Namun, di balik foto estetik dan takarir manis yang menghiasi lini masa, penelitian terbaru justru mengungkap fakta yang berlawanan dengan kesan bahagia yang ditampilkan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun pada Sabtu (14/2/2026), pasangan yang terlalu sering memamerkan kemesraan di dunia maya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengakhiri hubungan mereka.
Fenomena ini menarik perhatian karena menunjukkan adanya perbedaan antara citra digital dan dinamika hubungan yang sebenarnya.
Temuan tersebut berkaitan erat dengan aspek psikologi perilaku manusia dalam mencari pengakuan dari lingkungan sosialnya.
Banyak pasangan merasa perlu menunjukkan kebahagiaan mereka secara publik agar mendapatkan validasi dalam bentuk tanda suka dan komentar positif dari pengikutnya.
Seksolog asal Australia, Nikki Goldstein, memberikan pandangan mengenai pola unggahan berlebihan yang dinilainya dapat menjadi indikator adanya persoalan tersembunyi dalam hubungan asmara.
"Pasangan yang terlalu sering memamerkan kemesraan di media sosial justru bisa menunjukkan adanya masalah dalam hubungan mereka," ungkap Nikki Goldstein sebagaimana dikutip dari independent.co.uk pada Sabtu (14/2/2026).
Goldstein menjelaskan, unggahan foto romantis atau deklarasi cinta yang dilakukan secara terus-menerus tidak selalu mencerminkan kebahagiaan yang autentik dalam kehidupan nyata.
Dalam sejumlah kasus, tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk pelarian dari konflik yang sedang terjadi di dalam hubungan.
Ia menilai, dorongan untuk mempublikasikan hubungan secara intens sering kali berakar pada kebutuhan mencari validasi eksternal.
Tekanan untuk terlihat sempurna di mata publik membuat sebagian pasangan lebih fokus pada pencitraan digital dibandingkan membangun komunikasi yang sehat secara langsung.
Baca Juga: Pelayanan Perumda AM Padang Pulih 99 Persen Lebih
Menurut Goldstein, pasangan yang merasa aman dan benar-benar bahagia biasanya tidak merasa perlu membuktikan kebahagiaan mereka secara berlebihan melalui media sosial.
Mereka cenderung menyimpan momen pribadi sebagai konsumsi internal tanpa harus membagikannya secara terus-menerus kepada publik.
Kebutuhan validasi yang tidak terpenuhi dapat memunculkan rasa cemas dan ketidakpuasan, yang pada akhirnya berpotensi memperkeruh suasana dalam hubungan tersebut.
Meski demikian, Goldstein menegaskan tidak semua pasangan yang aktif di media sosial memiliki hubungan yang bermasalah, karena faktor penentunya terletak pada motivasi di balik setiap unggahan.
Masyarakat diimbau untuk lebih bijak menggunakan media sosial sebagai ruang berbagi momen pribadi.
Keseimbangan antara kehidupan digital dan interaksi nyata disebut menjadi faktor penting dalam menjaga keharmonisan hubungan jangka panjang.(cr3)
Editor : Hendra Efison