Tangannya tak pernah lepas dari jarum besar, benang nilon, lem sepatu, dan mesin jahit tua yang setia menemaninya sejak puluhan tahun silam.
“Saya di sini sudah sejak tahun 1980. Awalnya buka juga di tempat ini,” tutur Nurkias sambil memperbaiki sol sepatu kulit yang mulai mengelupas, Kamis (30/10/2025).
Lapak kecilnya yang sederhana menjadi saksi perjalanan panjang profesi tukang sol di tengah perubahan zaman. Di masa jayanya, sebelum pandemi Covid-19, pelanggan datang silih berganti.
“Sebelum Covid itu saya biasanya bisa dapat Rp500 ribu per hari. Tapi sekarang Rp100 ribu saja sudah syukur, kadang-kadang pun tidak ada,” ujarnya.
Pandemi menjadi masa paling sulit dalam hidupnya. Selama pembatasan sosial, jalanan sepi, dan pelanggan nyaris tak ada.
“Waktu itu sepi sekali, orang nggak keluar rumah, jadi tidak ada yang butuh sol sepatu. Berat sekali rasanya,” kenangnya.
Setelah pandemi mereda, pelan-pelan pelanggan mulai berdatangan lagi, meski tak seramai dulu.
“Awalnya cuma satu dua orang yang datang. Tapi sampai sekarang belum seperti dulu, beda jauh,” katanya.
Meski begitu, Nurkias tak pernah berpikir untuk berhenti. Ia meyakini setiap jahitan yang ia buat adalah bentuk ketekunan dan tanggung jawab.
“Kalau hasilnya jelek, pelanggan bisa kecewa. Jadi saya kerjakan pelan-pelan tapi rapi,” ucapnya sambil menatap hasil sol yang baru ia selesaikan.
Bagi Nurkias, pekerjaan ini bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga warisan keahlian yang ia jaga selama 45 tahun.
“Selama tangan saya masih kuat menjahit, saya akan terus melanjutkan pekerjaan ini. Hidup dijalani saja, yang penting dari hati,” katanya dengan senyum tenang.
Dari bawah tenda di pinggir jalan itu, Nurkias mengajarkan arti ketekunan yang sesungguhnya: bahwa kesetiaan pada kerja bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang menjaga nilai dan kehormatan dari sebuah keterampilan yang telah menemani hidupnya hampir setengah abad. (Fadli Zikri/cr6)
Editor : Hendra Efison