Guardiola menegaskan bahwa penderitaan warga sipil Palestina telah berlangsung lama tanpa tindakan nyata dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan untuk menghentikan kekerasan tersebut.
Pernyataan itu menjadi sorotan internasional karena disampaikan oleh figur olahraga berpengaruh yang dikenal jarang mengomentari isu geopolitik secara terbuka.
Pelatih asal Spanyol tersebut menilai bahwa situasi di Palestina tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan politik, melainkan krisis kemanusiaan yang mengancam keselamatan jutaan warga sipil.
Guardiola Sebut Dunia Tutup Mata
Dalam pernyataannya, Guardiola mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi warga Palestina yang hidup dalam ketakutan tanpa kepastian masa depan.
Ia menyebut bahwa komunitas internasional terlihat tidak cukup memberikan respons terhadap penderitaan yang terus terjadi dari hari ke hari.
“Setiap kali saya memikirkan apa yang dialami warga Palestina, saya merasa dunia telah meninggalkan mereka,” ujar Pep Guardiola, sebagaimana dikutip dari unggahan midnight.football_ pada awal Februari 2026.
Guardiola menyoroti bahwa warga sipil tidak memiliki kendali atas situasi konflik tempat mereka dilahirkan, namun harus menanggung dampak paling besar dari kekerasan yang berlangsung.
Menurutnya, membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut tanpa solusi permanen merupakan kegagalan kolektif dalam menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Tekankan Tanggung Jawab Moral Figur Publik
Guardiola kembali menegaskan sikapnya dengan menyampaikan bahwa warga Palestina tidak dapat disalahkan atas konflik yang terjadi di wilayah mereka.
“Mereka tidak bersalah karena lahir di sana. Kita telah membiarkan kehancuran ini berlangsung begitu lama,” kata Guardiola dalam kutipan lanjutan dari sumber yang sama.
Mantan pelatih Barcelona itu juga menyinggung peran dan tanggung jawab moral figur publik dalam menyikapi krisis kemanusiaan.
Ia menyatakan bahwa individu yang memiliki suara dan pengaruh luas seharusnya tidak memilih diam ketika menyaksikan penderitaan sesama manusia.
“Jika kita punya suara, tapi memilih untuk diam, maka kita juga bagian dari masalah,” tegas Guardiola, mengakhiri pernyataannya.
Pernyataan tersebut memicu beragam respons di ruang publik, terutama di media sosial, dan kembali menempatkan isu kemanusiaan Palestina dalam perbincangan global.
Hingga pernyataan itu disampaikan, tidak terdapat keterangan lanjutan dari pihak Manchester City terkait sikap resmi klub atas pandangan pribadi Guardiola.
Namun, pernyataan ini menegaskan posisi Guardiola sebagai figur olahraga yang menggunakan pengaruhnya untuk menyuarakan isu kemanusiaan di luar lapangan sepak bola. (cr3)
Editor : Hendra Efison