Penulis : Ade Apriani, S.Pd.AUD - Guru SD Negeri 21 Payakumbuh
Menjadi guru adalah cita-cita yang saya impikan sejak kecil. Namun, jika ditanya lebih spesifik, cita-cita saya sebenarnya adalah menjadi seorang Guru Taman Kanak-Kanak (TK). Saya sangat menyukai dunia anak usia dini yang penuh keceriaan, kepolosan, dan proses belajar yang dilakukan melalui bermain. Oleh karena itu, ketika saya mulai mengajar di TK, saya merasa telah menemukan tempat yang sesuai dengan panggilan hati saya.
Perjalanan saya sebagai guru dimulai tahun 2000 ketika saya honor di salah satu TK di daerah tempat saya dilahirkan yaitu TK Aisyiah Pandai Sikek Kabupaten, Tanahdatar. Hanya dengan modal Ijazah MAN. Tahun 2003 saya lulus D2 PGTK Adzkia Bukittinggi. 2005 diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Payakumbuh, saat itu saya ditugaskan mengajar di TK atau PAUD Swasta. Pada masa tersebut, jumlah TK Negeri di Kota Payakumbuh masih sangat terbatas, hanya ada dua sekolah negeri. Sementara itu, guru TK yang berstatus PNS jumlahnya cukup banyak, lebih dari 45 orang.
Karena keterbatasan jumlah sekolah negeri, pemerintah daerah saat itu mengambil kebijakan untuk menugaskan guru-guru TK PNS mengajar di TK atau PAUD swasta. Saya termasuk salah satu guru yang menerima penugasan tersebut. Meskipun bertugas di sekolah swasta, saya tetap menjalankan tugas sebagai guru PNS dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi.
Waktu berjalan begitu cepat. Hari demi hari, tahun demi tahun berlalu tanpa terasa. Saya menikmati setiap proses mendampingi anak-anak usia dini belajar, bermain, bernyanyi, bercerita, dan mengenal dunia di lingkungan sekolah. Dunia PAUD telah menjadi bagian dari hidup saya. Hampir dua puluh tahun saya mengabdi sebagai guru TK/PAUD di sekolah swasta.
Namun, dalam perjalanan pengabdian tersebut, muncul kebijakan baru dari pemerintah daerah. Semua guru PNS yang selama ini ditugaskan di TK atau PAUD swasta harus ditarik kembali ke sekolah negeri. Kebijakan tersebut tentu memiliki tujuan yang baik dalam penataan dan pemerataan tenaga pendidik.
Akan tetapi, muncul persoalan yang cukup besar. Jumlah TK atau PAUD Negeri di Kota Payakumbuh saat itu hanya empat sekolah, sedangkan jumlah guru TK/PAUD yang berstatus PNS lebih dari empat puluh orang. Akibatnya, tidak semua guru dapat ditempatkan kembali di TK Negeri. Sebagian dari kami harus menerima penugasan baru di Sekolah Dasar Negeri.
Saya masih ingat dengan jelas perasaan ketika menerima Surat Keputusan (SK) mutasi tersebut. Terus terang, saya sangat kecewa. Bukan karena tidak ingin mengajar, melainkan karena saya merasa harus meninggalkan dunia yang selama ini menjadi cita-cita dan kecintaan saya. Selama hampir dua puluh tahun saya mengabdikan diri di TK/PAUD, membangun hubungan dengan anak-anak, orang tua, serta lingkungan sekolah. Tiba-tiba saya harus berpindah ke jenjang pendidikan yang berbeda.
Sebagai seorang PNS, saya menyadari bahwa tugas dan penempatan merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus dijalankan. Dengan berat hati, saya berusaha menerima keputusan tersebut. Saya belajar untuk ikhlas dan meyakini bahwa setiap penugasan memiliki hikmah yang mungkin belum saya pahami saat itu.
Ketika pertama kali mengajar di SD, saya menghadapi banyak tantangan. Sistem pembelajaran di SD sangat berbeda dengan PAUD. Jika di PAUD pembelajaran lebih banyak dilakukan melalui bermain, bernyanyi, dan aktivitas motorik, maka di SD pembelajaran sudah lebih terstruktur dan berorientasi pada pencapaian kompetensi akademik. Saya harus mempelajari kurikulum yang berbeda, menyusun perangkat pembelajaran yang lebih kompleks, melakukan penilaian, mengisi rapor, serta mengelola administrasi yang jauh lebih banyak.
Pada awal masa adaptasi, saya sering merasa kesulitan. Namun, pengalaman panjang sebagai guru PAUD ternyata menjadi bekal yang sangat berharga. Saya terbiasa memahami karakter anak, membangun kedekatan emosional dengan siswa, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kemampuan tersebut membantu saya dalam menghadapi siswa SD yang juga masih membutuhkan perhatian, motivasi, dan pendekatan yang humanis.
Saya mulai menyadari bahwa meskipun jenjang pendidikan berbeda, tujuan utama seorang guru tetap sama, yaitu mendidik dan membantu anak-anak berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Pengalaman sebagai guru PAUD membuat saya lebih sabar, lebih peka terhadap kebutuhan siswa, dan lebih kreatif dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Seiring berjalannya waktu, rasa kecewa yang dahulu saya rasakan perlahan berubah menjadi rasa syukur. Saya belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua perjalanan hidup berjalan sesuai dengan rencana dan cita-cita awal. Kadang-kadang, jalan yang tidak kita pilih justru membawa pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga.
Kini saya menyadari bahwa menjadi guru bukanlah tentang di mana kita ditempatkan, melainkan bagaimana kita memberikan yang terbaik di tempat kita bertugas. Baik sebagai Guru PAUD maupun Guru SD, keduanya memiliki peran yang sama mulianya dalam membentuk generasi penerus bangsa.
Perjalanan dari Guru PAUD menuju Guru SD telah mengajarkan saya tentang kesabaran, keikhlasan, kemampuan beradaptasi, dan dedikasi. Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam perjalanan karier saya sebagai seorang pendidik. Meskipun awalnya penuh air mata dan kekecewaan, pada akhirnya saya belajar menerima bahwa setiap penugasan adalah amanah yang harus dijalankan dengan sepenuh hati.
Saya bangga pernah menjadi Guru PAUD, dan saya juga bangga dapat terus mengabdi sebagai Guru SD. Keduanya telah menjadi bagian dari kisah pengabdian saya dalam dunia pendidikan. (*)
Editor : Adriyanto Syafril