PADEK.JAWAPOS.COM-Pembagian makan bergizi gratis (MBG) lagi-lagi memicu musibah. Di Cimahi, Jawa Barat, sebanyak 43 orang diduga mengalami keracunan setelah menyantap MBG jatah Ramadan. Hingga kemarin, sebagian korban masih dirawat di sejumlah rumah sakit.
Informasi yang dihimpun Radar Bandung, sebanyak 33 korban dirawat di RSUD Cibabat, 5 korban lain masuk RS Mitra Kasih, dan 5 lainnya ada di RS Dustira.
Peristiwa keracunan massal itu terjadi Rabu (25/2). Waktu itu, sejumlah siswa mengonsumsi MBG yang menyajikan menu onigiri, apel, susu, dan telur.
Beberapa jam setelah menyantap MBG, korban yang mayoritas siswa TK, SD, hingga SMP tersebut mengalami mual, pusing, hingga muntah. Para korban langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Selain siswa, ada juga guru yang menjadi korban. Salah satunya adalah guru SDN Karangmekar Mandiri 1, Kota Cimahi, Erika Tika Sari.
Dia menjelaskan, menu MBG berisi onigiri ayam, telur rebus, kurma, susu, dan buah apel dibagikan pada Rabu (25/2) pagi.
“Saya makan jam 13.30 WIB sepulang sekolah, kebetulan lagi enggak puasa. Saya makan onigirinya aja, tapi enggak abis karena kaya ada bau gosong gitu,” katanya.
Ia menambahkan, selang dua jam dirinya mulai merasakan mual, muntah, dan pusing. Awalnya ia mengira hanya masuk angin biasa.
“Terus lihat WhatsApp katanya ada keracunan abis makan MBG. Berarti saya juga keracunan,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala SDN Cimahi Mandiri 4, Eka Nugrahawati, mengungkapkan bahwa sejak awal dirinya mencium aroma tak sedap pada makanan yang dibagikan kepada siswa dan guru. Karena itu, Eka tak mau menyentuh makanan itu.
“Kata saya, ini udah bau, jadi saya simpen aja di sekolah. Cuman emang dari tadi pagi tuh bau asem-asem gitu si nasi onigiri-nya itu tuh,” tandasnya.
Wali Kota Cimahi Ngatiyana menjelaskan, hingga kemarin pihaknya terus berupaya maksimal untuk menangani siswa yang mengalami keracunan.
Instansi terkait terus melakukan pemantauan secara berkala. “Mudah-mudahan semua tertangani dengan baik, yang dirawat tetap dirawat, observasi tetap dilakukan. Itu perkembangan saat ini,” jelasnya.
Ia menegaskan, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangmekat 002 sebagai distributor MBG penyebab keracunan telah dihentikan sementara.
Protes Menu MBG di Tuban
Di Tuban, Jawa Timur, menu MBG edisi Ramadhan terus memicu protes. Sejumlah sekolah menilai menu yang disalurkan SPPG belum mencerminkan standar makanan bergizi. Terutama bagi anak usia dini.
Pada Rabu (26/2), sebuah taman kanak-kanak kembali menyampaikan keberatan atas menu kering yang diterima selama tiga hari.
Paket tersebut hanya berisi dua susu kotak, roti, dua butir telur, buah jeruk, dan belimbing. Di sekolah lain, siswa dilaporkan hanya menerima susu, ubi rebus, dan jeruk.
Keluhan paling serius datang dari wilayah Kecamatan Kerek. Seorang siswa mengeluhkan buah yang diterima sudah membusuk dan dinilai tidak layak konsumsi.
Lain lagi dengan keluhan seorang guru raudhatul athfal (RA) di Kecamatan Tuban. Dia mengatakan, menu yang diberikan selama beberapa hari hanya berupa susu, roti, dan belimbing yang belum matang.
“Kalau seperti ini, bagaimana bisa dikonsumsi,” keluhnya kepada Radar Tuban Grup Jawa Pos (grup Padang Ekspres).
Dia menilai, menu MBG seharusnya tidak sekadar mengenyangkan, tetapi benar-benar menunjukkan nilai gizi yang memadai sesuai tujuan program.
Keluhan juga muncul dari Kediri, Jawa Timur. Penyaluran MBG ke sekolah tidak boleh dirapel. Namun, hingga kemarin masih terdapat beberapa sekolah yang menerima MBG rapelan. Satu kali pengiriman untuk tiga hari hingga Sabtu (28/2) nanti.
“Hari ini anak saya dapat MBG untuk jatah tiga hari. Dapat satu nanas utuh sama dua jeruk. Terus dua telur sama pentol, dua susu kotak sama satu sari kacang hijau, sama dua roti satu puding,” beber Nia, wali siswa sekolah dasar (SD) di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, kepada Radar Kediri Grup Jawa Pos (grup Padang Ekspres).
Mekanisme penyaluran MBG selama Ramadan itu sebelumnya disampaikan oleh Koordinator SPPG Kecamatan Kota Vicky Yusuf Imron.
Menurut dia, untuk penerima manfaat kelompok rentan 3B, MBG tetap disalurkan dengan kombinasi menu basah dan kering.
MBG pun tetap disalurkan sesuai jatah. Yakni, enam hari dalam seminggu dengan anggaran Rp 10 ribu. Di Kota Kediri, hingga saat ini ada 5.074 penerima manfaat MBG kategori 3B. Terdiri dari 720 bumil, 493 busui, serta 3.861 balita.
Sebelumnya diberitakan, penyaluran menu MBG Ramadan menuai protes secara luas. Mayoritas menyoal tentang menu yang dianggap tidak sesuai dengan harga yang seharusnya.
Selebihnya, mereka juga menyoal kandungan gizi paket makanan yang diterima. Temuan gelombang protes itu tak hanya ditemui di Kota Kediri.
Tetapi juga di Kabupaten Kediri dan berbagai wilayah lainnya. Menu kering MBG yang dianggap ala kadarnya juga mendorong beberapa wali siswa usul agar MBG Ramadan dirapel untuk beberapa hari.
Namun, usulan itu terbantahkan dengan aturan baru dari pemerintah pusat yang melarang MBG disalurkan dengan mekanisme dirapel.
“Dari arahan terakhir itu sebenarnya rapelan tidak boleh. Cuma memang baru diinformasikan kemarin (24/2). Sebelumnya dari surat edaran itu menjelaskan (rapelan) paket maksimal itu 3 hari. Terus dari pimpinan kami menegaskan harus dikirimkan setiap hari, tanpa ada paket rapelan,” tandas Vicky terkait aturan yang sedianya mulai berlaku sejak kemarin. (kro/b/fud/ds/ais/fud/oni/jpg)
Editor : Novitri Selvia