalu masih Rp 4.200 per kilogram. Namun sejak empat atau lima hari terakhir, merosot jadi Rp 3.800-Rp 3.900 per kilogram.
”Harga jagung turun, pupuk mahal. Bagi yang panen sekarang, pasti mengeluh. Pupuk selain mahal, juga stok masih kosong di kios. Jagung saya sudah berusia satu bulan masih belum dipupuk, seharusnya usia 25 hari sudah dipupuk,” ungkap Muril, petani jagung Sikinjang, Kecamatan Sangir, Rabu (17/8).
Petani lainya Mairadi, 46, mengatakan, belum menanam lahannya yang sudah dibersihkan. Lantaran bibit jagung jenis pioneer 32 yang cocok untuk tingkat produksi sudah habis di kios-kios penyedia sejak Juni 2022 lalu.
Kalaupun ada, harganya sudah selangit. ”Harga bibit pioneer 32 seberat 5 kg dijual pedagang Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu sekarang. Biasanya hanya Rp 500 ribu,” jelas petani Lubuk Gadang Timur, Kecamatan Sangir itu.
Di sejumlah kios pupuk di Solok Selatan harga pupuk untuk jagung bervariasi, baik jenis urea maupun ponska. Pupuk urea dari Rp 150 ribu hingga Rp 155 ribu per karung 50 kilogram. Kalau pupuk jenis ponska dari Rp 170 ribu hingga Rp 200 ribu per karung.
Bila harga pupuk mahal, bibit mahal, dan harga turun, tentu menjadi dilema bagi masyarakat yang sedang memanen jagung. ”Bagi petani yang panen sekarang, pasti saja mengeluh. Sebab biaya yang dikeluarkan lebih besar ketimbang hasil diterima,” ujarnya.
Contohnya bagi petani yang lahan pertaniannya yang harus menggunakan jasa lansir dengan sepeda motor untuk pengangkutan hasil panen ke pinggir jalan, per kilogramnya Rp 200. Belum lagi upah memanen satu karung Rp 10 ribu, upah rontok Rp 160 per kilogram, upah angkut dan lainnya.
Belum lagi biaya pembersihan lahan, upah menanam, biaya penyemprotan dengan peptisida dan lainnya. ”Kalau harga jagung di bawah Rp 4.000, petani pasti akan rugi,” jelas ibu lima anak itu. (cr4/apg/fdl/tno) Editor : Novitri Selvia