SSB yang berdiri pada 2004 itu kini memfokuskan program pembinaannya pada penguatan karakter anak lewat sepak bola berbasis Filosofi Sepak Bola Indonesia (FILANESIA).
Kepala Pelatih SSB ASCO Padang Sarai, Hakiki Wahyudi, mengatakan pihaknya mengadopsi pendekatan Sport for Development (S4D) yang menekankan pembentukan karakter di dalam maupun di luar lapangan.
Menurutnya, bakat pemain muda di Padang tidak kalah dari daerah lain, namun penguatan karakter masih menjadi tantangan utama.
“Jika karakter anak-anak bagus, ke depannya langkah mereka sebagai pemain juga akan baik. Fokus utama kami bukan mengejar juara, tetapi memastikan pembinaan usia dini berjalan benar,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).
ASCO memiliki kelompok umur KU-8, KU-10, KU-12, KU-15, hingga KU-17. Menghadapi Padek Cup, seluruh pemain disebut mendapat kesempatan menerapkan hasil latihan dalam pertandingan.
“Kami akan memberikan kesempatan untuk kelompok umur mengikuti festival, salah satunya Padek Cup, agar anak-anak bisa mengaplikasikan latihan ke pertandingan,” katanya.
ASCO mengusung gaya bermain build up dengan kombinasi passing support serta transisi menyerang dan bertahan.
Latihan dilakukan empat kali seminggu, yaitu Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu.
Selain aspek teknis, penguatan mental juga diberikan. Anak-anak didorong bermain tanpa beban dan menikmati pertandingan.
“Kami mempersiapkan anak-anak agar percaya diri, bermain dengan gembira, dan tanpa tekanan. Target kami adalah aplikasi latihan, sementara juara adalah bonus,” tambah Hakiki.
Ia berharap keikutsertaan di Padek Cup membuat pemain semakin disiplin berlatih dan memiliki mental kompetitif yang sehat. “Harapan kami, anak-anak lebih disiplin pada jadwal latihan dan tidak hanya bermental latihan saat ada kompetisi,” tutupnya.(CR4)
Editor : Hendra Efison