Merawat Nyala Api Pengabdian

Widi Setiawan • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 06:22 WIB
Ilustrasi. (REZA/PADEK)
Ilustrasi. (REZA/PADEK)

Penulis : Widi Setiawan, S.Pd - Guru SdN 03 Payakumbuh

RUTINITAS yang sama setiap hari lambat laun dapat menghadirkan rasa bosan dan jenuh. Hal itu juga dirasakan oleh para guru yang setiap hari mengabdikan diri di dunia pendidikan. Profesi yang telah dijalani selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, menuntut kedisiplinan dan dedikasi yang tinggi.

Mulai dari bangun pagi,mempersiapkan pembelajaran, mengajar di sekolah, hingga kembali pulang pada sore hari, semua menjadi rutinitas yang terus berulang.

Saya termasuk guru yang masih relatif baru dibandingkan para senior yang telah mengabdi lebih dari 20 tahun. Namun, di sela padatnya aktivitas, rasa lelah dan jenuh sesekali tetap datang.

Jika dibiarkan, perasaan tersebut dapat memengaruhi semangat mengajar dan mengurangi kualitas pengabdian. Padahal, sebagai pendidik, kita dituntut untuk selalu kreatif dan menjadi teladan bagi peserta didik. Karena itu, kita perlu menemukan cara untuk terus merawat nyala api pengabdian agar tetap menyala.

Perjalanan saya sebagai pendi­dik dimulai pada 2015 ketika mengajar di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs). Enam bulan kemudian, saya menambah jam mengajar di se­buah Se­kolah Dasar. Saat itu, semangat masih berkobar. Jadwal yang padat tidak pernah terasa sebagai beban. Hari-hari dilalui dengan penuh antusias, tanpa mengenal rasa malas ataupun jenuh.

Pada 2018, saya berpindah mengajar di sebuah Sekolah Dasar di Kota Payakumbuh. Waktu terus berjalan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga kini memasuki 2026.

Di titik inilah saya mulai menyadari bahwa semangat yang dulu menyala terang perlahan mulai meredup. Saya pun dihadapkan pada dua pilihan: membiarkan semangat itu semakin redup atau berusaha merawatnya agar kembali berkobar.

Saya memilih untuk terus merawatnya. Ada beberapa langkah sederhana yang selama ini saya lakukan agar semangat mengajar tetap terjaga.

Dalam Islam, setiap amal bergantung pada niatnya. Menjadi guru adalah profesi yang mulia. Sayang rasanya jika ladang pahala ini hanya menjadi tempat melepas lelah tanpa makna.

Karena itu, saya berusaha selalu meluruskan niat bahwa mengajar merupakan bentuk ibadah kepada Allah Swt. Dengan niat yang benar, kita berharap Allah senantiasa memberikan kekuatan, keikhlasan, dan keberkahan dalam menjalankan amanah sebagai pendidik.

Menjaga niat memang terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mudah. Berbagai persoalan yang datang silih berganti terkadang membuat niat mulai memudar. Saat itulah kita perlu kembali mengingat tujuan awal mengapa memilih jalan pengabdian ini.

Menata Hati

Setiap hari selalu menghadirkan pengalaman baru. Tidak semuanya berjalan sesuai harapan. Ada kalanya persoalan di sekolah membuat hati lelah dan semangat menurun.

Namun, saya memiliki cara sederhana untuk kembali menguatkan diri. Setiap pagi ketika tiba di sekolah, anak-anak telah berbaris untuk bersalaman. Melihat wajah-wajah polos mereka yang penuh senyum selalu menghadirkan kebahagiaan tersendiri.

Pada momen itulah saya menarik napas dalam-dalam dan mengingat kembali bahwa di hadapan saya berdiri generasi penerus bangsa. Kesadaran tersebut membantu saya menata hati agar kembali ikhlas dan bersemangat menjalankan tugas sebagai guru. Rutinitas akan terasa lebih bermakna jika kita memiliki tujuan yang jelas. Oleh karena itu, setiap kegiatan pembelajaran perlu dipersiapkan dengan baik.

Menyusun rencana pembelajaran membuat setiap hari menjadi kesempatan untuk mewujudkan ide-ide baru. Ada metode yang ingin dicoba, aktivitas yang ingin diterapkan, dan pengalaman belajar yang ingin diberikan kepada peserta didik. Dengan begitu, rutinitas tidak lagi terasa membosankan karena selalu ada tantangan baru yang menanti.

Menjalin Relasi

Guru tidak dapat berjalan sendirian. Kehadiran rekan sejawat yang saling mendukung menjadi sumber energi yang sangat berarti.

Di sela kesibukan, ada canda yang menghangatkan suasana, ada saran yang membangun, dan ada semangat yang saling ditularkan. Lingkungan kerja yang positif mampu mengurangi beban sekaligus menjaga semangat agar tetap menyala.

Keempat langkah tersebut tentu bukan satu-satunya cara untuk menjaga semangat mengajar. Banyak guru senior yang memiliki pengalaman dan kiat yang lebih berharga. Tulisan ini hanyalah refleksi sederhana dari perjalanan saya sebagai seorang pendidik.

Mengabdi dalam waktu yang lama dengan rutinitas yang hampir sama memang dapat menghadirkan kejenuhan. Namun, semangat mengajar adalah api yang harus terus dirawat. Selama api itu tetap menyala, setiap tahun pengabdian akan menjadi tahun-tahun yang penuh makna.

Tetaplah semangat, rekan-rekan guru. Jangan biarkan pengabdian ini redup. Setiap hari di sekolah adalah kesempatan untuk menanam benih kebaikan yang kelak akan tumbuh menjadi amal yang terus mengalir.

Sebagai guru, kita memiliki harapan besar yang dijanjikan Allah Swt. Pertama, ilmu yang bermanfaat. Setiap ilmu yang diajarkan dan diamalkan oleh peserta didik akan menjadi pahala yang terus mengalir, bahkan ketika guru telah tiada.

Kedua, derajat yang ditinggikan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11 bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

Ketiga, doa dari para malaikat dan seluruh makhluk. Rasulullah saw. bersabda bahwa para malaikat, semut di dalam lubangnya, hingga ikan di lautan memohonkan ampunan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada sesama manusia.

Menjadi guru bukan se­kadar menjalankan profesi, tetapi sebuah perjalanan pe­ng­abdian yang penuh makna. Selama semangat itu te­rus dirawat, setiap langkah kecil yang dilakukan di ruang kelas akan menjadi investasi kebaikan yang terus mengalir hingga akhir hayat. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
pengabdian guru rutinitas guru kejenuhan guru semangat mengajar dunia pendidikan