Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pertemanan Rusak Gara-Gara Utang

Novitri Selvia • Kamis, 11 Mei 2023 | 10:56 WIB
Ilustrasi.(Reza/Padek)
Ilustrasi.(Reza/Padek)
Utang sering menjadi pemecah hubungan baik kita dengan orang. Maka jika berutang, kembalikanlah sesuai waktu yang dijanjikan. Namun tidak demikian dengan Ujang (nama samaran). Seperti apa ceritanya?

Selama 4 tahun terakhir, hubungan pertemanan antara Ujang dan Dudi (nama samaran) berjalan dengan baik. Tidak ada permasalahan yang timbul satu sama lain. Pertemanan itu sudah dimulai saat mereka duduk di bangku SMA. Sampai mereka berdua bekerja di instansi masing-masing.

Dudi dan Ujang selalu seiya dan sekata. Bak sepasang sepatu, tidak terpisahkan. Meskipun semasa SMA tidak satu kelas namun di kampus mereka ditakdirkan untuk berada di dalam kelas dan jurusan yang sama.

Hal ini tentu membuat mereka kembali sejalan, baik itu dalam mengerjakan tugas, mencari buku, hingga ketika ujian pun mereka saling contekan (jangan ditiru). Bahkan jika salah satu mendapat hukuman, maka satunya lagi juga ikutan dihukum.

Hingga akhirnya, mereka jarang bertemu setelah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dudi diterima bekerja di salah satu perusahaan BUMN di Kota Bengkuang. Sementara Ujang, masih berusaha memasukkan surat lamaran kerja ke berbagai tempat.

Setahun Dudi bekerja, tidak sengaja kembali bertemu dengan Ujang yang kebetulan berprofesi sebagai driver ojek online (ojol). Di situlah mereka pun kembali bercerita mengenang masa lalu. Pertemuan itu berlangsung ketika Dudi hendak pulang kerja, pesan ojol dan kebetulan driver ojolnya adalah Ujang, teman lamanya.

“Sehat lu bro? Lama nggak terlihat batang hidung lo,” tanya Dudi. “Ya gini bro, gue mah harus sehat,” jawab Ujang sambil tertawa.

20 menit di perjalanan, mereka pun sampai di kediaman Dudi. Usai pertemuan itu, mereka pun saling menyimpan nomor kontak satu sama lain. Perbincangan pun kembali terjalin, setelah sekian lama saling hilang kabar.

Hubungan pertemanan diantara mereka pun perlahan kembali mulai erat seperti sebelumnya. Karena sama-sama masih lajang, mereka juga saling bertemu atau nongkrong. Suatu hari, mereka pun duduk di sebuah tempat minum saling bercengkrama perihal kehidupan masing-masing.

“Gue ya gini bro. Siang malam kalau dirasa masih sanggup ya tetap jalan ojol-nya. Karena kan kerjanya tidak dibatasi,” tutur Ujang ketika ditanyai perihal pekerjaan oleh Dudi.

“Enak lu bro, bisa nyantai. Capek istirahat, bugar balik lagi nyari cuan. Lah gua nggak masuk, nggak makan,” tukas Dudi menyela perkataan Ujang. Mereka pun bercerita panjang lebar, sambil tertawa terbahak-bahak. Karena mengingat masa-masa sekolah yang konyol.

Dua jam bercerita diselingi main game, percakapan pun jadi hening karena salah satu kalimat yang disampaikan Ujang. “Bro, gini bro. Sebenernya gue juga malas sampein ini ama lu. Tapi gue kepaksa, bokap gue lagi sakit. Dan sekarang butuh biaya buat berobat sekitar Rp 2,5 juta. Tapi kurang Rp 1 juta lagi,” ucap Ujang.

Dengan maksud tujuan hendak meminjam kekurangannya pada Dudi. Mendengar itu pun Dudi sempat terdiam beberapa menit. “Hmm sakit apa bokap lu? Sejak kapan?” tanya Dudi. Ujang pun mengatakan sejak sebulan terakhirnya ayahnya sudah sakit. Namun tidak dirawat, karena kekurangan biaya.

Mendengar penjelasan itu, Dudi yang orangnya mudah merasa iba langsung meminjamkan Ujang uang sesuai yang dibutuhkan Ujang. Sampai pukul 12.00, mereka pun pulang ke kediaman masing-masing.

Seminggu usai pertemuan itu, Dudi yang berniat baik ingin tahu kondisi ayahnya Ujang malah mendapat respons yang tidak enak dari Ujang. “Bro, gimana bokap lu? Pengobatannya lancar nggak?” tanya Dudi melalui pesan Whatshap.

“Aman bro. Utang gue ingat kok. Lu nggak perlu khawatir,” jawab Ujang. Mendapati pesan itu Dudi pun merasa jengkel, karena tujuannya mengirim pesan tulus ingin menanyakan kesehatan ayah si Ujang. Tidak merasa senang dengan respons Ujang, Dudi pun tidak merespons balik pesan itu.

Sebulan kemudian, karena bertepatan dengan jelang Hari Raya Idul Fitri momen dimana setiap orang membutuhkan uang untuk persiapan THR keluarga, Dudi teringat bahwa Ujang berjanji akan membayar hutangnya seminggu setelah ia menanyakan kabar ayah Ujang.

Namun, ketika dihubungi berkali-kali, Ujang tidak pernah merespons pesan Dudi. Bahkan ketika ditelpon pun, Ujang selalu menolak panggilannya. Perasaan kecewa pun kembali timbul dalam hati Dudi.

Di hari bersamaan, ketika keluar dari kantor. Dudi pun melihat ibu dan ayah Ujang sedang berjalan membawa barang belanjaan dari supermarket di sebelah kantor Dudi. Ia pun menghampiri kedua orangtua tersebut, dan menyapanya dengan sopan.

“Pak, ibu, apa kabar? Sehat?” tanya Dudi saat menghampiri kedua orangtua Ujang. “Eh nak Dudi, Alhamdulillah kita sehat. Nak Dudi dari mana? Pulang kerja ya?” tanya ayah Ujang.

“Iya pak, baru aja keluar kantor. Pak sebulan yang lalu kabarnya bapak masuk rumah sakit. Bapak sakit apa?” tanya Dudi.

“Lah, siapa yang sakit nak? Wong bapak masih sehat dan kuat begini,” ucap ayah Ujang sambil tertawa memamerkan otot tangannya. “Haha, bapak ya dari dulu humornya ndak berkurang-kurang,” tukas Dudi sambil tertawa.

“Jadi siapa yang bilang bapak sakit itu?” tanya ayah Ujang yang jadi penasaran. “Enggak pak, mungkin orang yang nyampein informasi salah kali ya,” jawab Dudi dengan perasaan dalam hati mulai memanas karena merasa dibohongi sahabat sendiri.

Ayah Ujang pun mengatakan kalau sekarang si Ujang sudah lama tidak pulang sejak sebulan yang lalu pergi merantau ke luar kota. Sesampainya di rumah pun, Dudi langsung kembali menelpon Ujang.

Tapi nomornya sudah tidak aktif dan WA-nya pun hanya centang satu. Sejak saat itu pun, Dudi berjanji tidak ingin lagi meminjamkan uang kepada siapapun. Setelah merasa dibohongi. Uang habis teman pun hilang. (Dewi Fatimah) Editor : Novitri Selvia
#Dewi Fatimah #gara-gara utang #Pertemanan Rusak