PADEK.JAWAPOS.COM -- Baru dibuka untuk umum pada akhir 2024, destinasi wisata alam Tapian Tabiang Barasok di Kelurahan Bukik Apit Puhun, Kota Bukittinggi, langsung diarahkan menjadi kawasan ekowisata berkelanjutan. Berbeda dengan banyak destinasi wisata baru yang tumbuh tanpa perencanaan jangka panjang, kawasan ini sejak awal dibangun melalui pendampingan intensif selama lima bulan oleh tim pengabdian kepada masyarakat dari perguruan tinggi, bahkan melibatkan pakar ekowisata dari Malaysia.
Pendampingan tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan daya tarik wisata, tetapi juga membangun fondasi tata kelola kawasan berbasis masyarakat yang mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Tapian Tabiang Barasok dinilai memiliki modal besar berupa panorama alam, tingginya partisipasi masyarakat, keterlibatan pelaku UMKM, serta dukungan tokoh adat. Namun, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai pengelola masih menghadapi tantangan pada aspek manajerial dan belum memiliki arah pengembangan jangka menengah yang terstruktur.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian yang dipimpin Prof Dr Rahmi Fahmy memulai rangkaian program melalui pelatihan bertajuk Sustainable Recreation, Ekowisata & SDGs pada 29 April 2026. Kegiatan itu menghadirkan akademisi ekowisata asal Malaysia, Dr Sheena Bidin, yang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan destinasi berbasis kearifan lokal.
“Kegiatan ini membuka wawasan baru bagi pengelola dan masyarakat sekitar tentang bagaimana wisata alam bisa dikembangkan tanpa merusak lingkungan dan tetap menghormati nilai-nilai adat,” ujar Rahmi Fahmy.
Dari pelatihan tersebut, Pokdarwis berhasil merumuskan dasar visi dan misi pengelolaan kawasan yang berorientasi pada Sustainable Recreation and Ecotourism. Pengelola juga mulai memetakan peluang mengintegrasikan potensi wisata alam dengan kekayaan budaya lokal sebagai daya tarik utama destinasi.
Pendampingan berlanjut melalui pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan media sosial pada 3 Juni 2026. Anggota Pokdarwis bersama pemuda setempat dibekali kemampuan membuat konten promosi, termasuk video pendek untuk Instagram dan TikTok sebagai bagian dari strategi pemasaran digital.
Selanjutnya, pada 30 Juni 2026, pelatihan tata kelola organisasi menghasilkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan kawasan serta draf implementasi wisata berbasis Community Based Tourism dengan fokus pengembangan Eco-Edutourism.
Seluruh tahapan dilakukan secara partisipatif melalui diskusi kelompok terfokus (FGD), lokakarya, dan pendampingan lapangan. Dengan pola tersebut, visi, misi, hingga rencana pengembangan kawasan disusun bersama masyarakat dan pengelola sehingga tidak sekadar menjadi program dari luar.
Selain pendampingan, tim pengabdian juga tengah menyusun Buku Putih berjudul Model Pengelolaan Kawasan Wisata Alam Berbasis Sustainable Recreation and Ecotourism: Pembelajaran dari Pokdarwis Tapian Tabiang Barasok. Dokumen itu akan memuat model tata kelola destinasi berbasis komunitas, strategi menciptakan lapangan kerja yang layak, serta menjadi referensi pengembangan destinasi wisata rintisan di Sumatera Barat maupun daerah lain.
Program tersebut sekaligus menjadi kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya penciptaan pekerjaan layak dan pengurangan kemiskinan melalui pengembangan wisata berbasis masyarakat.
Ke depan, pendampingan akan diperluas melalui penguatan legalitas kelembagaan Pokdarwis, penyusunan paket wisata edukasi, pelatihan pemandu wisata, digitalisasi pemasaran, hingga penyusunan zonasi konservasi. Dengan fondasi tersebut, Tapian Tabiang Barasok ditargetkan tumbuh sebagai destinasi yang mampu meningkatkan kunjungan wisata tanpa mengorbankan kelestarian alam maupun nilai-nilai lokal yang menjadi identitas kawasan.(r)
Editor : Adriyanto Syafril