Demo yang didominasi generasi muda atau Gen Z itu dipicu oleh larangan pemerintah terhadap akses media sosial dan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap dugaan korupsi pemerintah.
Pengunduran diri Oli terjadi sehari setelah bentrok polisi dengan demonstran.
Tiga menteri, termasuk Menteri Air Pradeep Yadav, Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak, dan Menteri Pertanian Ramnath Adhikari, juga mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap kekerasan aparat.
Pengunduran diri ini dianggap sebagai langkah untuk mencari solusi politik, kata Oli dalam surat pengunduran dirinya kepada Presiden Nepal, Ram Chandra Poudel.
“Saya mengundurkan diri efektif hari ini agar Nepal dapat mengambil langkah lebih lanjut menuju solusi politik dan penyelesaian masalah,” tulis Oli, dilansir Al Jazeera.
Beberapa menit sebelum pengunduran diri PM Oli, massa menyerbu gedung Parlemen Nepal dan membakar salah satu bangunan di area kompleks tersebut.
Protes di Kathmandu dan kota-kota lain berubah menjadi kekacauan. Massa menyerbu dan membakar rumah sejumlah pemimpin politik, antara lain: Sher Bahadur Deuba, Ketua Nepali Congress, Presiden Ram Chandra Poudel, Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak, Pushpa Kamal Dahal, Pemimpin Komunis Nepal (Maoist), dan Sekolah swasta milik Arzu Deuba Rana, istri Deuba dan Menteri Luar Negeri.
Jam malam diterapkan di ibu kota dan kota-kota sekitarnya, sementara sekolah ditutup untuk mencegah eskalasi kerusuhan.
Ramyata Limbu, jurnalis Nepal yang berbasis di Kathmandu, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa aksi di jalan-jalan ibu kota sepertinya tidak ada yang memimpin.
“Situasi ini telah berkembang. Penduduk Nepal, terutama generasi muda, Gen Z, sangat kecewa dengan korupsi, kurangnya transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang baik,” kata Limbu.
“Protes damai terhadap larangan media sosial pada hari Senin hanyalah pemicu, tetapi masalah korupsi telah memuncak. Ini sangat traumatis dan benar-benar sebuah tragedi,” tambahnya.
Baca Juga: Aksi Damai Berubah jadi Dialog Terbuka, Forkopimda Pasaman Duduk Bersama Mahasiswa
Larangan Media Sosial Picu Protes Gen Z
Larangan akses media sosial terhadap platform seperti Facebook, X, dan YouTube memicu protes Gen Z, kelompok muda lahir antara 1995–2010. Larangan ini dicabut Selasa pagi, namun kerusuhan sudah meluas.
Para demonstran menuntut pengusutan kasus korupsi dan kekerasan pemerintah. Narayan Acharya, seorang pengunjuk rasa mengatakan “Kami di sini untuk menuntut keadilan dan menyingkirkan rezim saat ini. K.P. Oli harus pergi.”
Sementara pengunjuk rasa lainnya, Durganah Dahal menekankan, “Selama pemerintah ini berkuasa, rakyat seperti kami akan terus menderita. Mereka telah membunuh banyak pemuda kemarin, sekarang mereka bisa membunuh kita semua.”
19 Orang Tewas dan Puluhan Luka-luka
Bentrokan dengan polisi menyebabkan 19 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Tujuh korban dibawa ke National Trauma Center, rumah sakit utama Nepal, dengan beberapa tembakan di kepala dan dada.
Warga ramai berdonasi darah untuk membantu korban. Oli mengumumkan pembentukan tim investigasi untuk menyelesaikan laporan dalam 15 hari, serta menjamin kompensasi bagi korban meninggal dan perawatan gratis bagi yang luka-luka.
Presiden Ramchandra Paudel telah memulai proses pembentukan pemerintahan baru. Tentara Nepal dikerahkan mengevakuasi menteri dari kediaman mereka menggunakan helikopter, serta mengamankan gedung parlemen dan pejabat tinggi.
Penutupan Bandara Internasional Kathmandu berdampak pada aktivitas transportasi domestik dan internasional. Curfew diterapkan di beberapa wilayah, menandakan situasi Nepal masih kritis.(*)
Editor : Heri Sugiarto