Rafi Rasyiq Sayap Kiri Timnas U-17, dari Payakumbuh ke Pentas Dunia: Ugal-ugalan dengan Lenka 50 CC jadi Titik Baliknya

Novitri Selvia • Dipublikasikan Selasa, 15 April 2025 | 10:00 WIB

 

URANG AWAK: Erinaldi memperlihatkan foto anaknya Rafi Rasyiq yang saat ini tergabung dengan timnas Indonesia U-17 di Piala Asia U-17 2025.(SY RIDWAN/PADEK)
URANG AWAK: Erinaldi memperlihatkan foto anaknya Rafi Rasyiq yang saat ini tergabung dengan timnas Indonesia U-17 di Piala Asia U-17 2025.(SY RIDWAN/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Jalan menuju panggung dunia terbuka bagi seorang anak laki-laki dari Payakumbuh. Tapi, ternyata itu tidak dimulai dari lapangan hijau. Rafi Rasyiq, kelahiran 30 November 2008, dulunya justru lebih akrab dengan dunia balap sepeda. 

SEBUAH perjalanan unik membawanya dari Tanjung Gadang Sungai Pinago, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh hingga membela timnas Indonesia U-17.

Pemain berposisi di sayap kiri ini menjadi bagian skuad Merah Putih muda di Piala Asia U-17 2025 yang kemarin (14/4) berlaga di perempat final. Tiket ke Piala Dunia U-17 Qatar November mendatang sudah dalam genggaman.

Rafi adalah buah hati kedua dari Erinaldi dan Iin Marlina. Erinaldi pun berbagi kisah tentang tumbuh kembang putranya di Kota Randang sebelum akhirnya merantau ke Bandung, Senin (14/4). Dia mengungkapkan, sepak bola bukanlah cinta pertama Rafi.

”Rafi ini anak spesial dengan bakat alaminya. Kebanyakan orang mengira kalau main bola itu pasti ada faktor keturunan. Tapi dari keluarga saya maupun uminya (ibu Rafi), tidak ada yang pemain bola,” ujarnya.

Olahraga yang pertama kali memikat hati Rafi kecil justru balap sepeda, khususnya BMX. Meskipin, sebelum masuk sekolah sepak bola (SSB), dia juga main bola dekat rumah. Di sanalah sang ayah mulai melihat bakatnya.

Tapi saat itu, dia masih cenderung ke balap sepeda. Bahkan pernah ikut turnamen sepeda BMX. Pada sebuah momen saat Rafi masuk sekolah dasar, sebagai hadiah Erinaldi membelikannya sebuah motor kecil jenis Lenka 50 cc.

Namun, hadiah itu justru memicu kekhawatirannya. Dia dapat laporan dari kerabat dan tetangga kalau anaknya itu menyalahgunakan motor tersebut. Sering ugal-ugalan.

Rasa takut akan keselamatan sang anak membuat dia mengambil kembali motor tersebut. Di sinilah titik balik itu terjadi.

”Lalu saya kasih pilihan kepada Rafi, boleh pakai motor tapi dengan syarat, harus ikut sekolah sepak bola. Tujuan awalnya, supaya dia lengah dari balap-balapan itu,” jelasnya.

Keputusan itu ternyata membuka gerbang takdir Rafi. Pada usia 6 tahun, saat kelas 1 SD, Rafi mulai bergabung dengan SSB Tunas Putra di Bukiksitabuah, Payakumbuh. Bakatnya langsung tercium oleh pelatih.

Pelatih bilang dia berbakat. Bahkan karena bakatnya itu, langsung dinaikkan dua tingkat kelompok umur di tim Tunas Putra. Turnamen pertama yang diikuti Rafi adalah untuk kelompok usia kelahiran 2006, padahal Rafi lahir tahun 2008. 

”Awal, saya tidak percaya dia mampu mengimbangi, tapi ternyata bisa,” tambahnya.

Sejak saat itu, dukungan Erinaldi tak pernah surut. Jika mula-mula hanya mengantar sampai pinggir lapangan, permintaan pelatih untuk melihat langsung permainan Rafi mengubah segalanya.

”Sejak turnamen kedua di Lareh Sago Halaban yang diadakan SSB Ayak, sampai dia pindah ke Bandung, saya tidak pernah tinggalkan dia. Saya antar dan temani ke manapun dia tanding, baik ke Rawang, Palembang, sampai Jakarta,” ujar bapak dua anak ini.

Erinaldi mengatakan seiring waktu perjalanan Rafi terus menanjak. Ia terpilih mewakili Payakumbuh untuk seleksi Turnamen Danone Nations Cup kelas 6 SD. 

