Dalam beberapa bulan terakhir, para pedagang yang menggantungkan hidup di kawasan ini mulai mengeluhkan turunnya jumlah pengunjung secara signifikan.
Penurunan ini tidak hanya berdampak pada aktivitas pariwisata, tetapi juga menggerus roda ekonomi masyarakat lokal. Para pelaku usaha kecil, khususnya pedagang suvenir dan kuliner, mulai merasakan beban berat akibat sepinya pembeli yang biasanya ramai, terutama saat musim liburan dan Lebaran.
“Kalau dulu setiap Lebaran kawasan ini penuh sesak oleh wisatawan, sekarang terasa sepi. Bahkan lebaran kemarin pun jauh berbeda dibanding sebelum pandemi,” tutur Yunusra, pedagang pernak-pernik khas Minangkabau di sekitar Istano Basa Pagaruyung.
Menurut Yunusra, berbagai upaya sudah dilakukan untuk menarik minat pengunjung, mulai dari memperkenalkan produk baru, memberikan diskon, hingga mempercantik tampilan kios dagangannya. Namun, hasilnya tetap belum membuahkan hasil signifikan.
"Biasanya saya bisa jual puluhan barang kerajinan tangan setiap akhir pekan, tapi sekarang satu pun kadang tak laku. Cuaca pun sering hujan, bikin orang malas keluar rumah, apalagi datang jauh-jauh ke sini,” ujarnya dengan nada khawatir.
Kondisi ini juga dirasakan oleh Bunda Sungayang, pedagang pakaian khas Minang yang sudah bertahun-tahun berdagang di kawasan wisata Pagaruyung. Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap kondisi para pelaku UMKM lokal.
“Kami ingin adanya fasilitas pendukung yang lebih memadai. Tempat istirahat yang nyaman, akses jalan yang mulus, pelayanan yang ramah—hal-hal kecil yang bisa membuat wisatawan betah berlama-lama di sini,” katanya.
Ia menambahkan, sektor pariwisata Pagaruyung harus kembali digerakkan secara kolektif, baik oleh pemerintah daerah, pengelola destinasi, maupun masyarakat lokal, agar kejayaan kawasan ini sebagai pusat wisata budaya Sumatera Barat bisa bangkit kembali.
Para pedagang berharap, pemerintah tidak hanya fokus pada promosi luar daerah, tetapi juga memperbaiki kondisi internal kawasan wisata. Perbaikan infrastruktur, pelatihan pelayanan wisata, serta event berkala dinilai penting untuk menghidupkan kembali denyut wisata Pagaruyung.
Sebagai ikon budaya yang menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Minangkabau, Pagaruyung tidak sekadar destinasi wisata. Ia adalah saksi bisu warisan leluhur yang seharusnya terus dijaga dan dirawat, bukan justru tenggelam dalam sepi. (shy)
Editor : Hendra Efison