Eropa Mendidih, Indonesia Perlu Bersiap

Marzuki • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 06:12 WIB
Marzuki.
Marzuki.

Penulis : Marzuki - Guru Besar Fisika Atmosfer Universitas Andalas, Ketua LPPM Universitas Andalas. 

Musim panas di Eropa biasanya identik dengan suasana menyenangkan: berjalan di taman, duduk di kafe terbuka, atau berlibur ke pantai.

Namun pada 2026, gambaran itu berubah drastis. Benua yang selama ini dikenal memiliki musim panas relatif sejuk kembali dilanda gelombang panas luar biasa. Suhu bukan hanya naik beberapa derajat, tetapi menembus rekor di banyak negara.

Panas berlangsung lama, meluas, dan terlalu berat bagi tubuh manusia. Pada 29 Juni, WMO menyebut lebih dari 150 juta orang terdampak, dengan lebih dari 1.300 kematian. Angka ini masih berpotensi bertambah.

Eropa di Bawah Kubah Panas

Tanda-tanda gelombang panas sudah muncul sejak Mei. Menurut Copernicus Climate Change Service, Eropa Barat mengalami gelombang panas yang sangat dini dan intens pada 21-30 Mei 2026.

Di Prancis bagian barat, Inggris, dan Wales, suhu rata-rata harian sempat lebih dari 10°C di atas normal. Belum sempat Eropa menarik napas, gelombang panas yang lebih luas datang pada akhir Juni.

Prancis mencatat hari-hari terpanas sejak pengamatan modern dimulai. Beberapa wilayah barat mencapai 39-43°C, bahkan sejumlah stasiun melaporkan suhu di atas 43°C.

Spanyol mencatat suhu di atas 40°C di banyak lokasi; Bilbao mencapai 42,7°C, rekor untuk Juni. Jerman melaporkan 41,7°C di Coschen, Austria menyentuh 40°C di Wina, Belanda mencatat rekor Juni 39,4°C, dan Inggris mengalami hari Juni terpanasnya, sekitar 36-37°C.

Apa yang sebenarnya terjadi? Dalam bahasa sederhana, Eropa sedang berada di bawah “tutup panci” atmosfer. Para ahli menyebutnya heat dome atau kubah panas. Sis­tem tekanan tinggi yang kuat dan bergerak lambat menetap di atas suatu wilayah.

Akibatnya, udara panas terperangkap, awan ber­ku­rang, angin melemah, dan sinar matahari terus memanaskan permukaan. Pada Juni, pola ini juga dikaitkan dengan omega block, yaitu bentuk aliran jet stream atau pita angin kencang yang melengkung seperti huruf Yunani omega.

Pola ini menciptakan semacam kemacetan di atmosfer, di mana udara panas dari Afrika Utara terdorong ke Eropa, tetapi sulit keluar karena sistem cuaca di sekitarnya mengunci posisinya.

Gelombang panas bukan hal baru bagi Eropa. Yang baru adalah suhu dasarnya kini jauh lebih tinggi. Analisis World Weather Attribution menyebutkan bahwa gelombang panas tahun 2026 sekitar 2°C lebih panas dibandingkan gelombang panas 2003, dan sekitar 3,5°C lebih panas dibandingkan peristiwa serupa pada 1976.

Dengan demikian, mereka menyimpulkan bahwa gelombang panas di Eropa pada Juni 2026 berkaitan erat dengan krisis iklim. Eropa memang memanas lebih cepat dibanding rata-rata dunia.

Laporan Copernicus menyebut Eropa sebagai benua dengan pemanasan tercepat, sekitar 0,56°C per dekade sejak pertengahan 1990-an, lebih dari dua kali rata-rata global.

WMO menyebut bahwa dalam 50 tahun sejak gelombang panas besar 1976, Eropa secara keseluruhan telah menghangat sekitar 2°C. Deutsche Welle juga mencatat suhu rata-rata Eropa sudah naik sekitar 2,5°C dibanding masa praindustri.

Kedekatan dengan Arktik yang memanas cepat, berkurangnya salju dan es yang dulu memantulkan sinar matahari, serta perubahan pola jet stream membuat benua ini semakin mudah terkunci dalam cuaca ekstrem.

Faktor Penguat

Ada beberapa faktor lain yang memperparah gelombang panas ini: tanah kering, laut hangat, dan udara kota. Ketika tanah masih lembap, sebagian energi matahari digunakan untuk menguapkan air sehingga suhu permukaan tertahan.

Namun ketika tanah kering, energi matahari langsung menaikkan suhu udara. Laut yang lebih hangat di sekitar Inggris, Irlandia, Teluk Biscay, dan Mediterania barat juga mengurangi pendinginan malam, terutama di wilayah pesisir.