Dari Tunas Putra, terpilih Rafi dan satu temannya. Kebetulan pelatih tim seleksi Payakumbuh saat itu coach Zulka Hendra dari SSB Viktori. Tim lolos sampai ke tingkat nasional. 

Sayangnya, mimpi berlaga di tingkat lanjut turnamen harus pupus akibat pandemi Covid-19. Setelah itu, Erinaldi meminta izin untuk memindahkan Rafi ke SSB Viktori yang memiliki program lebih berjalan dan aktif mengikuti turnamen berbagai kelompok umur. 

Di bawah asuhan Hendra bakat Rafi semakin terasah. Hingga akhirnya dilirik dan dikontrak Putra Minang Sejagat, Mancudum, sebelum akhirnya hijrah ke Bandung akhir tahun 2020. Di sana dia bergabung dengan Akademi Fatto.

Di mata sang ayah, Rafi adalah sosok yang memiliki jiwa sosial tinggi dan adab yang baik. ”Alhamdulillah, attitude Rafi masih terjaga. Itu semua tidak lepas dari didikan pelatih-pelatihnya di manapun ia menimba ilmu," ungkap Erinaldi bangga.

Kemudian di sisi lain, posisi bermain Rafi pun konsisten sejak kecil. ”Dari dulu sampai sekarang, posisi utamanya selalu sayap kiri. Padahal sebenarnya dia dominan kaki kanan,” jelas Erinaldi. 

Baca Juga: Viral Joget Vulgar di Baralek Urang Minang di Kota Padang, Camat Lubeg: Masuk Kategori Pornoaksi

Saat kelas 6 SD Rafi sempat mengutarakan keinginan bermain sebagai striker atau playmaker. Namun, posisi sayap kiri akhirnya menjadi tempat dia bersinar.

Erinaldi menggambarkan Rafi sebagai anak yang cenderung cuek di permukaan, namun sangat peduli.

”Kalau ada masalah keluarga, dia diam seperti tidak tahu. Tapi di baliknya, kepeduliannya tinggi. Sama teman-temannya juga begitu, dia rela mengalah demi temannya, tapi tidak pernah diperlihatkan,” katanya.

Ia menambahkan hingga kini, Rafi tak pernah lupa meminta restu sebelum bertanding membela Timnas U-17.

”Empat jam sebelum tanding, dia selalu telepon atau WhatsApp saya minta restu. Tidak hanya ke saya, tapi ke semua pelatihnya dulu, termasuk yang di Payakumbuh, baik di Tunas Putra, Viktori, sampai pelatihnya di Bandung,” ungkap Erinaldi.

Setiap kali Timnas U-17 bertanding, keluarga besar dan para pelatih yang pernah mendidik Rafi di Payakumbuh sering mengadakan nonton bareng (nobar).

”Saya berharap dan berpesan, jangan cepat puas, jangan sombong, tetap rendah hati. Ini baru awal karir Rafi di dunia sepak bola. Attitude tetap nomor satu. Mudah-mudahan dengan attitude yang bagus, karirnya bisa terus menanjak sampai timnas senior. Dan jangan pernah melupakan SSB serta pelatih yang mendidiknya dari kecil,” pesannya.

Terbaik di Payakumbuh

Mantan pelatih Rafi, Zulka Hendra mengatakan, selama melatihnya hanya beberapa kompetisi yang ia ikuti. Yang rombongan Rafi ada terpantau seleksi timnas. Tapi Timnas U-16. Untuk Timnas U-17 Rafi yang terpanggil dan berhasil masuk ke skuad.

Selama itu, katanya, masa itu banyak konpetisi. Misalnya Piala Suratin. Saat itu Rafi turun atas nama klub Mancudum. ”Kami juara diturnamen tersebut,” ujarnnya.

Ia mengungkapan Rafi memiliki semangat juang yang bagus. Dia memiliki spesialis di kotak penalti. Sering dilanggar lawah. ”Dia spesialis di sana dan itu terbawa sampai di timnas sekarang,” ucapnya.

Zulka mengatakan, saat ia melatih Rafi sudah bagus tapi belum matang pada saat itu. Artinya kemampuannya sama rata-rata dengan anak yang lainya. Tapi Rafi orangnya petarung. ”Kalau soal yang bagus- banyak yang bagus,” ungkapnya.

Rafi dinilai juga sebagai anak yang tekun serta punya attitude bagus. ”Alhamdulillah. Di timnya di Bandung ia kembali ditempa dengan bagus lagi dan ia tambah mantang dan matang lagi,” katanya. (SY Ridwan—Payakumbuh)

Editor : Novitri Selvia
Rafi Rasyiq Erinaldi Tanjung Gadang Sungai Pinago Timnas U-17