Oleh: Shofwan Karim, Pengamat, Penulis Esai dan Dosen UM Sumbar
PADEK.JAWAPOS.COM-Timur Tengah adalah panggung paradoks yang tak pernah sepi: tanah yang diberkahi sumber daya, tetapi dihantui kekurangan rasa aman.
Dentuman misil dan drone pada 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran, bukan hanya mengguncang langit Teheran, tetapi juga menebarkan getar ke seluruh Teluk Persia.
Dunia terperanjat ketika balasan Iran tidak berhenti pada Israel dan pasukan Amerika, melainkan merambah ke beberapa negara Teluk.
Mengapa negeri-negeri yang tampak netral ikut terseret? Jawabannya terletak pada jalinan geopolitik: pangkalan militer, jaringan logistik, dan infrastruktur perang Amerika bersemayam di tanah Teluk.
Baca Juga: Cuaca Sumbar Hari Ini 8 Mei 2026: 6 Kota Diguyur Hujan Ringan, Pariaman Berawan
Bagi Iran, serangan balasan bukan sekadar aksi militer, melainkan pesan politik: ancaman terhadap kedaulatan tidak mengenal batas negara.
Mosaik Teluk: Lebih dari Sekadar Peta
Istilah “Negara Teluk” sering dipahami sebagai semua negeri yang mengelilingi Teluk Persia. Namun secara politik, hanya enam negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council): Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.
Iran dan Irak, meski berbatasan langsung dengan Teluk, tetap berada di luar lingkaran ini. Perbedaan ideologi dan sejarah menjadi tembok pemisah. Iran dengan republik Islamnya berdiri di luar monarki Arab yang konservatif.
Baca Juga: Korban Kebakaran Simpang Pogang Terima Santunan Rp5 Juta, 3 KK Dibantu Logistik
Irak, pasca pergolakan panjang setelah tumbangnya Saddam Hussein, belum menemukan pijakan stabil di antara tetangga Teluknya. Populasi kawasan ini memperlihatkan kontras yang tajam. Iran berpenduduk sekitar 93 juta jiwa, Irak 48 juta, sementara total enam negara GCC hanya 62 juta jiwa.
Dari jumlah itu, lebih dari separuhnya adalah pekerja asing. Di UEA, Qatar, dan Kuwait, warga lokal bahkan menjadi minoritas di negeri sendiri. Fenomena ini melahirkan struktur sosial yang rapuh: negara kaya minyak tetapi bergantung pada tenaga migran. Paradoks Teluk pun tersingkap: kemakmuran ekonomi tidak selalu seiring dengan keteguhan sosial.
GCC: Benteng Monarki di Tengah Badai
Didirikan pada 25 Mei 1981 di Riyadh, GCC lahir dari kebutuhan solidaritas menghadapi ancaman eksternal, terutama revolusi Iran 1979 yang mengguncang monarki Arab. Piagam GCC menegaskan integrasi ekonomi, sosial, dan keamanan.
Baca Juga: Sekda Definitif Dharmasraya Dilantik, Medison Resmi Jabat per 2026
Mereka berupaya menyatukan kebijakan perdagangan, bea cukai, dan industri, serta membangun sistem pertahanan bersama. Namun di balik semangat itu, tersimpan ketegangan laten: sebagian anggota GCC menjalin hubungan ekonomi dengan Iran, sementara yang lain menjadi sekutu dekat Amerika.
Arab Saudi, sebagai pemimpin de facto GCC, kerap menempatkan diri sebagai penyeimbang antara kepentingan Barat dan solidaritas Islam. Uni Emirat Arab dan Qatar, dengan diplomasi aktif, memilih jalur pragmatis.
Oman dan Kuwait tampil moderat, menjadi mediator dalam konflik regional. Bahrain, kecil namun strategis, menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika. Maka, ketika Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Teluk, pesan yang tersirat jelas: “Selama pangkalan Amerika ada di tanah Arab, tidak ada tempat yang benar-benar netral.”
Baca Juga: Pemerintah Hidupkan Dana Stabilitas Obligasi, Juga Percepat Penerbitan Panda Bond di Tiongkok
Iran: Antara Kemandirian dan Isolasi
Iran memandang dirinya sebagai pusat peradaban dan kekuatan moral kawasan. Sejak revolusi 1979, negeri ini menolak dominasi Barat dan menegaskan kemandirian politik. Namun sikap itu membuatnya terisolasi.
Sanksi ekonomi, embargo minyak, dan tekanan diplomatik menekan rakyatnya, tetapi juga menumbuhkan ketahanan nasional yang luar biasa. Dalam konteks serangan Amerika–Israel, Iran membalas bukan hanya demi kehormatan, melainkan untuk menegaskan bahwa ia tetap pemain utama di Timur Tengah.
Hubungan Iran dengan negara Teluk selalu ambivalen: persaingan sekaligus kebutuhan. Mereka bersaing dalam pengaruh ideologis dan militer, tetapi saling bergantung dalam perdagangan energi dan keamanan maritim.
Baca Juga: Antrean Panjang BBM Ganggu Aktivitas Warga
Jalur pelayaran di Teluk Persia adalah urat nadi ekonomi global. Setiap ketegangan di sana langsung memengaruhi harga minyak dunia. Perdamaian di kawasan ini bukan hanya kepentingan regional, melainkan kepentingan planet.
Mungkinkah Lebih Damai?
Pertanyaan ini menggantung seperti debu pasca ledakan. Mungkinkah negara Teluk dan Iran hidup berdampingan tanpa curiga? Jawabannya bergantung pada keberanian politik untuk keluar dari bayang-bayang sejarah.
Selama konflik dianggap warisan yang harus dipertahankan, perdamaian akan tetap utopia. Namun jika para pemimpin mampu melihat masa depan sebagai ruang bersama, bukan medan perebutan, harapan itu bisa tumbuh.
Baca Juga: Irman Gusman: Green Economy Jadi Arah Baru Pembangunan Daerah
Langkah kecil sudah tampak: dialog ekonomi lintas batas, kerja sama energi, dan pembicaraan keamanan maritim. Oman dan Qatar sering menjadi jembatan komunikasi antara Teheran dan Riyadh. Bahkan, generasi muda di Teluk mulai memandang Iran bukan musuh, melainkan tetangga dengan sejarah dan budaya serumpun.
Teluk Bergolak Menuju Teluk Bersahabat
Timur Tengah adalah laboratorium sejarah manusia—tempat agama, politik, dan ekonomi bertemu sekaligus bertabrakan. Konflik di Teluk Persia bukan sekadar perebutan minyak atau pengaruh, tetapi pertarungan identitas dan makna. Namun setiap luka sejarah menyimpan peluang penyembuhan.
Jika negara Teluk dan Iran mampu menukar dendam dengan dialog, mengganti pangkalan militer dengan pusat riset, dan menjadikan energi sebagai alat kerja sama, bukan senjata tekanan, maka perdamaian bukan lagi mimpi.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Cetak 100 Gol untuk Al Nassr, Dekati Gelar Liga Saudi
Dunia menunggu saat ketika Teluk Persia tidak lagi menjadi simbol ketegangan, melainkan cermin kebijaksanaan. Seperti pepatah Arab: “Air Teluk yang tenang menyembunyikan mutiara.”
Semoga mutiara itu kelak bernama Damai Sejati—buah dari keberanian manusia meninggalkan dendam sejarah, dan memilih jalan kebijaksanaan. (*)
Editor : Novitri Selvia