Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengapa Begadang Berisiko Merusak Otak dan Jantung? Ini Penjelasan Medisnya

Randi Zulfahli • Minggu, 22 Februari 2026 | 13:03 WIB

Ilustrasi begadang.
Ilustrasi begadang.
PADEK.JAWAPOS.COM—Kebiasaan begadang sering kali dianggap sebagai solusi untuk "mencuri waktu tambahan" di tengah kesibukan yang padat.

Namun, di balik layar yang menyala dan jari yang terus menggulir, tubuh manusia sejatinya tidak dirancang untuk terjaga melewati batas malam.

Dikutip dari laman ayosehat.kemkes.go.id pada Minggu (22/2/2026), pola tidur yang tidak teratur terbukti memberikan dampak serius bagi kesehatan jangka panjang.

Secara biologis, tubuh manusia beroperasi berdasarkan ritme sirkadian yang diatur oleh "dirigen" di hipotalamus, yakni suprachiasmatic nucleus (SCN). Ketika seseorang begadang, ritme ini terganggu, memaksa organ tubuh bekerja di zona waktu yang salah.

Dampak pada Fungsi Otak dan Emosi

Kurang tidur memengaruhi korteks prefrontal, pusat kendali fokus, emosi, dan pengambilan keputusan. Akibatnya, seseorang menjadi sulit berkonsentrasi dan cenderung ceroboh.

Sementara itu, amigdala atau pusat alarm emosi menjadi lebih sensitif, membuat seseorang lebih mudah tersinggung atau "meledak" karena hal sepele.

Selain itu, begadang menghambat sistem glimfatik, jalur pembuangan "sampah metabolik" di otak. Jika proses pembersihan ini terpotong, tumpukan protein seperti beta-amiloid dapat terakumulasi, yang dalam jangka panjang berkaitan dengan risiko penurunan fungsi otak.

Risiko Metabolik dan Jantung

Tidak hanya otak, sistem metabolisme pun ikut kacau. Kurang tidur menggeser keseimbangan hormon lapar (ghrelin) dan kenyang (leptin), yang memicu keinginan mengonsumsi makanan manis atau berlemak tinggi.

Kebiasaan ini, jika dilakukan berulang, dapat menurunkan sensitivitas insulin dan membuka jalan bagi risiko diabetes tipe 2.

Jantung pun tak luput dari ancaman. Saat tidur normal, tekanan darah akan turun (nocturnal dipping). Begadang mencegah proses ini, sehingga tekanan darah tetap tinggi dan jantung terus bekerja keras.

Kondisi ini, ditambah dengan peningkatan hormon stres seperti kortisol, dapat memicu peradangan sistemik dan aterosklerosis yang berujung pada hipertensi atau serangan jantung.

Imunitas dan Mitos "Balas Dendam" Tidur

Tidur adalah waktu vital bagi sistem imun untuk memproduksi sitokin pelindung. Begadang melemahkan respons ini, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

Banyak orang mencoba membayar "utang tidur" dengan tidur panjang di akhir pekan. Namun, dr. Dito Anurogo, MSc, PhD, menekankan bahwa tubuh bukanlah rekening bank yang bisa "dilunasi" dengan satu kali setor.

Perubahan jam tidur yang drastis pada akhir pekan justru menciptakan efek jet lag sosial yang semakin mengacaukan ritme hormonal dan genetik.

"Tidur bukan kemewahan, melainkan fondasi. Di dunia yang selalu menuntut terjaga, memilih tidur cukup adalah bentuk kecerdasan," ujar dr. Dito.

Di tengah gempuran teknologi, penggunaan perangkat digital sebaiknya dibatasi agar tidak mengganggu produksi melatonin.

Memanfaatkan teknologi secara bijak untuk memantau kualitas tidur, dan bukannya memperpanjang waktu terjaga, menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan kardiometabolik dan stabilitas emosi dalam jangka panjang. (cc1)

Editor : Adetio Purtama
#begadang #rusak #jantung #otak #berisiko