Ia menilai tragedi ini tidak hanya menuntut penegakan hukum, tetapi juga evaluasi menyeluruh terhadap sistem sosial dan budaya di tengah masyarakat.
“Sanksi hukum tentu wajib ditegakkan secara maksimal terhadap pelaku. Tapi ada yang jauh lebih penting, yakni menghidupkan kembali kontrol sosial di tengah masyarakat kita,” ujar Arisal dalam keterangan tertulis, Kamis (20/6/2025).
Menurut Arisal, lemahnya pengawasan lingkungan serta kurangnya perhatian terhadap perilaku generasi muda menjadi salah satu penyebab meningkatnya tindak kejahatan yang brutal.
Ia mengingatkan pentingnya penguatan peran tokoh adat dalam membimbing generasi muda, terutama niniak mamak yang selama ini menjadi pilar pengayom dalam budaya Minangkabau.
“Peran niniak mamak dalam mengayomi dan membimbing generasi muda mutlak harus diperkuat. Jangan sampai kita kehilangan nilai-nilai adat hanya karena terlalu larut dengan perkembangan modern yang tak terarah,” tegasnya.
Ia juga mengajak Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) dan Kerapatan Adat Nagari (KAN) untuk tidak hanya menjalankan fungsi seremonial, tetapi aktif mengambil peran edukatif di tengah masyarakat.
“LKAAM dan KAN jangan hanya seremonial. Harus ada langkah nyata untuk mengedukasi dan membina generasi muda agar tidak terjerumus ke tindakan kriminal seperti ini,” katanya.
Selain itu, Arisal menekankan pentingnya pelibatan tokoh perempuan dalam adat Minangkabau, khususnya Bundo Kanduang, dalam pendidikan karakter anak sejak dini.
“Bundo Kanduang adalah benteng awal pembentukan karakter. Kalau benteng ini roboh, maka akan lahir generasi yang kehilangan arah dan bisa melakukan hal-hal yang tidak manusiawi,” tuturnya.
Di sisi lain, ia mengapresiasi langkah cepat aparat kepolisian dalam mengungkap kasus ini. Menurutnya, penanganan yang sigap sangat penting untuk memberikan keadilan bagi keluarga korban dan meredakan keresahan masyarakat.
“Ini kasus berat, tapi saya apresiasi langkah cepat kepolisian dalam membongkar kasus ini. Mudah-mudahan proses hukumnya berjalan dengan adil dan memberi rasa keadilan bagi keluarga korban,” ucapnya.
Namun demikian, Arisal mengingatkan bahwa pendekatan preventif tetap harus dikedepankan agar kejadian serupa tidak terulang. Ia mendorong pembenahan dari akar, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, hingga peran lembaga adat dan pemerintah.
“Kita tidak bisa hanya reaktif setelah kejadian. Harus ada sistem pencegahan yang kuat, dan itu dimulai dari keluarga, lingkungan, hingga lembaga adat dan pemerintahan,” pungkasnya.
Tragedi ini menjadi momentum refleksi bagi masyarakat Sumatra Barat untuk menilai kembali peran sosial, adat, dan keluarga dalam membentuk generasi muda yang bermoral dan berperilaku baik.(*)
Editor : Hendra Efison