Pamalayu. Pamalayu adalah sebuah historikal usang dan nyaris terlupakan bagi banyak orang. Sebuah mata rantai sejarah yang pernah digoreskan di wilayah tapal batas Sumatera Barat oleh Kerajaan Singosari ini nyaris hilang bak ditelan bumi. Pamoritas Pamalayu dan Kerajaan Dharmas Raya kalah terang dibandingkan Kerajaan Pagayurung. Apakah karena memang sudah sangat lama, atau bukti sejarahnya yang kurang memadai dibandingkan Kerajaan Pagaruyung.
Secara ilmiah ini lumrah. Pagaruyung adalah Minang Kabau. Induk dan suku terbesar yang menghuni Provinsi Sumatera Barat. Sementara Pamalayu dan Kerajaan Dharmas Raya adalah catatan di masa lalu. Selain bukti sejarah yang masih memerlukan penggalian mendalam, alur ceritanya pun perlu dicatat ulangkan kembali sehingga menjadi catatan yang sahih dari masa ke masa.
Dalam tulisan ini penulis tak ingin membandingkan antara Pamalayu dan Kerajaan Dharmasraya dan Kerajaan Pagaruyung. Selain tak pantas diperbandingkan, dua kerajaan ini adalah mata rantai yang saling berkaitan. Bacalah sejarahnya kalau anda tak percaya.
Pamalayu yang penulis ungkap di sini hanya sebagai sebuah penamaan dan pintu masuk untuk menyampaikan sebuah gagasan. Pamalayu hanya sebatas peminjaman nama untuk mimpi menghadirkan sebuah provinsi. Ya, Provinsi Pamalayu.
Mungkinkah diwujudkan? Penulis melihat sangat memungkinkan. Kelincahan dan kegesitan Bupati milenial Sutan.Riska Tuanku Kerajaan memimpin Kabupaten Dharmasraya membuka peluang Provinsi Pamalayu itu mendekati nyata.
Secara geografis, wilayah di tapal batas provinsi ini berpeluang untuk berdiri sendiri menjadi Provinsi. Letak yang terpaut jauh dari dua ibu Kota Provinsi Sumatera Barat (Kota Padang) dan Ibu kota Provinsi Jambi (Kota Jambi) membuat daerah itu relatif jauh untuk dikunjungi.
Dari Kabupaten Dharmasraya ke Kota Padang dibutuhkan 7 jam perjalanan. Dari Muaro Bungo ke Kota Jambi dibutuhkan 5 - 6 jam perjalanan. Kalau Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Kerinci tentu lebih jauh dan lebih lama lagi.
Infrastruktur Membuka Jalan
Kehadiran feeder tol di Kabupaten Dharmasraya yang akan dimulai tahun 2023 bukanlah sebuah pembangunan insfrastruktur biasa saja. Bak kotak pandoran, kehadiran feeder tol akan membuka banyak peluang. Selain akan menghadirkan kawasan sentra ekonomi terpadu baru, feeder tol itu juga akan menyuguhkan beragam keuntungan dan kemudahan dalam memobilisasi barang dan manusia. Semuanya dipastikan akan berdampak positif. Semuanya bisa berubah, semuanya juga bisa lebih mudah, termasuk satu diantaranya pemekaran Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jambi untuk menjadi provinsi baru di kawasan wilayah tapal batas tersebut.
Penulis ingin menyebut cikal bakal provinsi itu dengan nama Pamalayu. Di Provinsi baru ini sangat berpeluang bergabung sejumlah daerah, terutama daerah yang berdampingan sesama dalam provinsi ataupun daerah luar provinsi.
Sejumlah daerah dalam provinsi Sumatera Barat seperti Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Dharmasraya serta Kabupaten Solok Selatan. Dari Provinsi tetangga seperti Kota Muaro Bungo, Sarolangun, Merangin, Muaro Tebo dan Kabupaten Kerinci sedangkan untuk daerah pantainya Tanjung Jabung.
Secara geografis ini sangatlah memungkinkan. Jika Kabupaten Dharmasraya atau Muaro Bungo dijadikan ibu kota Provinsinya Pamaluyu, maka dari Kabupaten Muaro Tebo dan Rimbo Bujang tak akan membutuhkan waktu lama ke ibu kota Provinsi baru tersebut. Begitu juga Kabupaten Solok Selatan, dan Kerinci. Jalan melintas Solok Selatan via Abai Koto Baru Dharmasraya bisa mendekatkannya. Semuanya akan bisa diakses dan ditempuh tak akan lebih dari 5 jam.
