PADEK.JAWAPOS.COM – Pertemuan Argentina melawan Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026 kembali menghidupkan salah satu rivalitas terbesar dalam sejarah sepak bola. Duel di Atlanta Stadium pada Kamis, 16 Juli 2026 pukul 02.00 WIB ini, mengingatkan publik pada perempat final Piala Dunia 1986 ketika Diego Maradona mencetak dua gol legendaris, yakni Hand of God dan Goal of the Century, yang membawa Argentina menang 2-1 atas Inggris.
Gol kedua Maradona kemudian dipilih FIFA sebagai Goal of the Century melalui pemungutan suara global pada 2002. Aksi individu tersebut tidak hanya mengantar Argentina ke semifinal Piala Dunia 1986, tetapi juga mengukuhkan Maradona sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang sejarah.
Pertandingan pada 1986 juga sarat makna emosional. Empat tahun sebelumnya, Argentina dan Inggris terlibat dalam Perang Falklands atau Malvinas pada 1982.
Baca Juga: Inggris vs Argentina: Head to Head 14 Pertemuan Warnai Duel Klasik Semifinal Piala Dunia 2026
Ketika kedua negara bertemu di Estadio Azteca, Mexico City, rivalitas politik dan sejarah ikut membayangi pertandingan yang kemudian menjadi salah satu laga paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.
Fakta Singkat Argentina vs Inggris 1986
- Kompetisi: Perempat final Piala Dunia FIFA 1986
- Tanggal: 22 Juni 1986
- Stadion: Estadio Azteca, Mexico City, Meksiko
- Hasil: Argentina 2-1 Inggris
- Pencetak gol Argentina: Diego Maradona (51', 55')
- Pencetak gol Inggris: Gary Lineker (81')
- Pelatih Argentina: Carlos Bilardo
- Pelatih Inggris: Bobby Robson
Mengapa Rivalitas Argentina vs Inggris Begitu Bersejarah?
Berdasarkan catatan pertandingan internasional resmi sebelum perempat final Piala Dunia 1986, Inggris unggul dalam rekor pertemuan dengan empat kemenangan, tiga hasil imbang, dan satu kemenangan Argentina. Adapun di ajang Piala Dunia, kedua negara sebelumnya hanya bertemu dua kali, yakni pada edisi 1962 dan 1966, yang seluruhnya dimenangkan Inggris.
Pada Piala Dunia 1966 di Wembley, Inggris menang 1-0 dalam pertandingan yang diwarnai kartu merah kontroversial untuk kapten Argentina, Antonio Rattin. Seusai laga, pelatih Inggris Alf Ramsey menyebut pemain Argentina dengan pernyataan yang memicu kemarahan dan semakin memperkuat rivalitas kedua negara.
Baca Juga: Drama Extra Time! Argentina Tumbangkan Swiss 3-1, Inggris Menanti di Semifinal Piala Dunia 2026
Bagaimana Perjalanan Kedua Tim Menuju Perempat Final?
Pada Piala Dunia FIFA 1986 di Meksiko, Argentina tampil meyakinkan setelah menjadi juara Grup A yang dihuni Italia, Bulgaria, dan Korea Selatan. Tim asuhan Carlos Bilardo kemudian menyingkirkan Uruguay pada babak 16 besar untuk melaju ke perempat final.
Sementara itu, Inggris mengawali turnamen dengan kekalahan 0-1 dari Portugal dan bermain imbang tanpa gol melawan Maroko. Namun, lima gol Gary Lineker dalam dua pertandingan berikutnya membawa The Three Lions mengalahkan Polandia dan Paraguay untuk mencapai perempat final.
Apa Perubahan Taktik Carlos Bilardo?
Ketika itu, Carlos Bilardo melakukan perubahan penting menjelang menghadapi Inggris.
Oscar Garré harus absen karena menjalani hukuman skorsing sehingga Julio Olarticoechea mengisi sektor kiri pertahanan. Bilardo juga mengambil keputusan taktis dengan mencadangkan penyerang Pedro Pasculli dan memainkan Héctor Enrique sebagai starter untuk memperkuat lini tengah.
Perubahan tersebut membuat Argentina tampil lebih solid melalui kombinasi Sergio Batista, Ricardo Giusti, dan Héctor Enrique di sektor tengah, sementara Olarticoechea menjaga keseimbangan permainan dari sisi kiri. Skema tersebut memberi Diego Maradona ruang yang lebih besar untuk membangun serangan.
Di kubu Inggris, Terry Fenwick kembali bermain setelah menjalani skorsing dan menggantikan Alvin Martin. Sebaliknya, kapten Bryan Robson masih harus absen akibat cedera bahu.
Bagaimana Hand of God Terjadi?
Pertandingan tahun 1986 itu berlangsung keras sejak menit-menit awal. Terry Fenwick menerima kartu kuning pada menit kesembilan setelah melanggar Maradona.
