Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Upiak Manih, Ibu Yang Merana di Usia Tua

Novitri Selvia • Senin, 8 Mei 2023 | 11:25 WIB
Ilustrasi.(Reza/Padek)
Ilustrasi.(Reza/Padek)
Anak adalah harapan di hari tua. Ketika semua fungsi tubuh mengalami penurunan, kita butuh pertolongan. Namun ada sebagian keluarga yang tidak mau repot mengurus orangtuanya.

Panti jompo menjadi pilihan. Padahal mereka mempunyai banyak saudara se-ayah dan se-ibu. Upiak Manih adalah satu dari sekian banyak ibu yang merana di panti jompo. Bagaimana ceritanya?

Upiak Manih (bukan nama sebenarnya), 72, duduk paling pojok, matanya sembap ketika seorang ustad datang untuk mengisi tausiah ke salah satu panti jompo dimana ia dititipkan anak-anaknya.

Batinnya menangis, hatinya menjerit. Selama ini ia masih bisa menahan air mata, tapi ketika ustad itu datang mengisi tausiah ke panti jompo, Upiak Manih tidak bisa menahan kerinduannya terhadap keluarga.

“Hari ko, ambo ndak bisa menahan aia mato, dek ceramah ustad manusuak bana di hati, apalagi tentang anak-anak,” ujarnya lirih.

Upiak Manih memilik 7 orang anak. Bahkan 3 dari anak nenek Upiak Manih itu menjadi ASN yang sudah mempunyai jabatan di kantornya. Kemudian 4 orang lagi, ada yang sudah jadi pengusaha dan juga seorang guru. Namun sayang ketujuh anaknya itu bersepakat menitip nenek Upiak Manih di panti jompo.

Sebelum suami Upiak Manih meninggal, ia masih bisa hidup normal, karena suaminya waktu itu masih bisa bekerja dan merawatnya yang sudah tidak bisa berjalan lagi. “ Waktu itu ayah anak-anak masih bisa bekerja di kebun, tapi setelah ia meninggal semuanya jadi berubah,” jelasnya.

Apa isi tauziah ustad sehingga membuat nenek Upiak Manih menangis? Kata ustad, bagi masyarakat yang memiliki orang tua yang sudah lanjut usia agar merawatnya secara maksimal. Kalau masih bisa di rawat, kenapa harus diserahkan ke panti jompo.

“Kita sudah dibesarkan dan didik, kenapa kita tega menitip orangtua kita ke panti jompo. Lain halnya kalau memang tidak ada keluaga sama sekali, alias sebatang kara,” ujar ustad serius.

Berdasarkan sebuah hadist, kata ustad, di saat tua itulah kita bisa mendapatkan pahala kemuliaan melalui pengabdian kepada orangtua. Surga berada di bawah telapak kaki ibu. “Ridha Allah bergantung ridha orangtua,” jelasnya lagi.

Di saat itulah air mata nenek Upiak Manih yang selalu kelihatan tegar itu meleleh. Meskipun ia selalu berusaha untuk menahan air mata. Ia mengatakan saat diantar anaknya ke panti jompo, ia tidak tahu dan anak-anaknya juga tidak pernah mengatakan akan menitipkannya di panti jompo.

“Waktu itu hanya diajak jalan-jalan, kemudian sudah sampai saja di sini,” ujar Nenek Upiak Manih sambil menahan tangis.

Apalagi yang membuat nenek Upiak Manih sedih tentang bunyi suratnya kepada pengurus panti jompo itu. “Kami bersepakat menyerahkan perawatan orangtua kami ke panti jompo karena kesibukan kami masing-masing,” demikian bunyi surat itu.

Padahal kata nenek Upiak Manih, ketika mereka masih kecil-kecil apapun kami jual, mulai dari kayu bakar, hasil panen sawah bahkan baju-baju peninggalan orangtua pun kami jual untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Termasuk biaya sekolah. Karena kami ingin mereka tidak “bansaik” seperti kami.

“Tapi kini, apa yang mereka balaskan pada saya, mudah-mudah mereka bisa tobat sebelum ajal menjemput nyawa ” ujarnya sedih.

Kini di atas kursi roda nenek Upiak Manih hanya bisa mendoakan semua anaknya agar sehat-sehat saja. Ia pun mengoreksi dirinya. Mungkin sedari kecil karena pahit dan sulitnya hidup, kebutuhan rohaninya anak-anaknya tidak terperhatikan dengan baik.

Sehingga setelah besar mereka tidak mengetahui petapa pentingnya merawat orangtua sepanjang hidupnya. “Bukan diserahkan ke panti jompo ini,” jelasnya. “Tapi biarlah, karena Allah SWT itu tidak pernah tidur,” ujarnya pasrah sambil mengatakan semua sudah diatur oleh Allah SWT. (Jufri) Editor : Novitri Selvia
#Ibu Yang Merana di Usia Tua #Jufri #Upiak Manih