Sebuah foto menarik warawiri di jaringan medsos. Beberapa tokoh/pengusaha asal Sumbar duduk dan diskusi bersama di Resto Natrabu, Cilegon Provinsi Banten. Diskusi itu berlangsung santai tapi tampak serius. Satu di antara anak rantau tampak segeh bernama Komjen Pol Purn Boy Rafli Amar Dt Rangkayo Basa. Sejumlah tokoh yang berdiskusi itu menyampaikan pesan dari ranah. Pulanglah Jenderal, kampung halaman menunggumu.
Begitu benarlah harapan publik Sumatera Barat, terutama publik yang menginginkan perubahan. Publik yang mendambakan percepatan pembangunan. Publik yang merindukan percepatan pertumbuhan ekonomi. Publik mengharapkan lahirnya pertumbuhan ekonomi 7 persen. Tidak seperti saat ini, “puas dan bangga” terkurung dalam “labirin” pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen.
Surut ke belakangkah? Tidak. Orang bijak berkata, ”Sejauh-jauhnya terbang bangau pulangnya ke kubangan jua”. “Sejauh-jauh bujang merantau kelak akan pulang ke kampung juga”. Banyak yurisprudensi yang dapat menjadi rujukan. Lihatlah Letjen TNI Purn Edi Rahmayadi yang rela melepas Tongkat Komando Pangkostrad-nya. Diletaknya jabatan karir itu demi Provinsi Sumatera Utara lebih baik. Lihatlah Gubernur Provinsi Maluku Irjen Pol Purn Murad Ismail. Banyak lagi contoh-contoh yang sudah ada.
Sejarah juga pernah mencatatkan Ranah Minang ini Gubernur Pertamanya adalah seorang Perwira Polri. Brigjen Pol Purn Kaharudin Dt Rangkayo Basa yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kepolisian Sumatera Tengah ditunjuk menjadi Gubernur Provinsi Sumatera Barat yang pertama (tahun 1958-1965). Kini, dengan gelar adat yang sama Komjen Pol Purn Boy Rafli Amar Dt Rangkayo Basa juga diminta untuk pulang ke kampung oleh publik Sumatera Barat. Akankah sukses Datuak Rangkayo Basa sebelumnya bisa diulangi oleh Boy Rafli Amar? Kita tunggu saja Pilkada 2024.
Jenderal Familiar
Siapa yang tak mengenal Komjen Pol Purn Boy Rafli Amar Dt Rangkayo Basa. Di mata publik nusantara ini Boy Rafli Amar dikenal sebagai Jenderal akademik. Tutur kata yang runut dan runtut membuat sosok Boy Rafli terkesan sebagai perwira tinggi Polri yang cerdas dan bernas.
Di mata masyarakat Sumatera Barat Boy Rafli Amar juga begitu. Boy bukanlah sosok yang asing. Terlahir dari rahim “darah biru” (trah keluarga Haji Agus Salim) membuat potensi pemimpin tumbuh baik dalam diri Boy Rafli Amar Dt Rangkayo Basa. Dua tahun menjabat sebagai Kapoltabes Padang membawa banyak perubahan di Mapolresta. Kedekatan dengan masyarakat membuat Mapolresta Padang kala itu jauh dari kesan angker dan sangar.
Walau tak begitu lama ditugaskan di Padang, namun sosok Boy Rafli sangatlah familiar di mata publik Sumatera Barat. Kedekatannya dengan masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama Insan Pers (media) membuat nama Boy Rafli Amar menjadi role model bagi anak Minang yang meniti karir di institusi Bhayangkara negara.
Perjalanan karir Boy di Polri pun terbilang moncer. Jebolan Akpol 1988 ini tercatat pernah memangku jabatan penting di institusi Polri. Mulai Perwira Pertama (Letnan-Kapten), Perwira Menangah (Mayor-Kolonel) hingga ke perwira tinggi (Brigjen-Komjen). Sejumlah jabatan mentereng pun pernah dipangku. Baik di Ranah maupun di Rantau. Ketika berpangkat pamen senior Boy Rafli Amar diamanahkan menjadi Kapoltabes Padang sebelum ditarik ke Mapolda Metro menjadi Kabid Humas. Di sinilah kemampuan berdiplomasi Boy Rafli Amar sebagai anak Minang kian terbukti.
Hadir sebagai jubir institusi Bhayangkara negara di saat sulit mampu dilewati Boy Rafli Amar dengan baik. Satu per satu informasi “negatif” yang mendera Polri kala itu mampu diimbangi dengan baik. Kalaulah kita mau jujur, di era beliaulah posisi jubir mengalami ujian terberat. Di era beliau pulalah bidang Humas di institusi Bhayangkara negara mendapat perhatian lebih.
