Sungguh negeri ini negeri yang banyak paradoksnya. Lautnya luas tapi terpaksa juga impor garam. Tanah subur dan sawahnya luas, tapi tetap saja impor beras. Kini paradoks baru muncul lagi. Kebun Kelapa Sawitnya terluas di dunia tapi eee malah minyak gorengnya langka. Jangan-jangan nanti negeri ini juga terpaksa mengimpor minyak goreng dari negeri jiran Malaysia atau Nigeria sebagai pemilik kebun Kelapa Sawit kedua dan ketiga terbesar di dunia.
Seminggu ini sebuah meme lucu bertaburan di jagad medsos. Dua foto menggambarkan orang mengantri terlihat warawiri di dunia maya. Pada foto di bagian atas terlihat emak emak mengantri panjang menunggu jatah dapat membeli minyak goreng. Pada bagian bawah meme itu terlihat bapak bapak menunggu jatah mengisi Bio Solar (b-30) di salah satu Stasiun Pengisin Bahan Bakar Umum (SPBU). Tak tau kita itu foto dimana, siapa yang membuatnya dan kapan kejadiannya. Namun, sentilan dari meme itu mendekati realita.
Tak percaya? Lihatlah di lapangan. Ibu ibu “menjerit”, minyak goreng sulit didapatkan. Sudahlah mahal sulit pula lagi. Padahal negeri ini adalah penghasil Crude Palm Oil terbesar di dunia. Hingga akhir tahun 2021 Indonesia adalah pemilik kebun Kelapa Sawit terluas di dunia. Luasan kebun Kelapa Sawit di Indonesia mencapai 16,5 Juta Hektare. Artinya 54,5 persen dari total luasan kebun Kelapa Sawit di dunia (l/k 30 Juta Hektare-red) tumbuh subur dan bagus di Indonesia. Di belakang Indonesia tampak negeri Jiran Malaysia dengan 5,35 Juta hektare dan setelah itu disusul Nigeria dengan luasan kebun Kelapa Sawitnya 2,5 Juta hektare.
Sebagai pemilik kebun Kelapa Sawit terbesar di dunia tentulah produksi Crude Palm Oilnya juga terbesar di dunia. Hingga akhir tahun 2021 tercatat produksi Crude Palm Oil Indonesia mencapai 46,88 Juta ton. Setelah itu baru disusul Malaysia 19,3 Juta ton dan Thailand 3 Juta ton. Secara year on year produksi Crude Palm Oil Indonesia sedikit menurun. Ini juga tak terlepas dari berkurangnya produksi Tanda Buah Sawit (TBS) selama tahun 2021. Bisa saja faktor perawatan dan pemupukan Kelapa Sawit tak berjalan dengan baik karena ekonomi petani yang sudah nyungsep akibat Covid. Jika dalam satu kilo Crude Palm Oil rendemennya 0,68 persen untuk minyak goreng maka kita bisa bayangkan betapa besar produksi yang bisa dihasilkan dari Crude Palm Oil tersebut. Dipastikan tak akan terjadi kelangkaan seperti saat ini.
Kok langka juga? Tentu ada yang salah. Setidaknya ada empat titik point yang perlu ditelusuri kenapa sampai terjadi kelangkaan seperti ini. Pertama, Produksi. Dengan kapasitas Produksi Crude Palm Oil sebanyak 46,88 Juta ton sudahkah itu diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan minyak goreng nasional. Jangan-jangan terjadi perpindahan turunan produk Crude Palm Oil. Jika semula lebih diutamakan untuk minyak goreng kini justru berpindah ke produk lain. Produsen beralih ke produk yang memiliki harga ekonomis lebih tinggi seiring terus merangkak naiknya harga Tandan Buas Sawit (TBS).
Kedua, sistem tata niaga. Ini juga bisa menjadi pemicu kelangkaan di pasar. Intervensi pasar tak selamanya bisa diandalkan untuk penetrasi. Mulai dari stabilitas harga hingga ketersediaan barang di pasar. Tak jarang juga hasilnya justru sebaliknya. Intervensi pasar ditangkap berbeda oleh publik dan mematik panik buyying. Lihatlah di lapangan, setiap operasi pasar selalu terjadi jubelan emak emak yang mengantri. Inipun bisa memicu trust publik seolah-olah barang ini memang langka.
Fakta membuktikan, tak semuanya barang bisa dikendalikan. Ada masa dan produk yang dapat distabilisator dengan intervensi pasar dan ada pula yang tidak. Untuk minyak goreng mungkin termasuk sulit karena produk ini diproduksi oleh bagian kecil produsen. Rerata pemiliknya adalah pemilik kapital yang kuat dan berkantong tebal.
Ketiga, mata rantai distribusi. Ini juga bisa menciptakan peluang kelangkaan barang di pasar. Setidaknya ada empat tahap dan rantai distribusi. Pabrik (produsen) - Agen - Distributor - Grosir - Pengecer. Jangan jangan ada tambahan waktu untuk memigrasikan barang dari satu mata rantai ke mata rantai distribusi berikutnya dari kondisi normal sebelumnya. Namun peluang dari point relatif kecil dan tak berdampak sistemik. Sifatnya lebih berbasis wilayah saja.
Keempat, Penimbunan. Ini bisa saja terjadi. Setiap mata rantai tadi dapat saja melakukan itu. Hukum pasar tak bisa dilawan. Barang sedikit, harga melangit dan marginnya pun kian menarik. Tapi sikap ini jelaskan tak manusiawi. Perangai oportunis demi menebalkan kantong pribadi dengan menelantar kepentingan orang banyak ini jelas tak bisa ditoleransi. Aparat penegak hukum harus tegas dan lugas tentang itu.
