Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 30 Padang: Memutus Batas Kelas, Petualangan Belajar Bahasa Indonesia

Zulkarnaini. • Senin, 29 September 2025 | 14:15 WIB
TERMOTIVASI: Para siswa SMP Negeri 30 Padang saat mengikuti pembelajaran di sekolah mereka.
TERMOTIVASI: Para siswa SMP Negeri 30 Padang saat mengikuti pembelajaran di sekolah mereka.

PADEK.JAWAPOS.COM-Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa pelajaran Bahasa Indonesia terkadang terasa begitu kaku bagi anak-anak kita?

Sebagai orang tua, pendidik, atau masyarakat, kita mungkin sering melihat mereka menghabiskan waktu berjam-jam dengan buku teks, menghafal kaidah, atau membuat ringkasan yang terasa monoton.

Padahal, bahasa seharusnya menjadi alat paling hidup dalam keseharian kita. Inilah tantangan yang seringkali kita hadapi bersama.

Kita tahu, bahasa adalah jantung dari identitas dan pemikiran. Namun, bagaimana caranya agar Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi sekumpulan teori, melainkan menjadi sesuatu yang bisa mereka gunakan, rasakan, dan cintai?

Pertanyaan itulah yang mendorong kami, para guru, untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba sebuah pendekatan baru di sekolah kami, SMP Negeri 30 Padang. Kami tidak menyangka, ini akan menjadi sebuah petualangan yang membuka mata kita semua.

Kami memutuskan untuk memulai sebuah proyek yang sederhana namun ambisius: menjadikan siswa-siswi kita sebagai “jurnalis” dan “sineas” cilik.

Proyek ini adalah bagian dari semangat Kurikulum Merdeka, di mana pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, tetapi pada siswa dan karya-karya nyata.

Alih-alih menulis esai di buku, siswa kami ditantang untuk membuat film dokumenter pendek atau buletin berita yang mengupas cerita- cerita otentik di sekitar lingkungan sekolah.

Di sinilah kita bisa menyaksikan langsung bagaimana anak-anak kita belajar dengan cara yang sama sekali berbeda. Mereka berkeliling, mewawancarai narasumber, dan berinteraksi langsung dengan kehidupan di luar kelas.

Kita bisa melihat mereka dengan kamera ponsel di tangan, merekam cerita penjaga sekolah, menelusuri aktivitas guru piket, atau bahkan mewawancarai ibu kantin tentang menu favorit yang paling sering dibeli.

Saat melihat mereka, kita akan sadar bahwa pelajaran Bahasa Indonesia yang sebenarnya sedang terjadi. Mereka tidak hanya belajar menyusun kalimat yang baik dan benar, tetapi juga menguasai keterampilan komunikasi, berpikir kritis, dan kolaborasi.

Rasa malu untuk bertanya pun hilang. Mereka belajar bagaimana memilih kata-kata yang sopan saat mewawancarai dan bagaimana menyusun naskah agar pesan yang mereka bawa mudah dipahami.

Kita pun bisa merasakan kebanggaan saat melihat hasil karya mereka. Film-film pendek yang mereka buat begitu apik dan menyentuh. Kita bisa melihat cerita tentang persahabatan, kekompakan, dan pemahaman yang lebih dalam tentang lingkungan sekitar.

Ini adalah bukti bahwa ketika kita memberikan ruang bagi mereka untuk berkarya, potensi anak-anak kita jauh melampaui apa yang kita bayangkan.

Salah satu hal yang paling menyentuh hati saya, dan mungkin juga bagi kita semua, adalah saat seorang siswi yang dikenal pendiam menyampaikan pesannya.

“Ternyata, Bahasa Indonesia itu bukan sekadar di buku, tapi di kehidupan kita. Kami jadi tahu betapa kayanya budaya kita dan cara menyampaikannya ke orang lain,” ucapnya.

Ucapan itu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan adalah tentang menemukan makna dan menumbuhkan rasa cinta.
Pengalaman ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga: pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

Menjadikan anak-anak kita cakap berbahasa dan berkarakter bukanlah tugas satu pihak saja, tetapi peran kita semua—para guru, orang tua, dan masyarakat.

Mari kita bersama-sama terus mencari cara agar pendidikan, khususnya Bahasa Indonesia, menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan bagi anak-anak kita.

Dengan cara ini, kita tidak hanya mengajarkan mereka untuk membaca dan menulis, tetapi juga untuk merangkai kisah-kisah hidup, dan pada akhirnya, menjadi bagian dari cerita besar bangsa ini.(Zahratil Husna, Guru SMPN 30 Padang)

 

 

Editor : Novitri Selvia
#SMP Negeri 30 Padang #Zahratil Husna