Penulis : Amelia Gusriani, S.Pd - Guru UPTD SD Negeri 02 Halaban
Di tengah gempuran kuliner modern dan makanan cepat saji yang kian digandrungi generasi muda, upaya pelestarian tradisi lokal menjadi hal yang sangat krusial. Sadar akan pentingnya menjaga warisan budaya tak benda, keluarga besar UPTD SD Negeri 02 Halaban menggelar sebuah kegiatan yang unik sekaligus sarat akan nilai edukasi. Pada hari Sabtu kemarin, halaman sekolah disulap menjadi dapur umum raksasa dalam agenda memasak bersama makanan khas legendaris Halaban, yaitu Gulai Rimbo. Langkah ini diambil sebagai benteng pertahanan agar kuliner tradisional tidak punah digilas zaman.
Kegiatan membuat gulai rimbo ini berlangsung setelah kegiatan pagi yaitu Sholat Dhuha, pagi ceria, tuntas baca Al-Qur’an dan da’i cilik. Acara ini dirancang sebagai bagian dari program Sakato Berjaya yaitu literasi budaya. Seluruh elemen sekolah, mulai dari kepala sekolah, para majelis guru, hingga para siswa, tampak bahu-membahu menyukseskan acara ini. Bahan-bahan untuk memasak disiapkan secara bersama-sama oleh guru dan siswa dari rumah. Semangat kebersamaan langsung terasa sejak pagi, dimulai dari pengumpulan bahan dan membuat tungku.
Bagi masyarakat Halaban, Gulai Rimbo bukan sekedar menu hidangan biasa. Makanan khas ini adalah simbol kedekatan masyarakat dengan alam sekitar. Nama “Rimbo” (hutan) sendiri disematkan karena keunikan bahan-bahannya yang mayoritas dipetik langsung dari pekarangan dan hutan di sekitar pemukiman. Bahan khas rimbo itu disebut pucuak buku-buku. Dalam kegiatan memasak bersama ini, bahan-bahan baku utama yang disiapkan sangat autentik. Menu ini menggunakan ayam kampung sebagai sumber protein utama, yang dipilih karena tekstur dagingnya yang padat dan gurih. Cita rasa gurih tersebut kemudian diperkuat dengan penggunaan karambia randang (kelapa yang diparut lalu disangrai hingga kecokelatan dan mengeluarkan minyak harum) serta santan segar yang kental. Tidak ketinggalan, sensasi pedas yang menggugah selera dihadirkan lewat ulekan cabe rawit hijau khas daerah setempat. Bahan yang menjadi bintang utama dan pembeda dari gulai lainnya adalah penggunaan daun pucuak buku-buku dan karambia randang. Berbagai bahan pelengkap masakan yaitu kunyit, jahe, lengkuas, daun jeruk, bawang merah, bawang putih, daun salam dan serai. Perpaduan bahan inilah yang menghasilkan aroma yang menggugah selera. Penggunaan rempah yang melimpah ini juga menjadi bukti kaya akan tanaman yang bermanfaat di bumi Halaban.
Aroma harum rempah dan kelapa sangrai mulai menusuk hidung saat proses memasak dimulai menggunakan tungku kayu tradisional. Proses memasak secara tradisional ini sengaja dipilih untuk mempertahankan cita rasa asli yang mulai langka ditemui di era modern. Suasana kebersamaan begitu kental terasa. Ibu guru dan siswa perempuan berbagi tugas ada yang menghaluskan bahan dan juga memeras santan. Sementara itu, para bapak guru dibantu siswa laki-laki bertugas mulai dari membersihkan ayam dan menjaga kestabilan api tungku dan mengaduk gulai di kuali besar. Di sudut lain, para siswa perempuan tampak antusias membantu menyiangi aneka dedaunan sambil mendengarkan penjelasan dari guru mereka mengenai nama dan manfaat dari masing-masing daun tersebut. Interaksi hangat ini menciptakan ruang transfer ilmu antargenerasi yang sangat efektif dan menyenangkan bagi anak-anak.
Guru kelas V UPTD SD Negeri 02 Halaban menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan rasa bangga dalam diri siswa terhadap kekayaan budaya mereka sendiri. “Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu makan, tetapi mengetahui prosesnya. Memasak gulai rimbo ini mengajarkan mereka tentang kesabaran, kerja sama, dan bagaimana alam Halaban telah menyediakan segalanya untuk kita. Ini adalah laboratorium kehidupan yang nyata bagi mereka,” ujarnya di sela-sela kegiatan. Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan serupa akan menjadi agenda tahunan rutin.
Setelah penantian beberapa jam, Gulai Rimbo yang matang sempurna dengan kuah kental berminyak siap dihidangkan. Kegiatan diakhiri dengan makan bersama di atas gelaran daun pisang yang memanjang di koridor sekolah. Raut lelah di wajah para peserta langsung sirna, berganti dengan canda tawa dan kepuasan setelah mencicipi kelezatan kuliner warisan leluhur mereka. UPTD SD Negeri 02 Halaban berharap langkah kecil dari dapur sekolah ini diharapkan mampu menjaga api kelestarian Gulai Rimbo agar tetap mengepul dan tak lekang oleh waktu, memastikan generasi masa depan Halaban tetap mengenali identitas dan cita rasa tanah kelahiran mereka di tengah derasnya arus globalisasi saat ini.(*)
Editor : Adriyanto Syafril