Bencana hidrometeorologis tersebut menelan ratusan korban jiwa dan berdampak luas terhadap masyarakat di tiga provinsi.
Pernyataan belasungkawa itu disampaikan Nevi di Jakarta, Sabtu (29/11/2025). Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk mendoakan para korban serta keluarga yang ditinggalkan.
“Musibah ini bukan hanya deretan angka duka, tetapi juga kisah kehilangan, perjuangan, dan harapan yang diuji. Semoga seluruh korban diberi kekuatan menghadapi cobaan ini,” ujar Nevi.
BNPB Catat 174 Korban Meninggal
Berdasarkan data dari BNPB hingga Jumat (28/11), tercatat sebanyak 174 orang meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor di tiga provinsi tersebut. Dari jumlah itu, korban terbanyak berasal dari Sumatera Utara dengan 116 orang.
Selain korban meninggal, sebanyak 42 orang dilaporkan masih dalam pencarian. Tim gabungan dari berbagai unsur masih melanjutkan upaya pencarian di sejumlah titik terdampak bencana.
Nevi menilai skala bencana ini sudah sangat besar, baik dari sisi korban jiwa maupun kerusakan yang ditimbulkan. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah pusat agar menetapkan peristiwa ini sebagai bencana alam nasional.
“Penetapan status bencana nasional penting dilakukan agar penanganannya dapat dipercepat dan ditangani secara terpadu oleh pemerintah pusat,” tegas politisi dari PKS tersebut.
Investigasi Penyebab Banjir di Sumbar
Secara khusus, Nevi juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab banjir di wilayah nagari.
Menurutnya, pemetaan penyebab menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
“Kita harus menelusuri penyebabnya, mencari fakta, dan memastikan ada solusi nyata bagi masyarakat. Jangan sampai luka ini terulang,” tutup Nevi.
Hingga kini, penanganan darurat di wilayah terdampak masih terus berlangsung, termasuk evakuasi warga, pendistribusian bantuan, serta pemulihan akses jalan dan fasilitas umum.(*)
Editor : Heri Sugiarto