Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Ikon Budaya hingga Ruang Publik, Daya Tarik Jembatan Siti Nurbaya Padang

Mengki Kurniawan • Jumat, 19 Desember 2025 | 11:09 WIB

Suasana senja hari yang mempesona di kawasan Jembatan Siti Nurbaya, Batang Arau, kemarin.
Suasana senja hari yang mempesona di kawasan Jembatan Siti Nurbaya, Batang Arau, kemarin.
PADEK.JAWAPOS.COM–Jembatan Siti Nurbaya berdiri kokoh membentang di atas Batang Arau, Kota Padang, Sumatera Barat. Selain berfungsi sebagai penghubung antara kawasan Kota Tua Padang dan kaki Gunung Padang, jembatan sepanjang 156 meter ini telah menjelma menjadi salah satu ikon wisata yang tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat Minangkabau.

Jembatan ini mulai dibangun pada tahun 1995 dan diresmikan pada pertengahan tahun 2002. Peresmian tersebut menjadi momen bersejarah dan penuh kemeriahan karena dihadiri langsung oleh pemeran utama serial legendaris Sitti Nurbaya, yakni Novia Kolopaking serta HIM Damsyik yang memerankan tokoh Datuk Maringgih.

Sejak dioperasikan, Jembatan Siti Nurbaya menggantikan peran sampan yang sebelumnya menjadi alat transportasi utama warga untuk menyeberangi Sungai Batang Arau. Kehadiran jembatan ini memberikan akses yang lebih cepat dan aman, sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan wisata di sekitarnya.

Nama Jembatan Siti Nurbaya sendiri diambil dari tokoh utama novel klasik Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli. Pemilihan nama tersebut dinilai sangat relevan karena lokasinya berdekatan dengan Gunung Padang, yang dalam kisah novel tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir tokoh Siti Nurbaya.

Pada sore hari, jembatan ini kerap menjadi titik kumpul favorit warga, khususnya kalangan anak muda, untuk melepas penat setelah beraktivitas. Dari atas jembatan, pengunjung dapat menikmati pemandangan matahari terbenam dengan latar laut lepas serta perahu-perahu nelayan yang bersandar di muara sungai, menghadirkan suasana yang tenang dan menenangkan.

Memasuki malam hari, Jembatan Siti Nurbaya berubah menjadi lebih semarak dengan gemerlap lampu warna-warni yang menghiasi sisi jembatan. Deretan pedagang jagung bakar, pisang bakar, hingga sate Padang mulai memenuhi kawasan sekitar, menawarkan kuliner khas dengan harga terjangkau yang semakin menarik minat pengunjung.

Pantauan Padang Ekspres kemarin, keramaian terlihat di sepanjang trotoar jembatan. Salah seorang pengunjung, Andrean Putra, 24, mengaku sering menghabiskan waktu di lokasi tersebut bersama teman-temannya. Menurutnya, Jembatan Siti Nurbaya menjadi ruang publik yang nyaman untuk bersantai dan berbincang.

“Tempat ini sudah jadi pilihan utama kalau mau nongkrong santai. Udaranya segar karena dekat sungai dan laut, pemandangannya juga tidak membosankan. Cocok sekali untuk kami yang ingin cari suasana luar ruang tanpa harus mengeluarkan biaya mahal,” ujar Andrean.

Namun, di balik pesonanya, Jembatan Siti Nurbaya masih menyisakan sejumlah persoalan yang dirasakan pengunjung. Salah satunya adalah larangan parkir di atas jembatan. Aturan ini diberlakukan untuk mencegah kemacetan, namun membuat sebagian pengunjung harus berjalan cukup jauh karena kendaraan harus diparkir di area bawah jembatan.

Selain persoalan parkir, aspek keamanan dan ketertiban juga menjadi sorotan pengunjung. Praktik pungutan liar yang diduga dilakukan oleh oknum tertentu masih dikeluhkan. Padahal, secara resmi kawasan jembatan tersebut tidak diperuntukkan sebagai area parkir.

Keluhan serupa disampaikan pasangan muda, Muhammad Fadhil, 21, dan Rania Putri Hamid, 21. Keduanya mengaku merasa kurang nyaman dengan keberadaan juru parkir liar yang kerap meminta uang meskipun mereka hanya berhenti sebentar untuk berfoto atau menikmati pemandangan.

“Pemandangannya sangat bagus, apalagi lampu-lampunya cantik kalau malam. Tapi jujur, kami merasa kurang nyaman dengan adanya pungli. Kadang baru sebentar berhenti, sudah ada yang menagih uang parkir dengan nada kurang ramah, padahal jelas-jelas di sini dilarang parkir,” ungkap Fadhil yang diamini oleh Rania.

Meski masih dihadapkan pada persoalan pengelolaan parkir dan ketertiban, daya tarik Jembatan Siti Nurbaya tetap tidak berkurang. Sebagai pintu gerbang menuju kawasan wisata Gunung Padang dan Kota Tua, jembatan ini juga menjadi pusat perputaran ekonomi bagi para pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan dari kunjungan wisatawan.

Ke depan, penataan yang lebih tertib dari Pemerintah Kota Padang diharapkan mampu mengatasi persoalan pungutan liar serta menyediakan solusi parkir yang lebih ramah bagi pengunjung. Dengan pengelolaan yang optimal, Jembatan Siti Nurbaya diyakini akan terus menjadi simbol budaya sekaligus tempat nongkrong paling ikonik bagi warga dan generasi muda Kota Padang. (cr3)

Editor : Adetio Purtama
#daya tarik #ikon budaya #ruang publik #padang #Jembatan Siti Nurbaya