Divisi Humas yang sebelumnya tidak segreget divisi di institusi Bhayangkara negara berubah menjadi bertajir. Pangkat seorang Kadiv Humas pun dinaikkan hingga menjadi bintang 2. Dari sinilah Karir Boy kian menanjak. Dari Kabid Humas Polda Metro Jaya, promosi menjadi Kapolda Banten, kembali ke Kadiv Humas Mabes Polri hingga menjabat Kapolda Papua hingga berlabuh menjadi Kepala BNPT dengan pangkat Komjen Pol (bintang 3) menggantikan seniornya Komjen Pol Purn Suhardi Halius (putra Solok).
Itu di jalur Polri. Di mata masyarakat adat bagaimana? Tidak jauh berbeda. Boy Rafli Amar tercatat sebagai salah satu dari sembilan (penghulu kaum) bersuku Koto, di Koto Gadang, Kabupaten Agam. Cicit dari Aman Majdoindo ini bertali darah dengan pahlawan nasional asal Koto Gadang H Agus Salim. Potensi leadhership, terwaris dari garis ibu inilah mengalir dalam tubuh pada Boy Rafli Amar.
Terus terang Sumbar membutuhkan orang seperti Boy Rafli Amar. Kepiawaian berdiplomasinya juga sudah teruji dan mumpuni. Sumbar membutuhkan seorang “dirijen” yang mampu “mengorkestrakan” seluruh potensi terutama antara ranah dengan rantau yang saat ini tersumbat dan nyaris terputus.
Sumbar Saat Ini
Lain dulu, lain sekarang. Sumbar hari ini tidak lagi menjadi pionir. Beragam ketertinggalan menyungkupi ranah yang kita cintai ini.
Kita tertinggal dalam banyak hal. Mulai dari perekonomian, infrastruktur, pendidikan maupun perdagangan. Ini bukan hanya sebatas justifikasi. Banyak data dan fakta ilmiah yang dapat menunjukan itu. Searching lah!! dan bacalah data itu satu per satu. Kalau tak percaya juga, pulang kampunglah dan perbandingkan dengan provinsi tetangga. Majukah atau tertinggalkah kita?
Sebagai anak Minang, berpantang bagi kita untuk mengeluh dan menyerah seperti itu saja. Harus ada langkah maju guna menjemput ketertinggalan. Sumatera Barat hari ini membutuhkan pemimpin yang visioner. Seorang pemimpin yang bisa merajut setiap potensi antara ranah dan rantau. Sumbar membutuhkan pemimpin yang memiliki akses dan jejaring nasional maupun internasional. Komjen Pol Purn Boy Rafli Amar memiliki itu semua. Tanpa akses dan jejaring itu Sumbar tak akan bisa bangkit dan menjemput ketertinggalannya. Sumbar membutuhkan capital inflow untuk menutupi APBD yang “secuil” itu.
Semua kita sepakat membangun Sumbar ini tak bisa hanya dengan mengandalkan APBD “secuil” tersebut. Sumbar membutuhkan capital inflow untuk membangun infrastruktur. Apakah melalui APBD maupun investasi swasta. Inilah yang tak mampu kita lakukan selama ini. Sepuluh tahun terakhir nyaris tak ada investasi baru yang masuk selain pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi oleh Supreme Energy di Kabupaten Solok Selatan.
Minim potensikah kita? Tidak. Kita ini negeri kaya. Zamrud Khatulistiwa, surga yang terjatuh ke bumi dan macam-macamlah label yang dilekatkan. Namun, potensi itu masih terpendam dan terkubur. Sumbar membutuhkan “injeksi” untuk menggali dan mengkapitalisasikannya.
Sebetulnya, banyak sekali potensi Sumatera Barat ini yang belum mampu dimaksimalkan. Apakah itu di sektor pertanian, pendidikan, perdagangan, pariwisata maupun potensi mineral dalam perut bumi ranah Minang. Mulai dari minyak bumi dan gas alam, emas dan tembaga, batu bara dan biji besi. Semuanya terbenam dalam perut bumi Minangkabau ini.
Terakhir, resapi petuah ini. “Ka ratau madang di hulu, babuah bungo balun, ka rantaulah bujang dahulu, di kampuang paguno balun”. Kini sudah tiba masanya “Bujang” dibutuhkan kampung halaman. Pulang dan abdikanlah sisa hidup untuk kampung halaman mu “Jenderal Datuak Rangkayo Basa”! (***) Editor : Hendra Efison