Secara demografi ini juga sangat memungkinkan. Dari data BPS tahun 2021 tercatat penduduk Kabupaten Sijunjung sebanyak 240.079 jiwa, Kabupaten Dharmasraya sebanyak 228.591 jiwa, Kabupaten Solok Selatan sebanyak 182.027 jiwa, Kabupaten Kerinci sebanyak 238.003 jiwa, Kota Muaro Bungo sebanyak 374.337 jiwa, Kabupaten Sarolangun sebanyak 279.532 jiwa dan Muaro Tebo sebanyak 343.600 jiwa. Jika dikomparasikan ini nyaris sama dengan provinsi Bengkulu dengan jumlah daerah kota yang relatif sedikit.
Dari sisi etnis dan suku bangsa delapan daerah berdampingan ini relatif sama. Mayoritas beretnis melayu dan akulturasi berbagai suku bangsa. Ada Minangkabau selaku penduduk terbanyak, Jawa, Batak dan suku bangsa lainnya. Semua hidup rukun dan berdampingan bak satu keluarga. Inilah kebhinekaan kita semua.
Negeri Kaya tapi Miskin Sarana
Kalau ada yang meragukan potensi ekonomi Provinsi Pamalayu ini, maka sepertinya dia perlu belajar banyak kembali.
Delapan daerah ini adalah daerah yang sangat kaya potensi sumber daya alam. Baik mineral di perut bumi maupun sumber daya perkebunan di atas permukaan buminya.
Kabupaten Sijunjung merupakan daerah yang sangat berpotensi. Pasca ditemukan dan mulai dieksploitasinya Minyak dan Gas Bumi pada Blok Ganesha dan Blok Sinamar maka Kabupaten induk dari Kabupaten Dharmas Raya dan Kota Sawahlunto ini akan menjadi daerah kaya. Selain Minyak Bumi dan Batu Bara, Kabupaten Sijunjung juga memiliki hamparan perkebunan Kelapa Sawit dan perkebunan karet yang sangat luas.
Begitu juga dengan Kabupaten Dharmasraya. Di dalam bumi dan di atas bumi bertabur potensi ekonomi. Selain cadangan Batu Bara yang masih banyak, hamparan perkebunan kelapa sawit dan karetnya juga tak kalah dibandingkan Kabupaten Sijunjung. Lihatlah data di lapangan, sampai ke kawasan tapal batas Provinsi Jambi dan Provinsi Riau, pokok kelapa sawit tumbuh dengan subur disana.
Beda lagi dengan Kabupaten Solok Selatan. Banyaknya cadangan emas dan tembaga menjadi potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dimasa mendatang. Selain itu perkebunan Kelapa Sawit dan karet juga hijau membentang sepanjang mata memandang.
Beralih ke Kabupaten Kerinci. Selain memiliki hamparan kebun teh dan kopi, potensi wisata negeri Kerinci juga “harta karun” yang dapat dimanfaatkan dimasa mendatang.
Tak jauh berbeda dengan Kota Muaro Bungo, Sarolangun dan Tebo. Daerah ini masih satu hamparan dengan Kabupaten Dharmasraya. Sumber mineral di perut buminya sangat berlimpah. Selain batu bara yang menjadi sandaran utama PT Semen Padang dan PLTU Teluk Sirih, cadangan mineral berupa biji besinya juga tak kalah potensial. Itu didalam bumi, di atas permukaan buminya juga menghampar dengan sangat luas perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karetnya.
Infrastruktur dan Bandara Perintis
Jangan samakan Kabupaten Dharmasraya hari ini dengan Kabupaten Dharmasraya 20 tahun yang lalu. Jika 20 tahun lalu Kabupaten Dharmasraya daerah pemekaran minim sarana dan prasarana kini kondisinya sangat jauh berbeda.
Sejumlah infrastruktur tersedia di sana. Mulai jembatan gantung ala “Golden Gate San Fransisco” yang tampak cantik dan kokoh melintasi Batang Hari, sejumlah infrastruktur lainnya juga tersedia.
Mulai dari kawasan pemerintahan, kawasan olah raga terpadu, pusat perbelanjaan, Islamic Centre, Rumah Sakit hingga Kampus perguruan tinggipun tersedia. Intinya, sepuluh tahun terakhir Kabupaten Dharmas Raya berkembang pesat dan membalikan pandangan kita.
