Dalam program tersebut, setiap siswa menyisihkan uang sebesar Rp1.000 per hari. Hasilnya, donasi yang terkumpul mencapai belasan juta rupiah dalam kurun waktu dua pekan.
Dana tersebut didedikasikan untuk membantu korban bencana banjir di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Seluruh dana berasal dari partisipasi aktif siswa kelas I hingga kelas VI yang secara sukarela menyisihkan uang jajan harian mereka.
Kepala Sekolah SD Islam Darunnajah, Eny Anggraeni, M.Pd, menyatakan bahwa kegiatan ini bagian dari implementasi pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
“Program ‘One Day One Thousand’ ini memiliki maksud dan tujuan utama untuk memberikan asa kepedulian dengan sesama. Kami ingin menanamkan nilai empati, gotong royong, dan tanggung jawab sosial sejak dini,” ujar Eny Anggraeni dalam siaran pers, Selasa (16/12/2025).
Ia menambahkan, antusiasme para siswa menjadi bukti bahwa nilai kepedulian dapat tumbuh sejak usia dini. Menurutnya, keterlibatan anak-anak dalam kegiatan sosial merupakan pengalaman penting dalam pembentukan karakter.
“Melihat anak-anak dengan sukarela menyisihkan uang jajan mereka merupakan kebanggaan bagi kami. Ini menunjukkan bahwa kepedulian tidak mengenal usia,” katanya.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari para siswa. Salah satu siswi kelas IV, Anindita Putri Adrena, mengatakan bahwa program donasi ini menjadi sarana untuk membantu sesama yang sedang tertimpa musibah.
“Kami ingin membantu saudara-saudara kita yang terkena banjir. Walaupun dari uang jajan kami, semoga bisa bermanfaat dan memberi semangat untuk mereka,” ujar Anindita.
Selama dua minggu pelaksanaan, donasi murni dihimpun dari kontribusi harian siswa. Program ini dirancang sederhana agar mudah diikuti, sekaligus membangun kebiasaan berbagi secara konsisten.
Donasi yang terkumpul rencananya akan disalurkan melalui Laznas Darunnajah, lembaga penyalur bantuan yang dinilai terpercaya.
Penyaluran bantuan difokuskan pada kebutuhan mendesak korban banjir, seperti makanan, obat-obatan, serta perlengkapan sekolah yang hilang atau rusak akibat bencana.(*)
Editor : Heri Sugiarto