Sebetulnya jejak digital sudah memberikan early warning system. Gejolak dan bakal merangkak naiknya harga minyak goreng ini sudah mulai terpantau semenjak akhir tahun 2021 yang lalu. Kala itu secara bertahap harga minyak goreng dari bulan ke bulan terus merangkak naik. Bahkan pernah menyentuh angka Rp 20 ribu perliternya. Namun, gejala dan pertanda pasar ini seperti tidak diresponi serius. Bangsa ini terlalu konfiden minyak goreng ini tak akan menimbulkan masalah. Toh kita negeri penghasil minyak sawit terbesar di dunia.
Kelangkaan vs Penyesuaian Harga
Ada point yang selama ini kita cenderung melupakan dari minyak goreng ini. Satu di antara yang kita lupa itu adalah terjadinya perubahan harga.
Minyak goreng bahan baku utamanya adalah buah Kelapa Sawit. Buah Kelapa Sawit merupakan bahan baku tunggal untuk menghasilkan Crude Palm Oil. Dari Crude Palm Oil inilah sejumlah produk dihasilkan. Cukup banyak varian dan produk turunan yang dapat dihasilkannya.
Data menunjukan semenjak memasuki Q/2021 harga Tandan Buah Sawit mulai merangkak naik. Puncaknya periode Maret 2021 ini harga TBS mencapai top nya dikisaran 3.500 per kilonya. Besaran harga ini merupakan harga tertinggi semenjak tiga tahun yang terakhir.
Kenaikan harga TBS tak ubahnya pisau bermata dua. Bagi masyarakat dan petani sawit kenaikan harga TBS adalah berkah disaat ekonomi sulit seperti ini. Kenaikan harga tak ubahnya se tetes air di tengah gurun tandus. Inilah yang diharapkan petani sawit setelah cukup lama tertunduk lesu akibat fluktuasi harga sawit yang tak kunjung pulih.
Benarkah berkah? Turunlah ke lapangan. Sejumlah daerah sentra sawit hari ini mengalami “surplus likuiditas”. Data ini bisa dilihat pada lembaga keuangan. Selain itu kenaikan harga TBS menghasilkan “Orang Kaya Baru” (OKB) secara dadakan. Buktinya, penjualan sejumlah produk otomotif dan elektronik naik tajam di wilayah penghasil sawit. Ini fakta. Kalau tak percaya silakan tanya lembaga keuangan dan pelaku bisnis otomotif.
Itu dari sisi petani sawit. Bagaimana dengan produsen? Di sinilah dilemanya. Kelapa sawit adalah bahan baku tunggal Crude Palm Oil. Semenjak Q1/2021 harganya terus merangkak naik. Sementara harga produk minyak goreng sebagai produk turunan Crude Palm Oil nyaris tak bisa naik mengiringi fluktuasi bahan bakunya.
Sebagai pengusaha, tentulah produsen tak mungkin berlama-lama menanggung beban perubahan bahan baku. Tak mungkin pula seorang pengusaha mau berbisnis rugi dan terus melakukan subsidi demi sebuah hasil produksi. Pilihannya hanya satu, kalau tidak menaikan harga, ya mengurangi produksi sambil mencari produk derivatif lain yang lebih menguntungkan secara bisnis.
Sudahlah. Kelangkaan barang di pasar adalah sebuah sinyal kuat dan bertali merah dengan harga. Sinyalnya jelas dan tegas. Kitapun mesti arif menyikapi. Berapa kenakan harga TBS secara year on year dan berapa pula kenaikan harga minyak goreng secara year on year. Sepadankah dengan harga saat ini minyak goreng saat ini?
Berlakukanlah tata niaga minyak goreng mengikuti irama pasar. Tetapkan saja Harga Eceran Terendah (HET) dan HET tertinggi. Lakukan pengawasan dengan ketat dan tegas.Yang menyalahi aturan tindak tegas saja. Segera “guyur pasar” dengan minyak goreng. Panggil dan paksa produsen memacu produksi maksimum sehingga kelangkaan bisa teratasi dengan cepat.
Penulis melihat kalaupun negeri ini terpaksa melakukan penyesuaian harga, bagi masyarakat sebagai konsumen dapat saja dimaklumi sepanjang penyesuaian harga itu wajar dan patut. Bagi publik sedikit lebih mahal tak jadi masalah sepanjang minyak goreng itu ada dan mudah didapatkan. Untuk apa murah tapi barang tak ada. Toh hukum harga dipasar juga tunduk dengan kepastian ketersediaan barang.
Awas Ledakan Konsumsi
Penulis melihat kita sudah nyaris terlambat. Tapi tak apa-apalah. Lebih baik nyaris terlambat daripada tidak melakukan antisipasi sama sekali.
Dalam hitungan hari, beberapa minggu ke depan bangsa yang dihuni oleh 273 juta jiwa ini akan memasuki bulan Ramadhan dan sebulan setelah itu akan memasuki Ied Fitri. Bagi umat muslim, dua momentum ini sangatlah berbeda dan istimewa. Selain mempersiapkan diri dan keluarga dengan baik menjalan ibadah, di dua momentum ini kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia mencapai posisi puncak.
Rerata kebutuhan konsumsi masyarakat selama bulan Ramadhan dan Ied fitri meningkat hampir 20-23 persen dari kondisi normal termasuk kebutuhan akan minyak goreng . Artinya, jika di hari biasa (sebelum Ramadhan) minyak goreng sulit didapatkan tak terbayangkan betapa bakalebuiknya negeri ini dibulan Ramadhan. Ingat ibu ibu perlu mengepulkan asap kualinya untuk memasak sambal dan makanan keluarga disaat berbuka dan dikala sahur. Sudahkah itu diantisipasi? Allahuallam. (***) Editor : Hendra Efison