Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pengamat Ekonomi: Dampak Bencana dan Turunnya Daya Beli Picu Pasar Tradisional Padang Lesu

Riyadhatul Khalbi • Rabu, 11 Maret 2026 | 11:38 WIB

Aktivitas jual beli di sejumlah pasar tradisional di Kota Padang dilaporkan mengalami kelesuan selama bulan suci Ramadan 2026.
Aktivitas jual beli di sejumlah pasar tradisional di Kota Padang dilaporkan mengalami kelesuan selama bulan suci Ramadan 2026.
PADEK.JAWAPOS.COM—Aktivitas jual beli di sejumlah pasar tradisional di Kota Padang dilaporkan mengalami kelesuan selama bulan suci Ramadan 2026. Kondisi ini berbeda dengan tren pada tahun-tahun sebelumnya yang biasanya ditandai dengan lonjakan transaksi menjelang Hari Raya Idulfitri.

Pantauan lapangan yang dilakukan harian Padang Ekspres menunjukkan aktivitas perdagangan di Pasar Alai relatif sepi. Sejumlah pedagang mengeluhkan menurunnya jumlah pembeli meski Ramadan sudah memasuki pertengahan bulan.

Keluhan serupa juga disampaikan pedagang di kawasan Pasar Lubuk Buaya. Mereka menyebutkan transaksi penjualan selama Ramadan tahun ini jauh menurun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Beberapa pedagang bahkan mulai pesimistis akan terjadi lonjakan pembeli menjelang Lebaran.

Pengamat ekonomi Sumatera Barat, Elfindri, menilai melemahnya aktivitas perdagangan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya dampak bencana alam yang terjadi pada November hingga Desember 2025.

Menurutnya, bencana tersebut berdampak terhadap sekitar lima persen populasi di Sumatra Barat dan memicu efek domino terhadap perekonomian masyarakat. Daerah yang sebelumnya menjadi penghasil barang dan jasa masih belum sepenuhnya pulih sehingga memengaruhi daya beli masyarakat.

“Kelompok masyarakat yang terdampak bencana mengalami penurunan kemampuan ekonomi. Akibatnya permintaan terhadap barang dan jasa ikut menurun, dan efeknya masih terasa hingga Ramadan tahun ini,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (10/3/2026).

Selain faktor bencana, Elfindri juga menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat selama Ramadan. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap barang primer cenderung menurun, sementara permintaan barang sekunder dan tersier meningkat. Namun kondisi daya beli yang relatif melemah membuat kemampuan masyarakat untuk berbelanja tetap terbatas.

Perubahan pola belanja masyarakat juga dinilai turut memengaruhi kondisi pasar tradisional. Di kawasan perkotaan, sebagian konsumen mulai beralih ke transaksi digital dan belanja daring sehingga berdampak pada penurunan aktivitas di pasar konvensional.

“Terjadi pergeseran pola belanja, terutama di kota-kota besar. Sebagian masyarakat mulai menggunakan platform digital sehingga pasar tradisional mengalami tekanan,” katanya.

Di sisi lain, ia menilai sektor perdagangan tradisional juga menghadapi tantangan akibat meningkatnya jumlah pelaku usaha tanpa diimbangi pertumbuhan permintaan. Kondisi ini menyebabkan persaingan semakin ketat dan berpotensi menimbulkan kejenuhan pasar.

Meski demikian, Elfindri menyebut pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat saat ini masih berada di kisaran 3,15 persen dengan pemerataan yang relatif baik dibandingkan beberapa daerah lain.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat program pemberdayaan usaha mikro dan start-up melalui skema pendanaan bagi pelaku usaha super mikro. Selain itu, ia juga menilai program pemerintah seharusnya lebih diarahkan untuk mendukung produksi lokal agar dapat meningkatkan perputaran ekonomi daerah.

Menurutnya, sejumlah program nasional seperti Makan Bergizi Gratis sebenarnya memiliki potensi besar untuk mendorong ekonomi lokal jika produk yang digunakan berasal dari sektor produksi daerah.

“Elaborasi program pemerintah dengan produksi lokal penting agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan oleh masyarakat di daerah,” katanya. (cr4)

Editor : Adetio Purtama
#dampak bencana #Daya Beli Turun #pasar tradisional #padang #pengamat ekonomi