Kini satu lagi proyek merchusuar kembali akan dibangun. Feeder tol Kabupaten Dharmas Raya akan menjadi ikonik dan pintu masuk untuk melahirkan Provinsi baru. Kehadiran pintu tol (feeder tol) Dharmas Raya ke Rengat via Indragiri Hulu akan memudahkan arus barang dan manusia. Tol yang terkoneksi ke jalur lintas timur Pulau Sumatera akan mampu memangkas jarak tempuh ke pulau Jawa selaku pasar dan produsen utama. Jika saat ini dari Sumatera Barat menuju Jakarta dibutuhkan 30 jam perjalanan maka dengan terkoneksi Kabupaten Dharmas Raya ke lintas timur Sumatera akan dapat memangkas lama tempuh perjalanan hampir 40 persen. Artinya, hanya butuh waktu 19 jam untuk sampai ke Jakarta.
Selain memudahkan arus barang dari dan ke Jakarta, feeder tol juga akan mempercepat lama tempuh ke Provinsi Riau. Feeder tol ini akan menyambungkan Kabupaten Dharmasraya dengan Teluk Kuantan hingga ke Pekan Baru. Artinya, warga yang ingin ke Provinsi Riau tak perlu menempuh jalan panjang dan berliku ke Kiliran Jao-Sungai Tambang dan Lubuk Jambi.
Selain feeder tol, kawasan terdekat juga ada lapangan terbang perintis yang sudah beroperasional. Jika kelak Provinsi Pamalayu ini terbentuk maka bandara perintis yang berada di Muaro Bungo tersebut ini bisa menjadi sarana strategis. Tak tertutup kemungkinan bandara itu bisa dinaikan kelasnya menjadi bandara internasional.
Menjemput Sejarah
Ada sejarah panjang dan lama yang terlupakan bagi kita bersama. Dharmas Raya bukanlah sebuah nama kosong belaka.
Tak Percaya ? Bacalah sejarah. Operasi Pamalayu yang dilakukan Kerajaan Singosari ke utara menyisir pantai timur Sumatera mengantarkan penjelajah Singosari ke hulu Batang Hari. Pasukan Singosari itu berhasil mencapai centre of melayu dan mendirikan Kerajaan Dharmas Raya. Kerajaan ini berjaya dan makmur pasca meredupnya Singosari dan Sriwijaya. Kerajaan inilah yang menjadi bumper terakhir dari invansi India serta Mongolia ke Asia Tenggara.
Bukti sejarah kebesaran akan kerajaan Dharmas Raya itu masih ada. Peninggalan sejarah bisa kita lihat pada hari ini. Mulai dari patung Arca Bhairawa hingga sejumlah candi dan situs sejarah. Satu diantaranya yang sudah ditemukan dan dilakukan pemugaran kembali adalah Candi Padang Roco yang terletak di Pulau Punjung pusat pemerintahan Kabupaten Dharmas Raya hari ini. Sebetulnya masih banyak jejak dan bukti sejarah lain. Namun, semua jejak sejarah itu masih memerlukan pengkajian dan penelusuran sejarah.
Menanti Provinsi Pamalayu
Pamalayu hanya sebatas pengusulan nama saja. Bisa saja nama berubah dengan nama lain sesuai kesepakatan bersama. Substansi yang ingin kami sampaikan disini adalah bagaimana kita bisa memacu pertumbuhan dan pembangunan di daerah tapal batas. Betul pemekaran tidaklah satu satunya jalan. Masih banyak opsi dan langkah yang dapat ditempuh. Namun, kita juga musti ingat, jarak dan waktu terkadang membatasi ruang dan mobilitas kita. Semakin dekat pusat pemerintahan dengan wilayah dan warga yang dilayani semakin besar peluang daerah itu untuk berkembang berkembang. Yurisfrudensinya ada. Lihatlah Dhamas Raya hari ini dan bandingkan sebelum dimekarkan dari Kabupaten Sawahlunto Sijunjung.
Kini duduk bersamalah, berembuklah. Akahkah peluang emas itu dimanfaatkan atau kita akan melepaskan begitu saja. Satu hal yang pasti, sejumlah wilayah di luar pulau Sumatera terus berpacu dan berbenah. Sulawesi mempersiapkan sejumlah pemekaran provinsinya, Pulau Jawa juga seperti itu. Ingat, peluang tak akan pernah datang berulang. Kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak para tokoh yang ada saat ini siapa lagi. Mari, jadilah bagian dari sejarah untuk diwariskan pada anak cucu kita dimasa mendatang. Selamat datang Provinsi Pamalayu, kami tunggu kehadiran mu. (***) Editor : Hendra Efison