Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mendengar Nada Rabab di Tengah Kota: Masih Bernyanyi untuk Tradisi dan Kehidupan

Muhammad Reza Bayu Permana • Rabu, 12 November 2025 | 10:34 WIB

Syafrizal dan Rahman Dani memainkan rabab di kawasan Jalan Pattimura Padang, Senin (10/11) malam.
Syafrizal dan Rahman Dani memainkan rabab di kawasan Jalan Pattimura Padang, Senin (10/11) malam.
Malam telah larut di ibu kota Sumatera Barat, namun di sudut Jalan Pattimura, denting nada rabab, alat musik tradisional Minangkabau, masih menggema, mengisi ruang sunyi dengan melodi khas pesisir. Alunan biola tradisional itu dimainkan oleh Syafrizal, 23, akrab disapa Ihsan, diiringi rekannya Rahman Dani, 43, yang menjaga irama dengan tabuhan gandang. Seperti apa ceritanya?

Muhammad Reza Bayu, Padang—

Dua seniman jalanan ini bukan sekadar menghibur pejalan kaki yang melintas, tetapi juga memperjuangkan eksistensi seni tradisional Minangkabau di tengah gempuran modernitas kota Padang.

Dengan alat musik sederhana dan panggung seadanya, mereka mempertahankan warisan budaya yang kian jarang dijumpai.

Ihsan tampil sebagai pemain utama rabab. Ia memainkan instrumen khas pesisir Sumatera Barat itu dengan penuh perasaan, menghasilkan nada-nada mendayu yang membangkitkan nostalgia kampung halaman bagi pendengar yang berhenti sejenak menikmati penampilannya.

Sementara itu, Rahman Dani menabuh gendang dengan ritme stabil dan energik, memperkuat nuansa tradisional dalam setiap lagu yang dibawakan.

Bagi Ihsan, rabab bukan sekadar alat musik. Ia telah mengenalnya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Berawal dari rasa ingin tahu dan kecintaannya pada musik tradisional, kemampuan itu kini menjadi keahliannya yang paling berharga.

“Kesenian ini adalah satu-satunya yang saya punya. Setiap gesekan dan melodi ini saya jual untuk menghidupi keluarga dan kehidupan saya di rantau,” ujar Ihsan saat ditemui Padang Ekspres, Senin malam (10/11).

Ihsan mengaku telah enam tahun merantau dari pesisir ke Padang, dan sejak itu, musik tradisional menjadi sumber penghidupannya. Ia kini menanggung nafkah keluarga dari hasil bermain rabab di pinggir jalan bersama rekannya. Setiap nada yang ia mainkan bukan hanya bentuk ekspresi seni, tetapi juga perjuangan hidup.

“Sudah enam tahun saya merantau dari pesisir ke Padang. Dari dulu sampai sekarang, rabab ini yang jadi pegangan saya. Dari sinilah dapur saya mengepul,” tuturnya.

Bersama Dani, ia menampilkan harmoni yang tidak hanya menghibur tetapi juga sarat makna. Dalam setiap pertunjukan, keduanya bergantian peran, kadang Ihsan yang memainkan rabab dan Dani yang mendendangkan lagu, kadang sebaliknya.

“Kadang saya yang bermain rabab, kadang juga teman saya. Yang mendendang (menyanyi) juga kami lakukan bergantian,” jelas Ihsan.

Ihsan dan Rahman Dani, melalui penampilan sederhana mereka di Jalan Pattimura, menjadi simbol perjuangan seniman lokal.

Mereka tidak hanya menjaga api tradisi Minangkabau tetap menyala, tetapi juga menunjukkan ketangguhan seorang perantau yang menggunakan warisan budayanya sebagai jalan untuk memenuhi tanggung jawab keluarga. (*)

Editor : Adetio Purtama
#bernyanyi #Rabab #tengah kota #nada #jalan pattimura #Kehidupan #tradisi #padang