PADEK.JAWAPOS.COM-Kerusakan akses jalan menuju sejumlah daerah di Sumatera Barat pascabencana berdampak langsung pada distribusi telur serta pasokan pakan ayam, terutama jagung.
Kondisi ini dirasakan para peternak ayam petelur di Kabupaten Limapuluh Kota, termasuk di sentra peternakan ayam di Taeh, Kecamatan Payakumbuh.
Salah satu pemilik peternakan ayam petelur, Ermrizal Jalinus, mengungkapkan bahwa distribusi telur paling terdampak menuju wilayah Padang dan Pasaman. Rute utama yang terputus membuat jalur pengiriman harus memutar jauh.
“Untuk distribusi telur yang bermasalah itu ke Padang dan Pasaman,” jelasnya saat ditemui di kandangnya.
Menurut Ermrizal, kerusakan jalan di kawasan Lembah Anai membuat pengiriman ke Padang terpaksa dialihkan melalui jalur Sitinjau Lauik, Solok, sehingga biaya distribusi meningkat.
“Jalan di Lembah Anai rusak, jadi kami harus memutar lewat Sitinjau Lauik. Otomatis biaya bertambah dan harga telur di Padang ikut naik,” ujarnya.
Sementara itu, akses menuju Pasaman sempat benar-benar terputus. Kondisi ini membuat pasokan pakan khususnya jagung terhenti dan harganya melonjak tajam.
“Ke Pasaman itu kemarin putus semua jalannya. Untuk jagung itu terputus, jadi harga sangat-sangat naik,” katanya.
Saat ini jalur pengiriman sudah mulai terbuka, namun belum sepenuhnya normal. Masih terdapat titik banjir dan longsor yang membuat mobilitas barang terganggu.
“Sekarang jalan sudah bisa dilalui, pendistribusian jagung sudah mulai lancar, tapi belum maksimal. Masih ada titik banjir dan longsor,” tambahnya.
Meski distribusi sempat tersendat, harga telur di tingkat peternak di Limapuluh Kota tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan. Namun permintaan dari pasar justru meningkat.
“Untuk harga di kandang tidak ada kenaikan. Cuma permintaan memang banyak. Mungkin yang naik itu di pasar, tapi di kandang belum,” jelasnya.
Harga telur di tingkat peternak saat ini berkisar Rp1.650 per butir, dengan stok yang disebut masih mencukupi untuk kebutuhan distribusi. Sementara harga di Padang berada pada kisaran Rp1.700 per butir.
Di sisi lain, harga jagung sebagai bahan pakan utama juga mengalami fluktuasi. Ermrizal menyebut, sebelum bencana harga jagung normal berada di kisaran Rp7.300 per kilogram.
Namun akibat putusnya akses jalan dan kondisi musim panas sebelumnya, harga melonjak hingga Rp8.000 per kilogram bagi peternak yang kehabisan stok.
“Dengan jalan yang mulai lancar, harga jagung sudah mulai turun ke sekitar Rp7.500 per kilogram,” katanya.
Peternak berharap pemerintah segera mempercepat perbaikan infrastruktur, terutama di titik-titik rawan yang masih menghambat distribusi logistik, agar harga pakan dan telur kembali stabil sepenuhnya. (rid)
Editor : Novitri Selvia