Kontroversi muncul pada menit ke-51. Steve Hodge gagal menghalau bola yang melambung ke arah Peter Shilton. Maradona kemudian melompat dan menyentuh bola menggunakan tangan kirinya sebelum bola masuk ke gawang. Meski para pemain Inggris melakukan protes keras, wasit tetap mengesahkan gol tersebut.
Gol itu kemudian dikenal di seluruh dunia dengan sebutan Hand of God.
Mengapa Goal of the Century Dianggap Gol Terbaik?
Empat menit setelah mencetak gol kontroversial, Maradona kembali menciptakan salah satu momen paling bersejarah dalam sepak bola.
Ia menerima umpan Héctor Enrique di wilayah permainannya sendiri, lalu menggiring bola sekitar 60 meter melewati Peter Beardsley, Peter Reid, Terry Butcher, Terry Fenwick, dan Peter Shilton sebelum menceploskan bola ke gawang.
Gol spektakuler tersebut kemudian dipilih FIFA sebagai Goal of the Century melalui pemungutan suara global pada 2002.
Argentina akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 2-1 setelah Gary Lineker memperkecil ketertinggalan pada menit ke-81.
Dipuji Rekan dan Lawan
Maradona memang hanya menyebut gol keduanya sebagai "gol yang bagus". Namun, banyak tokoh sepak bola menilai aksi tersebut sebagai salah satu gol individu terbaik sepanjang sejarah.
Jorge Valdano mengaku sempat berlari mengikuti serangan sebelum menyadari bahwa seluruh aksi itu sepenuhnya merupakan karya Maradona.
"Awalnya saya ikut berlari bersamanya. Kemudian saya sadar bahwa saya hanyalah penonton. Itu adalah golnya dan tidak ada hubungannya dengan tim. Itu adalah petualangan pribadi Diego yang benar-benar spektakuler," katanya, dikutip dari laman FIFA.
Mantan kapten Inggris Gary Lineker juga mengaku hampir ingin bertepuk tangan melihat gol kedua Maradona karena keindahannya dan menyebutnya sebagai salah satu gol terbaik yang pernah ia saksikan.
Sementara itu, komentator legendaris Argentina, Víctor Hugo Morales, mengabadikan momen tersebut dengan seruan ikonik, "¡Genio! ¡Genio! ¡Genio!", yang hingga kini masih dikenang pencinta sepak bola.
Baca Juga: Update Ranking FIFA 4 Semifinalis Piala Dunia 2026, Siapa Teratas?
Statistik Bersejarah Diego Maradona
Menurut FIFA Technical Report Mexico 1986, Maradona menjadi pemain yang paling sering dilanggar sepanjang turnamen dengan total 53 pelanggaran, atau 20 kali lebih banyak dibanding pemain lain pada edisi tersebut. Enam dari pelanggaran itu terjadi pada babak pertama saat menghadapi Inggris.
Hingga kini, Maradona masih memegang tiga catatan tertinggi sebagai pemain yang paling sering dilanggar dalam satu edisi Piala Dunia, yakni 53 kali pada 1986, 50 kali pada 1990, dan 36 kali pada 1982.
Mengapa Jersey Biru Argentina Menjadi Ikonik?
Pertandingan melawan Inggris juga melahirkan kisah unik di balik seragam Argentina.
Tim asuhan Carlos Bilardo awalnya menyiapkan jersey berbahan Aertex yang lebih ringan untuk menghadapi cuaca panas di Meksiko. Namun, karena harus mengenakan seragam tandang, staf Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) membeli jersey biru polos di sebuah toko olahraga di Mexico City.
Baca Juga: Piala Dunia 2030 Cetak Sejarah, Pertama Digelar di Enam Negara dan Tiga Benua
Logo AFA kemudian dijahit secara manual, sedangkan nomor punggung berwarna perak dipasang menggunakan teknik heat press sebelum jersey tersebut dipakai saat menghadapi Inggris.
Ketika melihat salah satu jersey itu, Maradona dikisahkan mengatakan bahwa seragam tersebut tampak bagus dan Argentina akan mengalahkan Inggris dengan mengenakannya. Ucapan sang kapten akhirnya menjadi kenyataan.
Bagaimana Rekor Argentina vs Inggris di Piala Dunia?
Setelah pertemuan bersejarah pada 1986, kedua negara kembali bertemu pada babak 16 besar Piala Dunia 1998. Saat itu Argentina lolos melalui adu penalti setelah bermain imbang 2-2 selama 120 menit.
Empat tahun kemudian, Inggris membalas dengan kemenangan 1-0 atas Argentina melalui penalti David Beckham pada fase grup Piala Dunia 2002.
Kini, sejarah kembali mempertemukan kedua negara pada semifinal Piala Dunia 2026. Argentina datang sebagai juara bertahan setelah menyingkirkan Swiss dengan skor 3-1 melalui perpanjangan waktu. Sementara Inggris melaju usai mengalahkan Norwegia 2-1 melalui babak perpanjangan waktu berkat dua gol Jude Bellingham.
Pertandingan di Atlanta bukan sekadar perebutan tiket menuju final, tetapi juga menjadi babak terbaru dari salah satu rivalitas terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.(*)
Editor : Heri Sugiarto