Di kota-kota padat, aspal, beton, sedikit pohon, dan minim ruang terbuka menciptakan pulau panas perkotaan atau urban heat island. Suhu regional 35°C dapat terasa seperti 38°C atau 40°C di jalan sempit tanpa naungan.

Kondisi inilah yang membuat gelombang panas tetap kuat pada malam hari. Heat dome menjebak panas, tanah dan bangunan melepaskan panas yang tersimpan, laut hangat menghambat pendinginan, kelembapan membuat tubuh sulit mendingin, dan perubahan iklim menaikkan suhu dasar malam hari.

Dalam kondisi panas normal, tubuh masih memiliki kesempatan pulih ketika suhu turun pada malam hari. Namun pada 2026, rekor suhu ma­lam ikut tumbang. Prancis mencatat malam terpanas secara nasional, sementara di beberapa tempat suhu minimum tetap di atas 20°C, bahkan jauh lebih tinggi.

Kondisi ini membuat tubuh tidak bisa istirahat pada malam hari. Jantung, pembuluh darah, dan sistem pendingin tubuh bekerja terus-menerus. Anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruang, tunawisma, dan orang dengan penyakit kronis menjadi kelompok paling rentan. Meski demikian, pada suhu ekstrem yang berlangsung berhari-hari, siapa pun bisa terdampak.

Pelajaran dari Eropa

Indonesia mungkin tidak mengalami “gelombang panas” dalam definisi klasik seperti di Eropa. Karakteristik iklim kedua wilayah berbeda. Eropa memiliki iklim sedang dengan variasi musiman yang jelas, sementara Indonesia beriklim tropis dengan suhu relatif stabil sepanjang tahun, tetapi kelembapan sangat tinggi. Di Eropa, gelombang panas ditandai dengan lonjakan suhu drastis yang jauh melampaui kondisi normal. Di Indonesia, suhu udara jarang mencapai 40°C, tetapi kombinasi suhu 32-35°C dengan kelembapan 80-90% dapat menciptakan kondisi yang juga berat bagi tubuh manusia.

Masyarakat Indonesia terpapar panas-lembap secara terus-menerus sepanjang tahun. Kondisi ini dikenal sebagai tekanan panas kronis atau chronic heat stress. Karena itu, ancaman panas ekstrem di Indonesia tetap serius dan memerlukan perhatian segera. Indonesia perlu bersiap, terlebih dengan adanya potensi El Niño ekstrem pada 2026 yang dapat meningkatkan suhu di banyak wilayah.

Langkah Adaptasi dan Mitigasi

Menghadapi peningkatan risiko panas ekstrem, Indonesia perlu menyiapkan strategi adaptasi yang terintegrasi dari tingkat nasional hingga komunitas. Pemerintah perlu menyusun Heat Action Plan yang mencakup sistem peringatan dini, peta kerentanan panas, protokol respons darurat, serta kampanye edukasi masyarakat.

Risiko panas juga perlu dimasukkan dalam perencanaan tata ruang kota melalui perluasan ruang terbuka hijau, penghijauan perkotaan, infrastruktur biru seperti kolam dan danau buatan, penggunaan material bangunan beralbedo tinggi, ventilasi alami, serta pengurangan permukaan kedap air seperti aspal dan beton.

Di tingkat masyarakat dan sektor-sektor penting, perlindungan kelompok rentan harus menjadi prioritas, terutama lansia, anak-anak, pekerja luar ruang, dan penderita penyakit kronis. Edukasi tentang dehidrasi, heat exhaustion, dan heat stroke perlu diperkuat. Penyesuaian jam kerja, kesiapan fasilitas kesehatan, protokol sekolah saat suhu ekstrem, serta penguatan infrastruktur energi juga perlu disiapkan.

Dalam jangka panjang, mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan emisi gas rumah kaca, perlindungan hutan, dan restorasi ekosistem tetap menjadi kunci untuk menekan peningkatan panas ekstrem di masa depan.

Bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia, kisah Eropa bukan sekadar kabar jauh dari benua lain. Ia adalah cermin masa depan bila pemanasan terus dibiarkan. Cuaca ekstrem tidak selalu datang dalam bentuk badai besar. Kadang ia datang ketika hari tampak cerah, langit biru, dan angin nyaris tidak bergerak. Justru karena tampak biasa, panas ekstrem sering diremehkan. Padahal, dalam diam, ia bisa menjadi sangat mematikan. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
gelombang panas Eropa 2026 musim panas ekstrem suhu tertinggi Eropa perubahan iklim WMO